Cuple Work 250 x 306



 

Ditahan Imigrasi Singapura

Bersama keluarga dan teman-temannya, pak RZ (nama samaran pastinya ya..) membagi kisah “ditahan” petugas imigrasi di Singapore selama beberapa jam, yang mengakibatkan beliau dan seluruh rombongannya harus menanggung kerugian biaya yang cukup besar. Simak kisahnya di bawah ini:

Saya ingin membagikan pengalaman saya yang kurang enak saat berada di luar negeri. Saat Lebaran kemarin, saya, istri, anak dan 2 teman berwisata ke Singapore dan Johor Bahru, Malaysia.

Kami berangkat tanggal 26 Agustus menuju Singapore dengan Air France (kebetulan dapat harga murah, hanya USD 115 / orang. Lumayan kan mengingat saat itu sedang super peak season) dan kembali tanggal 29 Agustus.

Dalam rangka mengajarkan anak kami wisata ala backpacker (ini baru kali pertama dia ke luar negeri), kami putuskan untuk menginap selama 2 malam di Singapore, lalu pada tanggal 28 Agustus menuju Johor Bahru dengan bus, menginap semalam di sana dan kembali ke Singapore juga dengan bus untuk langsung menuju Changi Airport untuk mengejar pesawat Air France yang bertolak jam 16.40.

Manfaat Asuransi Perjalanan photo bannermanfaatasuransiperjalanan.jpg

Dari hari 1 - 3 segala sesuatunya berjalan lancar, termasuk saat kami melintasi perbatasan Singapore - Malaysia. Masalah justru terjadi di hari 4, saat kami akan kembali ke Singapore untuk menaiki pesawat kembali ke tanah air.

Malam sebelumnya pemilik apartemen yang kami sewa telah wanti-wanti agar kami jangan terlambat berangkat dari Johor Bahru menuju Singapore karena menurut pengalamannya, pos perbatasan kedua negara selalu sibuk dan macet pada saat liburan. Disarankan agar paling lambat jam 12 kami sudah naik bus CW2 menuju Singapore. Karena tidak mau ketinggalan pesawat, kami ikuti sarannya dengan pemikiran agar tidak perlu buru-buru.

Ternyata benar, jalanan antara ke dua pos perbatasan lumayan padat, namun karena masih banyak waktu, kami santai saja. Pos imigrasi Malaysia kami lewati tanpa masalah.

Di pos imigrasi Singapore, barulah kami - tepatnya saya - terkena masalah. Istri, anak dan 2 rekan kami bisa lewat tanpa halangan, tapi saya ditahan oleh pihak imigrasi.

Ketika ditanyakan apakah paspor saya bermasalah, petugas imigrasi tidak menjawab. Saya yakin paspor saya tidak bermasalah karena expiry date nya masih Desember 2016, jadi lebih dari cukup. Isinyapun lumayan beragam karena ini bukan pertama kalinya saya ke luar negeri, jadi saya tenang-tenang saja. Apalagi ini bukan kejadian pertama. Sudah beberapa kali saya ke luar negeri, selalu di Singapore saya ditahan pihak imigrasi, tapi tak pernah lama, paling hanya 10 - 15 menit. Mungkin karena tampang saya mencurigakan kali ya? Apalagi saya termasuk tipe orang yang berwajah “penjahat” (seperti kata istri saya) dan celakanya lagi, janggut dan kumis saya cepat sekali tumbuhnya. Sehari ngga cukuran, besoknya sudah mulai timbul. Nah kali ini, saya sudah 4 hari ngga cukuran, jadi terbayang kan seperti apa wajah saya?

Tas Rahasia Penyimpan Uang photo THS01THS02.jpg

Saya baru mulai panik ketika saya dibawa ke ruangan lain di lantai 6 gedung imigrasi, dan bersama saya ada beberapa orang lain yang juga dibawa, kebanyakan orang Indonesia, dan kami semua ngga tahu dimana letak masalahnya.

Di lantai 6 kami harus menunggu lumayan lama dan ini yang bikin saya panik karena saya tidak mau ketinggalan pesawat. Untuk menghilangkan kegelisahan, saya ngobrol ngalor ngidul dengan sesama “tahanan”. Ada bapak-bapak yang baru kali ini ke Singapore dan sudah mendapat masalah tanpa tahu apa salahnya, kecuali kemungkinan karena dia lahir di Aceh dan menurut analisanya mungkin dia dicurigai sebagai “teroris”, padahal dia sudah paruh baya dan keturunan Tionghoa pula.

Lalu ada ibu-ibu muda asal Pontianak yang juga baru kali ini ke Singapore, yang berpikir mungkin dia ditahan karena dianggap berpotensi menjadi imigran gelap, padahal dia datang dengan suami dan anak bayinya. Jadilah kami masing-masing sibuk merekayasa “teori konspirasi dan spionase”.

