Didukung oleh:






 

Le Mont Saint Michel (Bag. 3)

Kastil ‘Negeri Dongeng’ di Prancis Utara

Oleh Agung Basuki

Tempat wisata yang satu ini sangat unik dan masih jarang dikunjungi oleh wisatawan asal Indonesia. Lantaran keunikannya inilah, maka Agung Basuki (pemilik situs TravelHemat.com, TravelHematShop.com dan RentVillaBali.com) menyempatkan diri untuk berkunjung ke Prancis Utara, tepatnya di daerah Normandie, demi menyaksikan keindahan dari salah satu cagar budaya internasional ini. Anda bisa menikmati laporan perjalanannya dalam beberapa serial artikel di bawah ini. Silakan menikmati…

***

Le Mont Saint Michel saat pasang surut

Biara, Benteng, Penjara… Angker?!

Melewati anak tangga batu yang berjumlah ratusan, sampailah saya di pintu masuk gedung utama dari bangunan Abbaye di mana setiap pengunjung yang ingin memasuki komplek Abbaye diharuskan membayar tiket sebesar 7 Euro untuk pengunjung dewasa dan 4 Euro untuk remaja dan anak-anak.

Adalah seorang uskup bernama Aubert dari Avranches, yang pada suatu hari di tahun 708 Masehi mendapat penglihatan untuk membangun sebuah bangunan bagi para biarawan di sebuah pulau karang terpencil di tengah laut sebagai symbol dikalahkannya kekuatan jahat (yang dilambangkan dengan naga) oleh bala tentara surga yang dipimpin oleh Saint Michael.

Hal itu baru diwujudkan pada abad ke-10 ketika kaum Benedictin berhasil menemukan sebuah pulau karang di lepas pantai utara Prancis yang sangat sesuai untuk dijadikan sebuah bangunan biara. Mulanya, pembangunan hanya dilakukan pada bagian paling tinggi dari pulau karang tersebut yang terdiri atas sebuah gereja dan menaranya, serta beberapa bangunan sebagai tempat tinggal para biarawan. Di bagian puncak menara gereja, pada tahun 1897 dipasang patung perunggu berlapis emas murni dari Saint Michael (yang dalam bahasa Prancis dikenal dengan Saint Michel) yang berdiri membawa pedang terhunus dan sebuah timbangan sebagai lambang keadilan. Saint Michel digambarkan berhasil mengalahkan kejahatan, menginjak sang naga dengan kedua kakinya.

Seiring berjalannya waktu, di bagian lain dari pulau karang tersebut mulai ditinggali oleh masyarakat dari luar, sehingga terbentuklah sebuah kota kecil di pulau karang yang terjal dan tak seberapa besar tersebut.

Ketika Eropa dilanda peperangan selama beratus-ratus tahun semenjak abad ke-14, tempat yang seharusnya menjadi pusat peribadatan tersebut berubah fungsi menjadi sebuah benteng pertahanan. Untuk itu maka di sekeliling pulau tersebut dibangun tembok-tembok tebal yang tinggi menjulang. Karena itulah, saat ini para turis bisa menemukan corak arsitektur dengan dominasi gaya religius di bagian atas, sementara di bagian bawah gaya arsitekturnya lebih terkesan kokoh layaknya kebanyakan bangunan militer Eropa di abad pertengahan.

Mirip di setting film abad pertengahan

Di masa-masa terjadinya peperangan itulah, banyak para tawanan perang yang dikirim ke sana. Karena lokasinya yang sangat strategis, terasing di tengah-tengah laut, maka disamping berfungsi sebagai benteng, maka Le Mont sekaligus adalah penjara yang paling ditakuti. Hal ini mengingatkan saya pada penjara Alcatraz di Amerika, yang juga didirikan di atas sebuah pulau karang terpencil, khususnya bagi para penjahat kelas kakap.

