Traveling GRATIS ke Macau 1
Tanggal 13 – 15 Mei 2010 yang lalu, bersama dengan para pemenang program promo JALAN-JALAN GRATIS KE MACAU periode 1 Februari 2009 – 31 Januari 2010 , kami berangkat dari Bandara Internasional Sukarno Hatta dengan penerbangan low-fare AirAsia jam 06:25 WIB via Kuala Lumpur, Malaysia.
Meski saya sudah beberapa kali berwisata ke Macau , namun perjalanan dengan teman-teman TravelHematers memberikan sensasi keasyikan tersendiri yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya.

Para Pemenang Traveling Gratis ke Macau
Rata-rata sih, mereka yang menjadi pemenang program promo kali ini adalah kampiun traveling yang sudah mempraktekkan jurus-jurus traveling a la TravelHemat.com sebelumnya ke berbagai negara di dunia. Jadi, mereka sudah paham banget dengan apa yang harus dilakukan saat di perjalanan.
Di Macau, kami menginap di Hotel Best Western Taipa . Dari bandara international Macau kami naik taksi lantaran hari sudah malam ketika kami tiba di sana. Biasanya sih tarif taksi berkisar pada 20-25 MOP (Macao Peseta). Namun lantaran pada saat itu bus yang melayani jalur airport ke kota sudah tidak beroperasi (Bus AP1), maka ketika sang supir meminta ongkos 70 MOP (setelah melalui proses tawar menawar beberapa waktu), kami menyetujuinya meski sesungguhnya, perjalanan ke hotel tidak memakan waktu lama. Nggak lebih dari 10 menit saja.
Esok harinya, seharian penuh kami mengunjungi berbagai objek wisata di pusat kota Macau dan juga di sekitar Taipa. Yang kami kunjungi pertama kali adalah Senado Square di pagi hari. Dalam bahasa setempat, tempat ini disebut San Ma Lo . Kebanyakan orang di sana tidak mengerti istilah Senado Square, jadi kalo pas mau bertanya, sebaiknya pakailah istilah San Ma Lo. Dengan naik bus no. 11 atau 33 dari halte yang terletak di dekat hotel, kami melakukan penjelajahan pertama. Tiket naik bus-nya adalah 4.2 MOP/orang. Kalau tidak punya mata uang MOP, bisa menggunakan mata uang HK$ (Hong Kong Dollar) yang perbandingannya 1:1. 1 HK$ nilai tukarnya sekitar IDR 1.200.-
Senado Square masih sepi di pagi hari. Toko-toko yang ada di sana juga masih tutup. Tempat ini adalah pusat perbelanjaan utama di Macau di mana terdapat deretan pertokoan fashion merek terkenal seperti Giordano, Baleno, Esprit, dan lain-lain. Kalau yang demen sama fast food, Mc. Donald juga punya outletnya di sini.
Lantaran suasana yang masih sepi, kami bisa mencapai icon utama kota Macau yakni Ruins of St. Paul’s Cathedral dalam waktu relatif singkat, dengan melalui jalan-jalan kecil khusus pejalan kaki yang berkelok-kelok. Untungnya, karena di setiap persimpangan jalan tersedia papan penunjuk jalan yang jelas, maka perjalanan menuju reruntuhan gedung gereja tersebut tidak pake acara tersesat segala.
Ternyata, di objek wisata bersejarah paling penting di kota Macau ini, suasana nggak sepi-sepi amat. Kami melihat beberapa rombongan turis sedang berfoto di sana. Dan yang mengherankan lagi, semua rombongan turis yang sudah ‘beredar’ di pagi hari tersebut, kebanyakan didominasi oleh rombongan turis dari INDONESIA! Kalau dilihat dari bendera yang dibawa oleh tur leader-nya, rata-rata mereka berasal dari perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia.
Rombongan kecil kami yang terdiri atas 7 orang (5 dewasa dan 2 ABG) sempat berkunjung ke areal pekuburan yang ada di bagian bawah reruntuhan gereja, dan juga berkunjung ke museum yang ada di bawahnya.
Lantas, ketika sudah puas berada di kawasan gereja St. Paul, kami mendaki ke sebuah bukit kecil yang terletak di sebelah kiri dari St. Paul melalui anak tangga yang terbuat dari bebatuan hingga tiba di sebuah bekas areal benteng kuno yang tepat berdiri di puncak bukit tersebut.
Objek wisata ini termasuk dalam kawasan Museo de Macau , di mana dahulunya digunakan sebagai benteng pertahanan tentara Portugis dari serangan musuh. Hal ini bisa dilihat dari struktur bangunannya yang berdinding tebal dan bertingkat-tingkat dengan deretan meriam di mana-mana.
Dari puncak bukit ini, bisa terlihat dengan jelas pemandangan kota Macau dari ketinggian. Diantara gedung-gedung megah dan mewah yang menjulang tinggi di langit-langit kota Macau, bisa dilihat pula deretan gedung-gedung kumuh pemukiman warga setempat yang sungguh terlihat drastis dibandingkan dengan hotel dan kasino berbintang di sekitarnya.
Penunjuk arah di Senado Square area
Ketika dirasa cukup melakukan eksplorasi santai di wilayah St. Paul Cathedral dan Museo de Macao , maka kami kembali menyusuri jalanan sempit untuk kembali menuju ke Senado Square. Namun dalam perjalanan balik kali ini, kami sempat mampir ke salah satu kedai penjual jajanan khas paling lezat di Macau – egg tart - jajanan berbentuk kue pie dengan lapisan atas terbuat dari kuning telur dengan gula karamel. Konon, untuk membuat satu buah kue yang dihargai 6 MOP/biji ini, dibutuhkan 3 butir kuning telur. Bisa dibayangkan bahwa kandungan kolestrol dalam kue kecil ini sangat tinggi. Tak heran jika kemudian egg tart dijuluki sebagai kue penuh dosa, wkwkwkwkwk!
Rombongan kecil kami ini kemudian berbelanja suvenir murah yang ada di daerah sana. Saya juga nggak lupa membeli suvenir yang rencananya akan saya bagikan untuk teman-teman sekalian di komunitas TravelHemat.com. Ntar caranya tinggal menjawab pertanyaan kuis di bagian akhir dari artikel ini… Dan 5 pemenang yang beruntung nantinya akan saya kirimin hadiah khusus yang saya beli dari Macau ini.
Usai berbelanja suvenir, kami kemudian berpencar untuk makan siang di area Senado Square.





