Cuple Work 250 x 306



 

Liburan Hemat ke Switzerland

Inilah laporan perjalanan dari Junardi Sarmili yang baru saja melakukan TravelHemat ke Swiss atau Switzerland selama 12 hari penuh tanpa ikutan tur. Semuanya direncanakan and diatur sendiri.

Semoga bermanfaat untuk Anda…

***

St Moritz

Pemandangan di St. Moritz

Kami tiba di Geneva Senin 18 Juni jam 7.10 pagi.

Setelah seharian keliling kota Geneva, setiba di hotel Capitole kami baru menyadari dompet isteri saya HILANG raib, isinya 4 kartu kredit dan 650 EU.

Sedangkan sebagian besar uang euro lainnya ada di dompet gantung TravelHematShop yang saya pakai di leher. Kami mengalisa kemungkinan hilang di pesawat atau saat naik bus.

Setelah menelepon ke sana ke mari, akhirnya semua beres, kartu kredit sudah diblokir. Ini kejadian buruk pertama di luar negeri jadi sedikit grogi hahaha…

Oh ya, ada sedikit catatan soal Capitole Hotel di Geneva. Lokasinya memang bagus, cuma sayang resepsionis kurang ramah dan kurang bersahabat. Kami hampir ditolak saat mau titip 2 koper padahal hari terakhir di Switzerland kami akan menginap di sana juga.

Hampir semua hotel di Geneva akan memberikan free tiket untuk transportasi keliling Geneva dengan kendaraan umum selama seharian penuh. Jadi kita nggak perlu beli tiket bus lagi. Kalau beli di luaran, harganya 8 CHF/orangnya.

Tukar uang di Geneva sebaiknya tidak di bank karena ratenya rendah, ada beberapa money changer sekitar hotel dengan rate bagus. Di bank 1 Euro saat itu dihargai 1.1700 CHF, sedang money changer 1.1920 CHF, lumayan kan hehehe….

Jet d'eau Geneva

Jet d’eau Geneva

19 Juni, Jam 8.36 kami sudah tancap gas berangkat menuju Zermatt, transit di Visp (Brig) untuk ganti kereta menuju Zermat. Semua lancar, kami tiba 12.30 di hotel cantik dekat stasiun, Butterfly.

Tujuan pertama ke Klein Matterhorn dengan cable car tapi batal karena petugasnya bilang kesorean jam 15.30, sebaiknya sebelum jam 12 siang karena cable car terakhir turun jam 16.00.

Akhirnya kami memutuskan untuk ke Gornergrat. Wah viewnya indah sekali ya tapi jangan lupa harus pilih tempat duduk sebelah KANAN waktu berangkat, cuma sayangnya puncak Matterhorn ketutup awan. Dari stasiun cable car ke stasiun kereta Zermat bisa naik electric bus secara GRATIS.

21 Juni. Hari ini kami melakukan perjalanan berkereta api dengan kereta Glacier Express.
Perjalanan Glacier Express luar biasa indah. Viaduck Landwasser yang kami lalui dengan kereta api sangat fantastik! Saya kira inilah masterpiece untuk teknologi kereta api dunia.

Kami tiba di St. Moritz jam 18.00, ternyata di pintu keluar stasiun ada papan besar dengan tombol telepon banyak hotel diantaranya Hauser Hotel. Pencet tombol langsung bicara dengan resepsionis hotel minta dijemput dengan shuttle bus hotel. Kurang 10 menit jemputan datang dan GRATISSS…..

Kalau kita menginap 2 malam atau lebih, pihak hotel akan memberikan Engadin Card untuk transportasi di kota St. Moritz dan sekitarnya. Lebih baik kita yang minta, kalau nggak nanya soalnya resepsionisnya suka berlagak lupa hehehe…

Kami akhirnya pindah ke apartemen, lebih besar, lengkap dengan dapur dan ruang keluarga. Mestinya dapat 1 lagi studio tapi saya cancel karena 1 apartemen besar itu cukup berlima. Jaraknya 150 meter dari Hauser Hotel, dengan view langsung ke danau St. Moritz.

Besoknya pagi-pagi saya jogging keliling 1 putaran danau, lewat jembatan yang ada di ebook TravelHemat Switzerland. Cantik banget pemandangannya ya, ada beberapa nelayan mancing, tapi sayang saya nggak sempat masukin kaki ke air danau seperti yang disarankan di ebook, meski memang banyak juga ikan-ikan kecil di pinggiran danau.

Klimak di St. Moritz ternyata siang harinya!
Dengan bus dari stasiun kereta St. Moritz, kami menuju Malojapass melewati danau2 yang sangaaaat indah : mulai dari danau San Murezan/St. Moritz, danau Champfer, danau Silvaplauna, dan danau Segl. Perjalanan kurang lebih 1 jam ini sangat memukau. Kami sempat berhenti di Silvaplauna duduk-duduk menikmati view danau yang aduhai…. Memang pemandangan alam Swiss ruaaaar biasa menawan. Anugerah Tuhan yang dikelola dengan sangat baik oleh manusia.

