Cuple Work 250 x 306



 

Wisata Hemat Siam Reap Phnom Penh (2)

Petualangan di Negeri Angkor (2)

by Junardi Sarmili & Reny

Sebelum meninggalkan Siem Reap menuju Phnom Penh, masih tersisa waktu untuk melihat Tonle Sap Lake. Danau yang terbesar di South East Asia ini bisa berubah ukuran tergantung musimnya. Di musim surut/panas, ukurannya mengecil menjadi 3000 km2 dengan dalam 1-2 meter, sedang saat musim pasang/hujan ukurannya berubah mencapai 15.000 km2 dalamnya 8-10 meter. Terdapat lebih dari 300 jenis ikan air tawar, diantaranya ikan lele raksasa yang pernah mencapai berat hingga 300 kg, juga berbagai spesies ular, burung, dan buaya Siem. Perkampungan ini dilengkapi juga dengan sekolah, rumah sakit, restoran, peternakan ikan dan buaya, dan toko2 suvenir. Untuk mencapai danau ada sewaan kapal motor seharga 5 USD/orang pulang pergi.

Cover TH Vietnam

Wisata Kuliner Kambodia

Pesawat baling2 Cambodia Angkor Air yang terbang selama 45 menit akhirnya membawa kami tiba di Phnom Penh pada sore hari. Airport domestik ini ukurannya kecil saja tapi arrival area yang dikelilingi kali buatan membuatnya sedikit nyentrik, berbeda dengan yang lain. Dari bandara kami langsung menuju hotel Naga World, komplek kasinonya Cambodia, menyusuri Sihanouk Blvd sampailah ke tugu Independence Monument. Tugu berwarna merah pemberian Perancis yang merupakan pertautan dari 2 jalan protokol, Norodom Blvd dan Sihanouk Blvd, tampak cantik disinari lampu saat malam. Tak sampai 10 menit melewati tugu, kami sudah tiba di Naga World Hotel.

Sebagaimana layaknya hotel kasino, suasana hingar bingar terasa sangat mengemuka. Mungkin tidak akan cocok bagi mereka yang suka suasana tenang, sekalipun banyak terdapat restoran2 dan lain sebagainya di dalam komplek hotel. Akses ke kamar melalui lift rasanya akan sangat mudah dilakukan siapa saja karena tidak menggunakan kartu.

TravelHemat Angkor Wat photo AngkorWat.jpg

Artinya penjaja jam rolex aspal yang ada di lobby hotel bisa saja naik ke atas dan mengetuk pintu kamar menawarkan dagangannya hehehe… Namun nilai tambah hotel ini terletak pada lokasinya yang strategis dan fasilitas free shuttle bus ke bandara.

Usai check-in, malam itu kami meluncur ke salah satu restoran khusus masakan Khmer, Malis. “Fish Amok” merupakan salah satu makanan khas Cambodia yang harus dijajal disini. Berupa ikan yang dipepes dengan rasa seperti kari dibungkus dengan daun pisang, baunya harum. Saat masuk ke mulut terasa lembut lengkap dengan aroma rempah2, wahhh enak! Selain itu ada shrimp amok atau chicken amok, tapi yang otentik adalah fish amok. Beda restoran kadang beda pula cara penyajiannya, seperti di Siem Reap “pepes” ikannya tidak dibungkus daun pisang tapi dimasukkan ke dalam buah kelapa. Rasanya pun bisa beda, tapi yang paling top ada di Malis.

Menu favorit lainnya adalah Beef Lok Lak, daging sapi yang dipotong bentuk kubus, kemudian ditumis dengan saus berwarna coklat muda. Ada cocolannya berupa campuran garam, merica, bubuk kiamboi, dan perasan jeruk nipis. Cara makan: ambil daging, celupkan ke cocolan, terus masukkan ke dalam mulut bersama nasi hangat. Sensasinya memang luar biasa, lengkap ada rasa asin asam manis asem. Beef Lok Lak paling enak ada di hotel Tara Angkor, Siem Reap. Sedangkan Beef/Buffalo Lok Lak yang ada di restoran Titanic Riverside Phnom Penh di tepi sungai Tonle Sap belum dapat menandinginya, hanya menang di view cantiknya saja. Soal harga? Ternyata jauh lebih murah dibandingkan bila kita makan di Jakarta.

Menyaksikan Kekejaman Masa Perang

Pagi harinya kami telah berjalan di Sisowath Quay di tepi sungai Tonle Sap. Banyak orang datang berolahraga karena kebetulan hari itu adalah hari libur Waisak. Pedestriannya lebar sekali, ada taman2 kecil dan bangku2 untuk duduk santai. Diseberangnya banyak terdapat bar/cafe, klub malam, dan resto, yang saat malam tiba sangat ramai oleh turis2 asing berbaur dengan penduduk lokal.

Royal Palace dan Silver Pagoda letaknya tak jauh dari situ. Tidak terlalu istimewa memang tapi ada pohon yang menarik perhatian karena aneh dan unik. Di batang pohonnya terdapat akar2 yang mengeluarkan bunga seperti bunga anggrek dan ada buahnya sebesar semangka. Nama latin pohonnya Pectame Siamensis. Kelihatannya hanya ada 3 pohon disana tapi dari spesies yang berbeda.

Menjelang tengah hari kami tiba di Tuol Sleng Museum atau S21 Prison. Bekas bangunan sekolah 3 lantai ini menjadi saksi bisu kisah kelam pembantaian sesama Cambodian. Setelah menjatuhkan Presiden Lon Nol tahun 1975, Pol Pot pemimpin komunis yang drop-out mahasiswa teknis di Perancis inipun berkuasa. Ideologinya adalah revolusi dan kerja keras, sekolah2 ditutup demikian juga tempat ibadah. Bekas guru ini melakukan “cleansing” terhadap orang pintar dan berpendidikan termasuk guru, dokter, insinyur, dan lain2. Jadilah gedung sekolah tempat interogasi, penjara, penyiksaan, dan pembantaian secara sadis. Ruang ruang kelas dijadikan sel-sel penjara ukuran kecil, ruangan lainnya dilengkapi dipan dengan alat2 penyiksa termasuk alat pencabut kuku. Belum cukup puas di dalam, di halaman luar kelas tempat mainan ayunan anak sekolah pun dirubah menjadi tiang gantungan lengkap dengan tong2 besar untuk “merendam” kepala korban di bawah tiang tersebut.

Di dalam ruang kelas itu juga bisa disaksikan foto2 korban. Foto ini dibuat sebagai bukti dokumentasi yang akan diserahkan ke Pol Pot sebelum korban dibantai. Rata-rata berusia muda, pria ataupun wanita, termasuk foto populer: bayi yang masih di pangkuan ibunya. Sangat dianjurkan memakai pemandu wisata yang tersedia di sana supaya memperoleh informasi yang lengkap. Emosi anda akan diajak berlari naik turun mendengar cerita kelam kekejaman sesama anak bangsa tersebut. Dari sekitar puluhan ribu orang yang pernah “singgah” di penjara ini, hanya sekitar 7 orang yang selamat. Salah satunya Bou Meng yang menuliskan kisah hidupnya dalam buku berjudul Survivor. Buku ini sempat saya beli di penjara tapi sayang tertinggal di pesawat saat balik ke Jakarta. Alamak.

<< Kembali ke bagian 1

Lanjutkan ke bagian 3 >>

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php