Cuple Work 250 x 306



 

Paspor Ibu

Beberapa tahun lalu saat melakukan perjalanan untuk riset pembuatan ebook serial travel hemat ke Spanyol, tepatnya di kota Malaga, saya kebetulan bertemu dengan seorang turis setengah baya asal Meksiko di sebuah toko suvenir. Alex, nama pria yang dandanannya cukup perlente ini sibuk mencari-cari stiker bertuliskan kata “SPAIN” yang ukurannya kecil.

Spanyol 300 white

Setelah mencari cukup lama, akhirnya dia berhasil mendapatkan barang yang diinginkannya. Saya kemudian jadi tertarik mengamati perilakunya yang tampak tidak lumrah. Dia mengeluarkan sebuah buku kecil yang ternyata adalah buku paspor dan kemudian menempelkan stiker SPAIN tersebut di salah satu halamannya dan menuliskan tanggal bulan tahun penempelan stiker tersebut di bawahnya. Saya cukup tergelitik untuk bertanya, mengapa dia menempelkan stiker di halaman buku paspor? Padahal kan paspor tidak selayaknya ditempeli stiker.

“Ini paspor milik almarhumah ibu saya”, demikian tutur Alex sambil menunjukkan isi halaman-halaman paspor milik ibunya yang banyak dipenuhi stiker dari berbagai negara. “Setiap kali saya berkunjung ke suatu negara, saya akan berburu stiker yang bertuliskan nama negara tersebut yang ukurannya pas untuk ditempel di halaman buku paspor.” Ini bukan hal yang mudah dilakukan karena kebanyakan stiker ukurannya cukup besar.

Alex kemudian mengajak saya minum kopi di sebuah kedai sambil bercerita tentang asal muasal dia melakukan ‘ritual’ ini.

Alex adalah seorang pebisnis yang sangat sibuk. Dia sering harus bepergian ke berbagai kota dan negara untuk kepentingan urusan bisnisnya. Otomatis, dia jarang sekali berkesempatan bertemu dengan ibunya meski mereka tinggal di kota yang sama.

Dalam 1 tahun mungkin mereka hanya bisa bertemu 2-3 kali saja. Biasanya saat merayakan Natal, ulang tahun sang ibu dan ulang tahun Alex. Namun itu pun tidak terjadi secara rutin. Selebihnya, mereka hanya berkomunikasi melalui telepon, itupun lagi-lagi tidak terlampau sering dilakukan.

Ironisnya, meski Alex sering melanglang buana ke berbagai negara, sang Ibu belum pernah sekalipun berkesempatan untuk pergi ke luar negeri.

Maka, pada suatu ketika, Alex ingin mengajak ibunya untuk berlibur ke luar negeri sebagai hadiah ulang tahun Ibunya ke 70 tahun waktu itu. Sang ibu menyambut dengan gembira dan segera membuat paspor.

Malangnya, 2 bulan sebelum perjalanan perdana sang ibu ke luar negeri dilakukan, ibu Alex menderita sakit yang awalnya tampak sepele namun pada akhirnya merengut nyawa sang ibu setelah dirawat selama beberapa minggu di rumah sakit.

Yang membuat Alex menyesal adalah saat ibunya sakit hingga meninggal dunia, dia tidak pernah berkesempatan untuk menjenguk dan menemani sang Ibu karena kesibukannya yang luar biasa. Saat itu Alex berpikir bahwa sakit yang diderita Ibunya tidak parah sehingga dia berencana menjenguk ibunya saat sudah pulang dari rumah sakit saja.

Dan ternyata Tuhan berkehendak lain. Alex hanya bisa bertemu jasad ibunya…

Penyesalan yang luar biasa dirasakan Alex, dan itulah yang mendasari dirinya untuk berjanji membawa paspor sang Ibu ke negara manapun yang dikunjunginya dan menempelkan stiker negara-negara tersebut di halaman paspor almarhumah Ibunya.

***

Pengalaman bertemu dengan Alex tersebut tentu bukan suatu hal yang kebetulan buat saya. Karena baru-baru ini Ibu saya juga menderita suatu penyakit yang awalnya juga tampak remeh dan tidak berbahaya. Namun karena faktor usia, penyakit tersebut akhirnya berkomplikasi dan merengut nyawa Ibu saya pula.

Sejak bertemu dengan Alex saya seakan mendapat ‘early warning’ untuk menyediakan waktu lebih banyak buat Ibu saya. Menemaninya di masa-masa tuanya dan berusaha memenuhi apa yang menjadi permintaan dan keinginan beliau. Sehingga ketika Ibu saya harus berpulang, memang ada kesedihan yang mendalam lantaran ditinggalkan oleh orang yang menyayangi dan kita sayangi. Tetapi saya sungguh bersyukur bahwa tidak ada rasa penyesalan seperti yang dirasakan oleh Alex terhadap Ibunya. Karena bagaimanapun juga, kebahagiaan itu akan lebih dirasakan dan dinikmati oleh orang tua kita tatkala dirinya masih hidup dan bukan ketika mereka sudah tiada.

Nah, bagi teman-teman yang masih diizinkan memiliki orang tua hingga saat ini, setelah membaca tulisan ini semoga bisa membuka mata hati kita masing-masing. Bukannya bermaksud menggurui atau sok bijak, namun tidak ada salahnya jika mulai sekarang kita memberikan lebih banyak waktu bagi orang tua yang mengasihi dan mengasuh kita sejak kecil. Karena bagaimana pun juga, suatu waktu nanti orang tua kita akan berpulang. Akan ada kenangan pahit dan manis yang melekat di ingatan kita. Akan ada memori yang selalu terbawa sampai kapanpun usia kita.

Silakan share tulisan ini di Facebook atau di Twitter Anda masing-masing jika Anda merasa tulisan ini bisa bermanfaat bagi orang lain.

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php