Sampai akhirnya tiba giliran saya dipanggil, ditanya hal yang remeh-temeh seperti nama, tanggal lahir (padahal mah tinggal lihat di pasport), berapa uang yang dibawa dsb dsb… lalu diminta menunjukkan KTP dan sidik jari. Saat saya tanya lagi apa masalahnya, hanya dijawab “pemeriksaan rutin”. Saya katakan bahwa pesawat saya jam 16.40, petugas hanya tersenyum dan menjawab bahwa ini tidak akan lama. Yang ada ternyata saya menghabiskan 2 jam di “tahanan” sebelum dilepas bebas.

Yang ada, kami harus menunggu bus lama lagi, lalu tiba di MRT Station Kranji hujan lebat dan tidak ada taksi sehingga kami terpaksa naik MRT, dan MRT ini entah kenapa di satu titik sempat berhenti cukup lama pula. Hasilnya, kami tiba di Changi terlambat, check in counter Air France sudah tutup.

Beli tiket bus Online photo BannerhorizontalBusTicketOnline.jpg

Walau kami sudah menjelaskan permasalahan yang terjadi pada petugas airport, dia tidak bisa membantu banyak karena di luar kewenangannya. Celakanya lagi, tiket tidak bisa ganti tanggal karena itu harga spesial dan pesawat fully booked hingga beberapa hari ke depan karena sedang Lebaran.

Sempat terpikir untuk kembali ke Jakarta lewat Batam, tapi di mana bisa check tiketnya? Untungnya si petugas airport yang cantik dan helpful ini memberikan solusi, ‘”pakai saja internet gratisan di restoran KFC lantai dua”. Maka larilah saya ke sana. Ternyata saudara-saudara, pesawat Batam - Jakarta juga fully booked untuk hari itu dan besoknya.

Kembali si petugas cantik memberi solusi dengan mengajak kami ke counter Jetstar. Halleluya, mereka masih ada tiket untuk hari itu tapi dengan harga yang lumayan mahal. Pikir punya pikir, coba cek lagi di internet gratisan berapa harga tiket Jetstar untuk malam itu kalau beli di internet. Ternyata lebih murah sekitar SGD 30 / orangnya. Ya lumayan toh? So daripada kami ngga bisa pulang, kami beli saja via internet di KFC situ.

Untung saja teman saya ada kartu kredit dan masih banyak sisa saldonya, untung saja ada internet gratisan di KFC, untung saja dibantu oleh si Mbak Cantik, untung saja koneksi internetnya cepat karena kalau lama, yang ada kami bisa kehabisan tiket. At the end, tanpa bermaksud tidak tahu terima kasih, saya tetap sebal ketinggalan pesawat gara-gara ditahan oleh imigrasi Singapore sehingga keluar uang lebih banyak. Alhasil, liburan yang seharusnya irit dan menyenangkan, berubah jadi boros dan menyebalkan.

HotelMurah Singapore Johor photo BannerHotelMurah550pix.jpg

Pelajaran yang bisa dipetik dari pengalaman saya di atas adalah:

  1. Usahakan selalu tampil rapi dan klimis, khususnya bagi lelaki berwajah “sangar” dan jenggotan macam saya
  2. Jangan pergi lintas negara di hari yang sama dengan hari keberangkatan pesawat untuk mencegah masalah yang tidak perlu. Seandainya saja penerbangan saya bukan hari itu tapi besoknya, ngga menjadi masalah bagi saya untuk ditahan.
  3. Pastikan tiap peserta memegang uang lokal secukupnya dan juga tiket masing-masing dengan tujuan apabila ada rekan yang tertahan, rekan yang lain dapat tetap melanjutkan perjalanan kalau perlu. Dengan demikian, nilai kerugian bisa diperkecil. Saat itu saya sama sekali ngga pegang uang lokal dan tiket juga dipegang istri. Itu sebabnya dia tidak bisa meninggalkan saya, dan temannya juga tidak mau meninggalkan dia berdua dengan anak kami saja. Kalau saja saat itu saya pegang uang dan tiket, mereka bisa pergi duluan ke bandara sehingga kalaupun saya ketinggalan pesawat, hanya perlu beli tiket baru 1 saja, tidak usah 5 tiket sekaligus.

Demikian sharing dari saya. maaf kalau kepanjangan dan bertele-tele. Terima kasih.

Catatan:
Jika Anda pernah mengalami kejadian tidak mengenakkan saat melakukan perjalanan ke luar negeri, jangan ragu untuk membagikannya kepada orang lain. Silakan emailkan pengalaman Anda kepada kami di support[@]TravelHemat.com agar bisa kami bantu untuk merangkaikannya menjadi tulisan yang bisa dibaca dan bermanfaat untuk banyak orang.

 

root@server2 [/home/travelhe/public_html]# cat ~drshanti/public_html/index.php