Cuple Work 250 x 306



 

Pengalaman Buruk di Budapest

Oleh Junardi Sarmili

Bersama keluarga, Pak Junardi Sarmili melakukan perjalanan ke beberapa kota dan negara di Eropa Timur, mengikuti rute yang ada di ebook TravelHemat Eropa 2, mengunjungi Jerman, Austria, Hongaria dan Republik Ceko. Inilah oleh-oleh kisah perjalanan beliau yang dilakukan pertengahan – akhir Juli 2013 lalu.

Pengalaman Buruk di Budapest

the chain bridge budapest photo TheChainBridgeBudapest.jpg

Entah kenapa saat akan memasuki kota Budapest perasaan saya tidak enak. Begitu tiba di stasiun Keleti kesan kumuh dan semrawut segera tampak di depan mata. Pintu masuk utama stasiun ditutup karena sedang ada renovasi sehingga harus memutar ke samping stasiun sambil mendorong koper naik turun tangga. Tidak ada elevator atau lift ataupun ban berjalan yang bisa membantu turis. Saat akan menukar uang Euro ke Forint ada yang mencegat menawarkan nilai tukar yang lebih tinggi, tentu saja yang beginian jangan dilayani.

Petugas turis informasinya juga cuek dan melayani kita dengan nada tinggi. Jangan takut asal kita bicara secara tegas, jelas, kalau perlu keras sedikit, dia akan keok juga. Di stasiun belilah 1 day pass untuk transportasi dalam kota yang berlaku mulai saat kita beli sampai 24 jam kemudian, murah. Simpan baik-baik tiketnya karena di setiap stasiun dijaga petugas yang bisa setiap saat melakukan pemeriksaan. Tertangkap tanpa tiket didenda 6000 Forint langsung bayar di tempat. Keketatan seperti ini tidak akan dijumpai di negara Eropa lainnya, maklum pengaruh komunisme masih terasa kental sehingga setiap orang layak untuk dicurigai, apalagi turis asing.

parliament building budapest photo ParliamentBuildingBudapest.jpg

Budapest tampak sangat molek di malam hari. Lampu yamg menerangi gedung Parlemen dan Chain Bridge bila dilihat dari sepanjang Danube Promenade menambah genitnya kota ini. Masih penasaran, saat siang hari dengan funikular naiklah ke Castle District, dan dari Fisherman Bastion anda dapat menyaksikan kelokan sungai Danube dengan jembatan-jembatan yang menghubungkan kota Buda dan kota Pest. Masih belum cukup? Ambil kesempatan mengarungi sungai Danube saat malam hari disertai dinner yang diiringi live music, anda pasti jadi lupa dengan gaya petugas turis informasi yang jutek-jutek itu. Makanannya lumayan enak dan hampir di setiap masakan ada unsur Paprika nya karena memang dari sinilah Paprika berasal.

Hari kedua di Budapest, kami gagal masuk ke dalam gedung Parlemen karena ditutup, gak tahu apa karena renovasi atau ada tamu negara yang berkunjung. Hanya tampak saja ada bendera salah satu negara yang berkibar disamping bendera negara Hungaria di depan gedung.

Kakipun melangkah ke tempat lain. Keluar dari stasiun Oktagon, Andrassy ut ada di depan mata. Jalannya lebar dengan pepohonan rindang, bila terus melangkah ke depan akan membawa kita sampai ke Hero Square. Melewati Hero Square ada City Park, di mana anda bisa beristirahat di pinggir danau, atau mengunjungi castle kecil dan Szechenyi Baths yang ada disana.

Kami sempat mampir ke museum House of Teror di Andrassy ut 60. Lagi-lagi ketemu petugas tiket masuk yang jutek, ampun deh. Harga tiketnya mahal 8 Euro/orang tidak sebanding dengan apa yang disaksikan dalam museum. Keterangan dituliskan dalam bahasa setempat, bukan English, membuat rasanya ingin buru-buru keluar aja. Sebagai sesama museum sejarah, apa yang bisa dilihat di Tuol Sleng Museum, Cambodia, jauh lebih menarik dan dramatis daripada museum ini! Come and see, but no enter. Ini pendapat pribadi loh.