Dari Maloja kami terus menuju Punt Muragl Talstation untuk naik kereta ke atas ketinggian 2754 m Muottas Muragl. Setibanya di atas, ada hotel dan restoran. Pemandangan ke bawah membuat saya merinding saking kagumnya dengan ciptaan Tuhan yang boleh kami nikmati siang itu. Dari atas terhampar pedesaan dan 5 danau berwarna biru di bawahnya, seperti yang disebut tadi di atas dengan tambahan danau Staz! Dahsyat sekali! Tak habis-habis rasa kagum saya…

Hampir 2 jam kami di atas sambil menikmati makan siang istimewa hehehe… Perjalanan dengan bus ini dan juga keretanya tidak bayar alias FREE karena punya Engadin Card!

NB:  jangan lupa cicipin Engadine Nusstorte-nya Hotel Hauser. Enak banget, selain tentu saja Fondue, Raclette, dan Rosti Switzerland hehehe…

Selepas St. Moritz, kami tiba di Zurich. Kota metropolitan ini sangat sibuk ya.
Bahnhof Zurich besar dan padat penumpang, saya kira terpadat di Switzerland.
Hotel Limmathof yang kami pesan dengan mudah kami temui tak jauh dari stasiun kereta. Kamar hotel dengan bantal seprei yang putih resik, disertai layanan resepsionis anak-anak muda yang ramah, melebihi kelasnya sebagai hotel bintang 2. Very Good!

Kami susuri sepanjang 1,4 km jalan Bahnhofstrasse sampai ke Burkitplatz, sempat naik kapal selama 1,5 jam keliling danaunya… lagi-lagi GRATIS dengan menggunakan Swiss Pass.
Kami juga berfoto ria di Grossmunster dengan St. Pieter Kirche di sebelahnya.
Sempat pula kami merencanakan dinner di Blindekuh, tapi batal karena nyasar hehehe… Inilah seninya kalo jalan sendiri. Kesasar adalah hal yang biasa. Tapi kami menikmatinya tuh…

Keesokan harinya jam 11.30 kami telah tiba di Interlaken. Cuaca sangat bagus, sunny day, namun prakiraan besok paginya cuaca bakal jelek, hujan dan berkabut.
Karenanya saya minta ganti tiket kereta ke Jungfrau nya hari itu juga, bukan besok harinya. Walaupun sedikit ngotot, namun petugas tetap bilang tidak bisa pindah hari. Anda lain kali beli tiketnya saat tiba aja lihat cuaca, jangan beli online, kata petugasnya memberi saran.

Apa boleh buat, kami pun cabut menuju Harder Kulm, naik kereta funikular dari depan hotel Carlton Europe, ke atas ketinggian hampir 2000m untuk melihat kota Interlaken yang diapit danau Brienz dan Thurn dari dek view yang ada di sana.

Lagi-lagi kami terpesona akan keindahan pemandangan yang luar biasa. Apalagi ditunjang dengan cuaca cerah, sehingga bisa terlihat dengan jelas kota Interlaken di bawah sana yang diapit 2 danau elok.

Biaya naik kereta funikular ke Harder Kulm ada reduksi dengan Swiss Pass, tapi karena oleh pihak hotel juga kasih kupon diskon yang lebih besar nilainya dari Swiss Pass, jadi kami pake kupon pemberian dari hotel saja waktu itu.

Lewat tengah hari, kami menuju Trummelbach faelle, yang menurut ebook TravelHemat Switzerland WAJIB banget dikunjungi (dan belum banyak orang Indonesia yang ke sana). Tepat jam 15.30 kami tiba.
Lagi-lagi kami dibuat tercengang dan geleng-geleng kepala melihat fenomena alam unik yang luarbiasa ini.

“The only glacier-waterfall drains the mighty glacier of Eiger, Jungfrau, and Monch in Europe inside the mountain and still accessible!” MUST SEE!

Esoknya, apa yang kami kuatir kan terjadi. Cuaca buruk. Prakiraan cuacanya akurat bener ya. But the show must go on. Kami tetap berangkat ke Jungfrau.

Sepanjang jalan hujan dan berkabut, sampai di atas gedung Sphinx di puncak Jungfrau, mendadak matahari bersinar terang meski hanya sebentar. Namun lumayanlah, perjalanan ini tidak sia2-sia karena bisa lihat viewnya juga.

Di atas kami foto-foto di salju dengan bendera Swiss. Tapi agak terganggu dengan banyaknya turis-turis India, yang kadang ngak mau ngalah gantian foto di spot tertentu. Karena saking banyaknya orang India, pantas saja di sana ada resto Bollywood hehehe…

Esoknya lagi, dari Interlaken jam 07.05 kami sudah berangkat ke Lucerne. Sengaja kami berangkat lebih awal supaya bisa menikmati Lucerne lebih lama. Alpina Hotel letaknya dekat sekali dengan stasiun kereta Luzern Bahnhof. Saat kami tiba, kamarnya ternyata fully booked dan kami tidak dapat kamar. Padahal kami sudah pesan jauh-jauh hari.

