Surga Lelaki di Paris
Hiburan Khusus (Dewasa) di Paris
Ini adalah bagian ke-2 dari 3 tul isan tentang Butte Monmartre di Paris, sebuah area yang dikenal sebagai obyek wisata ‘dewasa’ di Paris. Kembali, Agung Basuki (pemilik www.TravelHemat.com dan www.TravelHematShop.com ) menyajikannya untuk Anda.
‘Surga’ lelaki
Boulevard de Rochechouart seringkali dipergunakan sebagai tempat parkir bus-bus turis yang mengunjungi daerah Monmartre. Tepat dari statiun metro Anvers ke arah barat melewati stasiun metro Pigalle, Blanche dan Place de Clichy (metro no. 2 jurusan Nation – Porte Dauphine), atau sepanjang Boulevard de Rochechouart hingga Boulevard de Clichy yang kira-kira berjarak 1,5 kilometer, di sinilah pusat surga hiburan lelaki dewasa di Paris.
Apabila Avenue des Champs Elysees dipenuhi oleh toko-toko fashion papan atas, beberapa gerai pamer mobil mewah seperti Mercedez Benz, Citroën dan Peugeot , juga hotel-hotel berbintang di kiri-kanan jalannya, dan jika malam hari daerah ini senantiasa bermandi cahaya hingga disebut-sebut sebagai salah satu jalan paling indah dan gemerlap di dunia, maka Boulevard de Rochechouart dan Boulevard de Clichy di malam hari juga bermandi cahaya –bahkan lebih colorful dan lebih meriah dibanding Avenue des Champs Elysees—yang berasal dari deretan sex-shop dan peep-show , sejumlah hotel ‘jam-jaman’ sekaligus juga beberapa rumah pertunjukan (-maaf-)tari telanjang, diskotek paling terkenal di Paris –La Loco(-motive), hingga pertunjukan kabaret yang terkenal seantero jagad : Moulin Rouge.
Pemilik sex shop, peep-show maupun pertunjukan (maaf lagi…) tari telanjang harus bersaing ketat satu sama lain dalam menggaet pelanggan lantaran lokasi mereka yang berdampingan satu sama lain. Untuk itu, tak heran jika mereka berani memasang papan nama berukuran raksasa dengan menggunakan lampu neon warna-warni yang terang benderang di malam hari dan memasang ‘window-display’ seronok yang secara langsung dapat menghentikan langkah siapapun yang melintas di depannya untuk menikmati sajian ‘gratis’ yang terpampang di etalase masing-masing toko. Mereka yang lewat di daerah tersebut bisa bebas cuci mata (yang mungkin pula disertai jantung berdebar kencang) sambil menahan napas lantaran banyak sekali gambar (maaf…) wanita dan (juga) pria baik itu yang setengah telanjang hingga yang (lagi-lagi…maaf…) telanjang bulat dipertontonkan secara eksplisit dengan berbagai gaya erotis, tanpa malu-malu.
Tak hanya itu, biasanya pemilik juga menugaskan anak buahnya yang biasanya berpakaian rapi nan elegan dan menguasai beberapa bahasa asing sekaligus, untuk melakukan ‘direct selling’ kepada siapa saja yang lewat di tempat mereka dengan iming-iming yang bisa membuat orang ngiler . Biasanya mereka berupaya menarik perhatian orang dengan menyebut harga entrance fee yang murah (antara 5-10 Euro) untuk menonton pertunjukan streeptease dalam jangka waktu tak terbatas sambil menyebut beberapa nama cewek/cowok yang ada di foto sebagai ‘barang’ baru yang sengaja didatangkan dari luar negeri (biasanya mereka menyebut nama beberapa negara di Eropa Timur atau negara di daerah Balkan yang terkenal sebagai daerah yang memiliki banyak koleksi wanita cantik). Ada juga yang berani memberikan jaminan uang kembali apabila penonton tidak puas dengan apa yang dijanjikan.
Di tempat yang menyajikan peep-show yang kebanyakan juga adalah sex-shop, dengan hanya memasukkan koin pecahan 1 Euro, seseorang bisa menikmati tari telanjang secara live dari dalam sebuah bilik kecil tertutup yang bisa dikunci dari dalam yang sengaja didesain hanya cukup memuat satu orang saja. Dengan durasi 50-60 detik/1 Euro, seseorang bisa memilih sendiri tontonan seperti apa yang diinginkannya karena di depan bilik-bilik tersebut, biasanya dipajang foto-foto penari dengan nomer tertentu sebagai pengenal. Apabila lampu indikator menunjuk pada angka tertentu, maka itu berarti pada saat itu sedang berlangsung pertunjukan oleh penari dengan angka tersebut.
