Cuple Work 250 x 306



 

Pengalaman Tidak Mengenakkan di 4 Negara

Kali ini, ibu Roslina Tasman yang telah melanglang buana ke berbagai negara di dunia membagikan sekaligus beberapa pengalamannya yang tidak menyenangkan saat melakukan perjalanan ke luar negeri (Yunani, Prancis, Italia dan Brazil). Pastikan untuk membaca kisah di bawah ini sampai selesai, karena informasinya SANGAT BERHARGA!

Manfaat Asuransi Perjalanan photo bannermanfaatasuransiperjalanan.jpg

Pengalaman Pertama: Athena Yunani
Saya pergi ke sana pada bulan Mei 2012 saat Yunani sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat parah. Saat baru turun dari bus, ada seorang bapak setengah baya yang menawari hotel pada saya dan teman-teman. Saat itu saya ramah sekali meladeni si bapak, maklum adat negara kita yang terbiasa bersikap sopan pada org tua kan ya. Walau saya menolak dangan sopan, bapak tsb tetep saja memaksa dan kemudian mengikuti kami. Lantaran merasa terganggu, akhirnya kami cuekin dia. Eh dianya marah-marah dan berteriak-teriak di jalanan sampai-sampai kami diliatin semua orang yang ada di sepanjang jalan. Dari situ saya jadi berkesimpulan bahwa kita tidak usah terlalu ramah pada orang yang tidak dikenal yang kita temui di jalanan. Cukup menggangguk dan mengeleng saja deh kalau ditawari oleh calo-calo model bapak tua tersebut.

Prancis 300 white

Pengalaman Kedua: Menara Eiffel – Paris
Pengalaman ini terjadi pada bulan Oktober 2013. Saat itu saya sedang berjalan sendiri di seputaran Menara Eiffel, mencari teman-teman seperjalanan yang sedang berpencar entah di mana. Tiba-tiba saya didekati seorang lelaki muda. Dia mengajak saya untuk berpartisipasi menyumbang dana untuk keperluan sosial tertentu sambil menunjukkan kertas berisi catatan nama, asal negara penyumbang dan jumlah uang yang disumbangkan. Karena melihat jumlah “uang sumbangan” yang tercatat rata-rata berjumlah 100 Euro-an, saya menolak untuk berpartisipasi. Anak muda itu tetap dengan ramahnya mengatakan tidak apa-apa saya tidak menyumbang asal mau menuliskan nama dan asal negara sebagai bukti bahwa dia sudah berusaha menarik pendonor untuk dilaporkan pada ketua organisasinya.
Jadilah saya menulis nama dan negara asal saya karena kasihan pada dia. Tapi entah kenapa saat itu saya menulis nama palsu dan menuliskan Thailand sebagai asal negara saya. Kelihatannya naluri saya mengatakan bahwa ada yang tidak beres di sini. Dan benar saja, setelah saya selesai menulis di kertas daftar nama penyumbang yang disodorkan, anak muda tersebut tiba-tiba memaksa meminta uang 100 Euro. Sewaktu saya menolak, dia tarik tangan saya dan bilang akan melaporkan saya ke polisi.
Sebelumnya memang saya sudah pernah baca berbagai kisah tentang tindak kriminalitas di Paris yang sangat bervariasi modusnya. Dan ini adalah salah satu modus ‘terbaru’ yang saya alami langsung. Karena itu saya tidak takut dengan ancaman anak muda tersebut. Saya balik menarik tangannya dan menantangnya untuk pergi ke kantor polisi.
Melihat reaksi perlawanan saya yang mungkin tidak disangka-sangka tersebut, anak muda itu justru lari meninggalkan saya.

pesan hotel photo bannerpesanhotel.jpg

Pengalaman Ketiga: Pisa – Italy
Bulan Maret 2013, waktu itu saya dan temen-teman nunggu bus untuk kembali ke stasiun kereta api sehabis mengunjungi Leaning Tower. Ada seorang ibu tua dan 4 orang anaknya, 2 sudah berusia remaja dan 2 lainnya masih di bawah usia 10 tahunan. Mereka kelihatannya sama-sama menunggu bus seperti kami dan dari dandanannya kelihatannya seperti orang gipsi.
Ketika akhirnya bus yang kami tunggu datang dan kami sedang antri naik, tiba-tiba si ibu itu terlihat seperti marah-marah pada 2 anaknya yang masih kecil. Tingkah lakunya yang heboh tersebut menarik perhatian dan membuat kami semua memandangi mereka. Lagi-lagi pada saat itu juga, naluri saya berkata bahwa ada yang tidak beres di sini. Secara reflek, saya pindahkan ke depan tas ransel yang sebelumnya saya letakkan di punggung.
Dan ternyata, kancing dan tali tas ransel saya tersebut sudah terbuka. Tiba-tiba pula, salah seorang teman di belakang saya berteriak dan berhasil menangkap tangan salah satu anak remaja si ibu tadi yang berada di dekat posisi saya. Saya reflek menarik syal yang dipakai oleh anak itu hingga terlepas, dan ibu berikut ‘anak-anaknya’ tersebut melarikan diri. Kami bergegas memeriksa tas masing-masing. Untungnya tidak ada dari kami yang mengalami kehilangan akibat insiden tersebut. Thank God! Justru kali ini para pencopet tersebut yang merugi karena mereka yang kehilangan syal dan sebuah tas milik salah satu dari mereka yang berhasil kami tarik saat kejadian tadi.

Tas Rahasia Penyimpan Uang photo THS01THS02.jpg

Pengalaman Keempat: Rio de Janeiro – Brazil
Malam itu kami jalan kaki menuju pusat penyelenggaraan acara akbar Rio Carnival. Sebelumnya kami sudah diingatkan agar tidak menggunakan perhiasan apapun saat menyaksikan acara tersebut. Kamipun hanya membawa uang kecil recehan di kantong celana dan handphone yang kami masukkan di
tas pinggang rahasia (Secret Waist Moneybelt).

Dan benar saja, saat asyik menyaksikan parade karnaval yang menghebohkan itu, tiba-tiba ada segerombolan anak muda yang berlarian, sehingga mengundang perhatian kami semua. Pada saat yang bersamaan itulah, kami mendengar jeritan seorang gadis yang berdiri di depan kami… kalungnya ditarik oleh pencopet!

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php