Le Mont Saint Michel (Bag. 2)
Kastil ‘Negeri Dongeng’ di Prancis Utara
Oleh Agung Basuki
Tempat wisata yang satu ini sangat unik dan masih jarang dikunjungi oleh wisatawan asal Indonesia. Lantaran keunikannya inilah, maka Agung Basuki (pemilik situs TravelHemat.com, TravelHematShop.com dan RentVillaBali.com) menyempatkan diri untuk berkunjung ke Prancis Utara, tepatnya di daerah Normandie, demi menyaksikan keindahan dari salah satu cagar budaya internasional ini. Anda bisa menikmati laporan perjalanannya dalam beberapa serial artikel di bawah ini. Silakan menikmati…
***
Mandi Cahaya di Waktu Malam
Kota terdekat dengan Le Mont, Pontorson, baru saja kami lalui. Di Pontorson, banyak terdapat hotel, restoran, café dan supermarket yang sengaja didirikan untuk menampung limpahan turis yang ingin bermalam di daerah Le Mont. Saat matahari terbit atau terbenam, pesona keindahan Le Mont dapat dinikmati dengan jelas dari Pontorson ini. Apalagi saat langit sudah gelap total, Le Mont tampak sangat indah diterangi oleh cahaya lampu ribuan watt, yang membuatnya bak pulau mercusuar yang terang benderang di tengah laut lepas. Karena itu, meski terhitung sebagai kota kecil yang berpenduduk kurang dari 2000 jiwa, Pontorson tampak penuh sesak dan ‘hidup’, terutama di musim panas, saat turis banyak berdatangan ke daerah itu.
Sebuah jalan beraspal yang cukup luas dan panjang sengaja dibangun untuk menghubungkan Le Mont dengan daratan terdekat demi memudahkan kunjungan wisatawan. Tempat parkir mobil terletak di sisi kanan, sementara untuk bus, disediakan area parkir agak di bawah, yang bersandingan dengan laut lepas. Di tempat parkir bus tersebut terdapat papan pengumuman yang isinya mengatakan bahwa semua kendaraan (bus) sudah harus meninggalkan area parkir paling lambat jam 18.30., karena pada saat itu arus pasang naik dari laut akan mulai menggenangi daerah tersebut sampai keesokan harinya.
Menyaksikan sendiri keindahan Le Mont dari luar membuat jantung saya berdebar-debar lantaran terlalu merasa ‘exciting’. Layaknya kebanyakan bangunan kastil kuno seperti yang sering digambarkan pada cerita dongeng masa lalu, deretan bangunan yang bersusun-susun tinggi menjulang yang mirip piramid dengan paduan gaya Gothic-Romanesque-Flamboyant ini, menurut saya cenderung mirip sebuah benteng pertahanan daripada sebuah bekas biara. Tembok-tembok tebal dari batu yang mengelilingi bagian luar Le Mont menambah kesan kokoh sekaligus angker pada bangunan yang mulai didirikan pada abad ke-10 Masehi tersebut.
Setelah mendaki beberapa anak tangga batu, melalui pintu masuk berupa ‘viaduct’ dari susunan bebatuan di sebelah kiri, Porte de l’Avancee, saya tiba di Grande Rue, satu-satunya jalan ‘besar’ (terjemahan ‘Grande Rue’ dalam bahasa Indonesia = jalan besar) dari batu yang lebih tepat disebut ‘kampung’ saking sempitnya. Tepat di sebelah kiri Grande Rue, dengan mendaki beberapa anak tangga sempit, terdapat pusat informasi turisme yang memberikan peta Le Mont secara gratis.
Menyusuri sepanjang Grande Rue yang terus mendaki ke arah bangunan utama, di sisi kiri kanannya banyak terdapat toko-toko souvenir, restoran, café, dan juga beberapa rumah penginapan. Jalan sempit berbatu itu penuh sesak oleh segala macam ornamen yang bergaya abad pertengahan sehingga ketika berada di sana, saya merasa seolah-olah sedang berada di era ‘ksatria berbaju zirah’. Dan ketika hari semakin siang, maka suasana penuh sesak itu akan semakin menjadi-jadi dengan serbuan rombongan turis, sehingga untuk sekedar berjalan pun, saya harus rela berhimpit-himpitan ‘shoulder-to-shoulder’ dengan turis-turis lainnya.
Pancake dan Omelette Termahal di Dunia
Sesekali, dalam perjalanan mendaki menuju Abbaye du Mont Saint-Michel, yang terletak di bagian teratas dari pulau karang itu, saya menyempatkan memasuki beberapa toko souvenir ataupun sekedar melihat daftar menu restoran yang dipampang di dinding luar. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui harga-harga yang tertulis di sana benar-benar di luar batas nalar.
Sebuah paket pancake atau omelette yang dibuat secara tradisional made in La Mere Poulard, restoran yang paling terkenal di komplek Le Mont, dijual dengan harga 25 Euro (1 Euro = =/- Rp 14.000)!! Meski kelihatannya ‘nyonya’ yang satu ini adalah symbol kebanggaan Le Mont, saking banyaknya produk makanan yang dijual di daerah itu yang memakai embel-embel nama ‘La Mere Poulard’ –mulai dari pralines, biscuit, es krim, nama restoran, nama toko bahkan nama penginapan- saya tidak tertarik sama sekali untuk mencicipi kehebatan dan keistimewaan hasil karya La Mere Poulard ini. Jika biasanya saya selalu bersemboyan: When in Rome, eat as Romans do, alias selalu mencoba makanan khas local; kali ini hal itu tidak berlaku buat saya.
Yang mengherankan, meskipun memasang harga selangit, restoran La Mere Poulard senantiasa penuh sesak diantre pengunjungnya. Bahkan, banyak calon pembeli yang rela berdiri berlama-lama di luar restoran, sekedar menunggu giliran untuk bisa mencicipi hidangan restoran tersebut.
Sumur Bertuah
Dalam perjalanan menuju bangunan utama di puncak bukit, saya menyempatkan diri untuk singgah pada sebuah sumur tua yang sudah mengering di kaki Abbaye du Mont Saint Michel. Sumur bernama Chemin des Remparts ini dikenal sebagai pembawa keberuntungan bagi pengunjung yang melemparkan koin ke dalamnya. Dikarenakan oleh mitos itulah, maka para turis beramai-ramai melemparkan koin ke dalamnya; dan ketika saya melongokkan kepala ke bagian dalam sumur tersebut, terlihat di dasarnya kilauan beraneka jenis koin yang bisa dipastikan berjumlah sangat banyak tersebut.
Le Mont Saint Michel termasuk dalam destinasi wisata yang dikunjungi dalam rute perjalanan yang tertulis di e-book serial TravelHemat Eropa 1. Silakan dapatkan panduan dan petunjuk lengkapnya, di sini!








