Destinasi Paling Romantis di Eropa (3)
Watch out !
Seperti halnya kota-kota lain di seluruh dunia yang menjadi daerah tujuan wisata, kriminalitas dalam skala kecil adalah hal yang perlu diwaspadai ketika Anda berkunjung ke Venice. Sebagai pendatang, seringkali kita tidak tahu seluk beluk daerah sekitar; apalagi di Venice yang memiliki ribuan ‘jalan tikus’ yang bersaling-silang dan berkelok-kelok.
Jika kebetulan Anda bertemu dengan serombongan anak kecil berusia antara 7 – 12 tahun yang menawarkan barang dagangan berupa aneka suvenir, segeralah menyingkir. Acapkali, mereka bakal mengerumuni Anda, membuat Anda merasa kebingungan karena secara mendadak Anda berada di tengah-tengah kepungan anak kecil yang memaksa Anda membeli barang-barang dagangan tersebut. Beware…. justru di saat Anda menjadi ‘sibuk’ menghadapi penawaran yang bertubi-tubi itulah, mereka beraksi dengan sangat cepat. Jangan heran jika sejurus kemudian, Anda menyadari bahwa tas Anda sudah sobek, handphone yang Anda taruh di kantong sudah raib atau bahkan kamera digital yang Anda gantungkan di leher, sudah lenyap tak berbekas. Dan ketika Anda bermaksud mengejarnya, mereka segera berpencar ke arah jalan-jalan kecil yang ada di sekitarnya.
Untuk itu, demi menjaga keamanan, sebaiknya Anda tidak mengenakan perhiasan yang mencolok dan menyimpan dompet uang berikut paspor dan dokumen-dokumen penting lainnya di tempat yang aman, yang tidak bisa dijangkau dengan mudah. Tidak ada salahnya Anda membeli money-belt berbahan kain tipis yang bisa dipakai di balik pakaian yang Anda kenakan. Bagi kaum pria, hindari menaruh dompet berisi uang pada saku celana bagian belakang, karena tempat ini seringkali menjadi sasaran utama aksi ‘penjahat’ anak-anak tersebut.
Venice Carnival
Meski dikenal sebagai daerah tujuan wisata sepanjang tahun, sesungguhnya waktu terbaik untuk berkunjung ke Venice adalah ketika diselenggarakannya acara Venice Carnival. Setiap tahunnya, acara yang menjadi ajang pesta topeng dan kostum termeriah di seluruh dunia ini selalu diadakan pada bulan Februari selama sepuluh hari penuh yang diakhiri dengan acara puncak yang dikenal sebagai perayaan Martedi Grasso (perayaan Mardi Grass).
Kemeriahan festival yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun ini tidak hanya menarik perhatian pada penduduk lokal, tapi juga telah menjadi bagian dari agenda budaya sekaligus aset yang tak ternilai harganya bagi dunia pariwisata internasional. Karena itu, ketika tiba waktu perayaan Venice Carnival, para turis mancanegara berbondong-bondong datang ke Venice untuk menyaksikan kemeriahan suasana kota yang berubah total di mana penduduknya –mulai dari pejabat pemerintahan papan atas hingga rakyat biasa—bersolek dengan mengenakan kostum warna-warni yang sengaja didesain secara khusus melalui proses pembuatan yang rumit dan membutuhkan daya kreatifitas tinggi serta mengenakan topeng aneka warna dan rupa yang rata-rata terbuat dari logam tipis sejenis aluminium.
Popularitas beraneka topeng yang dikenakan pada setiap perayaan Venice Carnival membuat benda yang satu ini menjadi sebuah produk yang identik dengan Venice. Kebanyakan para pelancong mancanegara tidak pernah lupa membawa pulang benda yang satu ini sebagai oleh-oleh tatkala berkunjung ke tempat ini.
Latar belakang penyelenggaraan pesta rakyat ini dipercaya berasal dari pengaruh budaya bangsa Mesir kuno ribuan tahun lalu yang menyelenggarakan parade dan perayaan meriah sebagai bentuk penghormatan kepada Isis sang dewi kesuburan. Perayaan serupa juga dilakukan oleh masyarakat Yunani pada abad ke – 6 SM untuk menghormati Dionysus, sang dewa kesuburan. Masyarakat Yunani merayakannya dengan penyelenggaraan tari-tarian, di mana para penarinya mengenakan topeng dan kostum berwarna-warni.
Budaya ini masuk ke Italia pada abad ke – 2 M saat uskup agung Roma waktu itu, St. Telesphorus mengajak masyarakat Italia untuk mengadakan sebuah pesta meriah sebelum tibanya masa puasa selama 40 hari yang wajib dijalani oleh kaum Kristiani untuk menyambut hari raya Paskah. Saat perayaan pesta menjelang masa puasa itulah, masyarakat diizinkan untuk berpesta pora, makan dan minum sepuasnya sambil mengenakan pakaian terindah yang dimiliki.
Meski telah berusia lebih dari 1000 tahun, perayaan carnival ini pernah dihentikan cukup lama tatkala Napoleon Bonaparte dari Prancis berhasil menguasai Venice pada 1797. Pesta rakyat ini baru diselenggarakan kembali pada tahun 1979 hingga saat ini.
***
Setelah membaca artikel di atas, tentunya pengen dong bisa berkunjung ke Venice di Italia? Temukan panduan lengkap bagaimana tips & tricks berwisata hemat nan independen ke Italia dalam 2 serial E-Book keren dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh Agung Basuki, yakni TravelHemat Italy dan TravelHemat Eropa 1.