Produk-produk yang dijual pada sex-shop bervariasi dari segi harga maupun rupa. Dari yang biasa-biasa saja seperti flash-card, serbaneka-serbarasa-beragam ukuran kondom, kaset video & VCD berisi film-film ‘action panas’, berbagai jenis majalah, hingga yang super ekstrem (seperti perlengkapan ‘perang’ kaum S&M yang serem-serem), dan sebagainya.
‘Surga’ yang Berbahaya buat yang ga kuat iman
Waspada!
Kebanyakan wisatawan (laki-laki) asal Asia termasuk yang suka pada hal-hal seperti ini. Ini bisa dipahami lantaran di Asia, khususnya di daerah Asia Tenggara, bisa dibilang hampir tidak dapat ditemukan tempat yang ‘bebas’ seperti ini. Bahkan di daerah Bangkok (Patpong) dan Pattaya di Thailand yang juga dikenal sebagai surga lelaki di Asia, jarang bisa ditemukan window display yang seterus-terang seperti di Paris.
Namun demikian, mereka yang berkunjung ke daerah seperti ini wajib ekstra waspada. Seperti halnya greasy area di kota-kota besar lainnya di seluruh dunia, tindak kriminalitas seperti penipuan dan pemerasan acap kali terjadi.
Setiap kali membawa rombongan tur ke daerah Monmartre untuk kunjungan ke Sacre Cœur, menonton kabaret show di Moulin Rouge atau berbelanja suvenir murah meriah, saya selalu berpesan wanti-wanti agar senantiasa berhati-hati terhadap segala sesuatu yang ‘too good to be true’ . Namun seringkali, lantaran mungkin terlalu terpesona dengan gemerlap lingkungan di sekitarnya, peringatan saya sering dianggap angin lalu, masuk telinga kiri – keluar telinga kanan.
Pada suatu kesempatan, seorang peserta tur berhasil dikuras oleh sekumpulan con-artist melalui permainan tebak-tebakan kartu. Ketika dia memasang taruhan 10 Euro untuk menebak jenis kartu bergambar tertentu yang diletakkan tertutup bersama dengan dua kartu lainnya, dengan mudah dia bisa memenangkan taruhannya. Pada saat itu, ada juga orang lain yang kemudian memasang taruhan sebesar 50 Euro. Tebakan orang itu tepat sehingga dia memenangkan taruhan sebesar 100 Euro. Kemudian ketika peserta tur saya itu memasang taruhan sebesar 100 Euro selama beberapa kali, dia kalah melulu. Ketika melaporkan kejadian ini pada saya, dia berkata ia telah kehilangan kira-kira 400 Euro dalam permainan itu.
Di kesempatan lainnya, beberapa peserta tur yang sengaja memisahkan diri dari rombongan juga terkena bujuk rayu petugas yang menawarkan melihat live streep show pada sebuah klub di daerah Place Pigalle. Dengan membayar 5 Euro entrance fee , dia dan dua rekan lainnya diiming-imingi menonton pertunjukan streeptease sepuasnya. Ketika berada di dalam gedung, mendadak muncul tiga orang wanita muda yang tanpa disuruh langsung mendampingi mereka selama pertunjukan. Tak cuma itu, ketiga wanita tersebut menenggak berbagai minuman keras yang disajikan secara tak putus-putusnya oleh pelayan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dari ketiga peserta tur saya tadi.
Saat hendak keluar, mereka disodori tagihan yang jumlahnya di atas 15 juta rupiah (atau lebih dari 1000 Euro)! Ketika mereka menolak untuk membayar lantaran merasa tertipu, beberapa bodyguard bertubuh kekar datang. Karena tidak mempunyai cukup uang cash , salah satu dari mereka diutus keluar untuk mengambil uang melalui ATM setelah terlebih dahulu menyerahkan paspornya sebagai jaminan.
Waaah…. serem ya? Namun nggak hanya hal serem-serem saja kok yang ada di daerah ini. Terdapat pula pertunjukan kabaret berkelas dunia yang dikenal dengan nama Moulin Rouge, yang memiliki markas di daerah ini. Ikuti kemeriahan menonton pertunjukan Moulin Rouge di bagian ke 3 dari tulisan ini. So… Stay Tune!
Dapatkan petunjuk dan panduan lengkap melakukan perjalanan secara independen ke PARIS dalam bahasa Indonesia dalam serial ebook TravelHemat Paris
Pengen belajar bahasa Prancis secara online (tutorial dalam bahasa Indonesia) dengan mudah dari ahlinya? Silakan klik di sini!





