Cuple Work 250 x 306



 

Raja Tawar

Saya orangnya suka sekali menawar kalau pas mau beli sesuatu. Ngga barang mahal ataupun barang murah, selalu saja saya suka tawar ke penjualnya sampai harganya mentok banget. Ada kepuasan kayaknya kalau bisa mendapatkan sebuah barang dengan harga yang sesuai dengan penawaran saya :-).

Teman-teman saya paling demen mengajak saya belanja karena mereka bisa menikmati harga murah saat membeli sesuatu. Tapi ada juga sih yang kadang merasa saya sangat keterlaluan dalam menawar suatu harga sehingga kasihan pada penjualnya.

Suatu hari saya sedang berada di sebuah kota kecil untuk berwisata dengan teman-teman saya. Seperti biasa yang namanya wisata selalu ada dong acara belanja-belanja. Dan lagi-lagi oleh teman-teman, saya selalu dijagokan dalam hal tawar menawar.

Habis melakukan aktifitas belanja sepanjang hari, tenggorokan terasa haus. Kebetulan di sebuah trotoar jalan, kami melihat ada seorang bapak tua penjual es. Langsung saja kami hampiri bapak penjual es tersebut untuk memesan beberapa gelas minuman segar.

“Pak, mau pesan esnya 5 gelas. Berapaan ya pak?” Tanya teman saya ke penjualnya.
“1 gelas Rp 3500,- mbak. Jadi 5 gelas Rp 17.500,” ujar Bapak tersebut.
“Ya udah deh, 5 gelas ya pak…”, sahut teman saya itu.
“15 ribu aja ya pak untuk 5 gelas esnya,” celetuk saya spontan.
Bapak penjual es tersebut terdiam sejenak sambil menarik napas panjang.
“Baru buka ya pak hari ini dagangannya?” Tanya saya.
“Iya Mas… Ini juga pembeli pertama,” jawab Bapaknya.
“Nah, justru karena kami pembeli pertama, dikasih diskon deh pak… 15 ribu aja ya pak untuk 5 gelas,” jawab saya sekenanya.
“Kalau 16 ribu gimana Mas… soalnya keuntungan jualan es begini kecil banget,” pinta Bapak tersebut.
Saya pura-pura berpikir mempertimbangkan usulannya. Temen-teman saya ada yang cekikikan melihat aksi iseng saya ini.
“Ya udah deh pak… 16 ribu ngga papa deh,” jawab saya akhirnya.

Maka mulailah Bapak tersebut membuatkan kami 5 gelas es yang segar. Cuma butuh waktu sekejap sebelum isi gelas es tersebut sudah berpindah tempat.

Saya akhirnya membayar Bapak tersebut dengan selembar uang 20 ribuan. Bapak tersebut memberi kembalian 1 lembar uang kertas 2 ribu rupiah dan 2 keping uang logam pecahan 1000. Saat saya hendak memasukkan uang kembalian dari bapak penjual es tersebut ke saku celana, ada salah satu koin pecahan 1000 rupiah yang jatuh ke trotoar dan menggelinding, sebelum akhirnya hilang masuk ke lubang selokan yang ada di tepi jalan itu.

Saya tidak begitu menghiraukan uang koin yang hilang tersebut dan mengajak teman-teman saya untuk pergi melanjutkan aktifitas. Sepintas saya mendengar Bapak penjual es tersebut bergumam, “coba kalau Mas ngga nawar tadi ya, uang 1000 (yang hilang) tadi bisa untuk saya ya…”.

Saya langsung tertegun mendengar ucapan Bapak itu. Demikian pula teman-teman saya lainnya yang langsung terdiam. Apalah arti uang 1000 rupiah buat kami dibandingkan dengan untuk Bapak penjual es tersebut. Dalam hati saya merasa mendapat “tamparan” keras atas hobi saya yang suka menawar tersebut. Dan kali ini tamparan tersebut datang dari hal sepele untuk saya, namun berarti besar buat orang lain.

Sepanjang sisa hari tersebut, kami berlima tak banyak saling bicara. Rencana melanjutkan acara berbelanja pada hari itu pun berlangsung tanpa greget dan ada perasaan yang mengganjal karena “insiden” kecil dengan penjual es tersebut.

Hal kecil yang terjadi hari itu membuat saya berubah. Sejak kejadian itu, saya tidak lagi terlalu “gila” dalam melakukan tawar menawar saat hendak membeli sesuatu dan lebih melihat situasi.

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php