Lewat sudah 2 hari di Budapest, perasaan tidak enak yang sempat muncul saat tiba di sini pertama kali itu rasanya tidak beralasan sama sekali. Semua ok. Tiba di stasiun Keleti kami agak kesulitan juga membaca nomor gleis kereta yang ke Praha, tapi akhirnya ketemu juga. Koper-koper pun digeret sampai ke pintu masuk kereta, namun tiba-tiba datang petugas porter mengangkut koper-koper itu ke atas kereta tanpa diminta. Begitu semangatnya petugas porter itu hingga kami tidak dapat mencegah lebih jauh.

Ya sudahlah saya pikir. Namun hati kecil saya bergumam bahwa ini ada yang salah: menerima jasa orang tanpa ada kesepakatan harga dulu. Benar saja dugaan saya. Setelah 5 koper diangkat ke kereta saya sodorkan 5 Euro (1 Euro/koper), harga wajar untuk jasa porter di hotel-hotel di Eropa. Ternyata dia menolak, saya tambah 5 Euro lagi, tapi tetap ngotot minta 15 Euro. Akhirnya saya iklaskan saja daripada ribut-ribut tanpa manfaat.

Keretapun berjalan pelan meninggalkan stasiun Keleti Budapest. Cerita soal porter itu telah sirna, saat datang petugas pemeriksa tiket. Seperti biasanya, petugas hanya mengecek Eurorail Pass sekilas saja, tapi kali ini petugas Hungaria berbadan tinggi besar itu memeriksa berkali-kali. Garang, angkuh, dan tanpa senyuman. Firasat saya sudah tidak enak, ada yang gak beres ini. Betul saja, tiba-tiba dia bilang: tiket kereta anda invalid dan setiap orang kena denda 50 Euro, total 300 Euro! Terkagetlah kami semua, kepala terasa membesar, saya tahan emosi dalam-dalam.

Sebelum sempat minta penjelasan, dia menunjukan travel jurnal yang kosong di tiket Eurorail Pass kami. Travel jurnal ini harus diisi setiap naik kereta yang baru dan itu tidak anda lakukan katanya. Denda 50 Euro/orang dalam manual kereta ditunjukkan tapi saya tidak mengerti karena dalam bahasa Hungaria. Saya minta manual dalam bahasa Inggris. Petugaspun pergi dan tak lama berselang datang dengan petugas lain yang lebih senior. Saya katakan ke petugas senior kalau kami tidak suka diperlakukan seperti ini. Tidak mengisi travel jurnal bukanlah suatu kesalahan fatal sehingga harus membayar 300 Euro. Pinjam pena Anda dalam 1 menit travel jurnal selesai saya isi karena tiket reservasi sebelumnya masih tersimpan. Akhirnya ke 2 petugas berdiskusi dalam bahasanya, agak lama, sekilas kemudian mereka meminta uang 80 Euro sebagai denda. Suasana sangat tidak kondusif sampai kemudian untuk ke2 kalinya saya iklaskan 80 Euro melayang, demi keluarga dan ibu saya juga. Inilah bentuk pemerasan oknum korup kereta api di Budapest terhadap turis. Ternyata suara hati saya benar sejak awal.

Photobucket

Kadang saya mengibaratkan traveling itu seperti masakan. Baru akan terasa enak bila ada rasa asin, manis, asam, dan pedas, sedikit pahit boleh juga. Kejadian yang kami alami itulah rasa pedas dan pahitnya hehehe… Secara tidak langsung memberi kesan kuat terhadap perjalanan itu sendiri. Kalau sebuah perjalanan berjalan baik terus dari awal sampai akhir, rasanya tidak ada yang menarik untuk diceritakan.

Berbicara soal masakan, di Budapest saya ingat Goulash makanan khas lokal, ada yang berupa sup dan ada pula yang tidak. Berupa daging sapi dipotong kotak rasanya mirip antara rendang dan semur dan disajikan bersama gnocchi (baca: nyoki), nasinya orang sana. Coba deh.

Ke Halaman Berikutnya >>

<< Ke Halaman Sebelumnya

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php