Pengaruh arsitektur Gothic – Romanesque terlihat mendominasi sebagian besar gedung Abbaye. Pilar-pilar berukir berbentuk bulat berukuran besar dapat ditemukan di hampir setiap bagian gedung biara, sementara ornament gothic berbentuk runcing yang berkesan tajam terdapat pada sudut-sudut bagian luarnya. Meski demikian, situasi romantis yang flamboyant, yang sebenarnya sangat kontras dengan kesan kokoh dan angker yang terlihat di bagian luar Abbaye, terlihat sangat kuat pengaruhnya di bagian dalam gedung gereja di mana terdapat mosaic berwarna-warni pada bagian kaca pada jendela-jendela berukuran raksasa di bagian atas gereja. Keindahan menjadi semakin sempurna tatkala sinar matahari menerobos masuk ke dalam gereja melalui kaca bermosaik tersebut, membiaskan cahaya warna-warni yang sangat indah di dalam ruangan.

Keindahan lain yang menakjubkan adalah ketika keluar dari gedung gereja, sebelum memasuki ruangan bagi para biarawan, terdapat sebuah taman bunga di sebuah tempat terbuka berbentuk persegi empat, dikelilingi deretan pilar-pilar kecil yang tinggi menjulang, berjajar membentuk sebuah koridor panjang dengan atap berbentuk melengkung. Wow, bagi saya, ini adalah sebuah kejutan tersendiri, mengingat les galleries du cloitre de la Marveille, nama taman bunga yang dibangun pada abad ke 13 tersebut berada di salah satu bagian tertinggi dari sebuah pulau karang. Walau tidak terlampau luas, taman bunga satu-satunya di Le Mont ini kelihatannya sengaja dibuat untuk menetralisir nuansa seram dan misterius yang terkesan pada bagian-bagian gedung lainnya.

Saya sendiri sanggup membayangkan betapa menyeramkan suasana di tempat ini ketika malam tiba. Bayangkan saja, ketika tempat ini masih berfungsi sebagai benteng dan penjara, berapa banyak orang yang kehilangan nyawanya di sini? Bayangan akan kengerian di masa lalu itu terjawab secara lugas tatkala saya memutuskan untuk mengunjungi sebuah museum ‘khusus’ di bagian gedung lainnya: Torture Museum di Maison de Du Guesclin!

Torture Museum

Dari namanya saja, saya sudah dapat menduga sajian apa yang bakal saya temukan ketika melangkahkan kaki memasuki museum yang satu ini. Berbagai peralatan yang di masa lalu dipergunakan untuk menyiksa para tawanan perang, berikut beberapa ‘visualisasi’ dari proses penyiksaan yang pernah terjadi, dipamerkan di tempat ini. Karena itu tak heran jika kebanyakan para turis enggan bermalam di tempat ini sekalipun di komplek Le Mont ini tersedia beberapa rumah penginapan sederhana. Disamping harganya yang super mahal –tarif 1 malam/kamar berkisar antara 250 – 400 Euro- untuk sebuah kamar sempit berfasilitas sederhana, keangkeran tempat ini, apalagi di malam hari, tentu menjadi alasan yang lainnya.

Menurut seorang tur guide local yang memandu saya berkeliling museum ‘antik’ ini, pada waktu-waktu tertentu di malam hari, di daerah Le Mont ini kerap terdengar derap langkah kuda ataupun suara derap sepatu orang yang sedang berbaris; namun ketika dicari dari mana suara tersebut berasal, tidak pernah ditemukan wujud apapun. Sesekali juga pernah diceritakan oleh para turis yang memiliki keberanian ekstra untuk menginap di tempat ini, mereka melihat kelebatan bayangan orang berpakaian a la tentara abad pertengahan diantara kabut yang turun di malam hari. Namun ketika didatangi ataupun disorot dengan cahaya lampu senter, bayangan tersebut menghilang.

Mungkin ada yang mau mencoba untuk menginap di tempat ini?

***

Le Mont Saint Michel termasuk dalam destinasi wisata yang dikunjungi dalam rute perjalanan yang tertulis di e-book serial TravelHemat Eropa 1. Silakan dapatkan panduan dan petunjuk lengkapnya, di sini!

<< Le Mont Saint Michel (Bag. 1)

<< Le Mont Saint Michel (Bag. 2)