Lion Monument Luzern

Lion Monument di Luzern

Untungnya pihak hotel sudah menyiapkan kamar pengganti buat kami. Kami dipindahkan ke boutique hotel bintang 5, The Hotel - yang jaraknya 150m atau 2 menit jalan kaki dari Alpina, tanpa biaya tambahan. Hotel mewah ini didesign khusus arsitek dari Paris dengan total 25 kamar dengan 1 penthouse.

Design kamar sangat unik dengan lampu minimalis dan bukaan jendela besar yang bisa diatur sendiri. Di setiap kamarnya disediakan DVD dengan film yang bisa ditonton secara bebas. Uniknya lagi, salah satu gambar di film DVD ini dijadikan gambar plafon langit-langit kamarnya. Unik.
Saya cek di situs pemesanan hotel online, ternyata harga kamar ini permalam paling murah hampir Rp 5 jutaan. Weew…. lumayanlah hehehe…

Resepsionis hotelnya sangat memperhatikan jumlah orang yang menginap, tidak hanya di sini tapi juga hotel lain. Kami yang berlima agak kerepotan ya mesti main petak umpet karena kan ngak ekonomis pake 3 kamar, juga kamarnya kecil nggak bisa extrabed, disamping itu postur tubuh anak-anak saya kan kecil-kecil, jadi bisa muat tidur bertiga di ranjang double room.

5 Danau dekat St Moritz

Pemandangan kota St. Moritz dan 5 danau!

Luzern kota yang cantik, kami berjalan keliling Old Town, duduk santai di Lion Monument nya, foto-foto lagi dengan background Water Tower dengan Chapel Bridge, yang pernah kami datangi 5 tahun atau 6 tahun lalu saat anak-anak kami masih kecil dengan ikutan tur.

Nggak terasa sekarang yang besar sudah mau kuliah dan yang kecil akan menyusul tahun depan. Lama saya terdiam di atas jembatan tua ini memaknai perjalanan kali ini, yang terasa jauh lebih berkesan daripada waktu ikut tur dulu. Thanks pak Agung.

Mount Pilatus, gunung sang naga, kami daki setiba di Lucerne. Naik train dari Luzerne menuju Pilatus Kulm, dilanjut naik “the steepest cogwheel in the world” kami akhirnya sampai ke atas.

Pulangnya, sesuai saran ebook TravelHemat Switzerland, kami menggunakan gondola/cable car sampai ke bawah, terus jalan kaki 10-15 menit menuju bus stop untuk naik bus no.1 kembali ke pusat kota Luzern.

Lagi-lagi cuaca tidak bersahabat. Di puncak Pilatus kabut tebal menutupi seluruh pandangan, sehingga kami hanya bisa makan siang saja di atas terus turun.
Rencana ke Mt. Titlis akhirnya kami batalkan mengingat cuaca buruk. Kami akhirnya memilih untuk tinggal di hotel boutique yang unik tersebut lebih lama, menikmati keunikan dan kemujuran yang kami dapatkan, hehehehe…

Junardi di Harder Kulm

Foto Full Team di Harder Kulm

Esoknya, hampir jam 12 kami baru meninggalkan kota cantik Luzern menuju kota perhentian terakhir kami: Geneva. Kami jauh lebih menikmati kota Geneva dibanding Zurich yang sibuk. Chinese food Boki dekat hotel Capitole kami datangi untuk ke 2 kalinya (saat tiba pertama dan sekarang) karena makanannya enak (boleh coba beef with 5 spices nya) dan lumayan murah untuk standard Swiss, kurang lebih 18 CHF/orang.

Tugas hari terakhir di kota ini hanya belanja oleh-oleh sebelum pulang dan yang paling penting hehehe… duduk-duduk santai di English Garden sambil menikmati semburan air mancur icon kota Geneva - Jet d’eau. Ah mantap sekali deh!

Hampir sampai jam 21:00 kami di tempat ini, makan malam pun kami pilih di English Garden dekat Flower Clock, sebelum akhirnya balik ke hotel nonton Euro Cup Spanyol vs Portugal.

Ah, perjalanan yang mengesankan ini akhirnya harus berakhir juga. Siap untuk kembali hidup normal….sok harinya. Seharusnya kami mendapat jemputan dari Etihad Airlines, namun kami harus berangkat pagi mengejar train ke airport yang jam 7 pagi. Perjalanan ke airport Geneva hanya memakan waktu 6 menit aja, sedang bus atau taksi 20 menit. Ke 2 anak remaja kami Yohan dan Yovan, tidak ikut pulang, berangkat ke Frankfurt jam 9.00 sedang flight kami ke Jakarta jam 11.15.

Semuanya lancar, akhirnya kami tiba di tanah air hari Jumat 29 Juni 2012 jam 14.15. Sebuah akhir perjalanan yang indah, berkesan, dan dashyat berkat dukungan ebooknya pak Agung Basuki dan semua saran2nya lewat balasan email yang cepat kepada kami.

Many thanks!

Salam,
Junardi Sarmili
Kedoya-Jakarta

NB: Oh ya perjalanan Glacier Express dari Zermat ke St. Moritz nya kami ditempatkan di First Class karena ternyata banyak tempat kosong. Inilah hasil dari kekuatan bertanya dan meminta pak hehehe…

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php