Didukung oleh:






 

Dedikasi Pahlawan Sutera Thailand (2)

Agar menjadi rumah tinggal sekaligus tempat bekerja yang nyaman, Jim melakukan berbagai adaptasi fungsional di bagian interior bangunan dengan melakukan penggabungan desain khas Thailand dengan unsur-unsur budaya negara lain. Misalnya, pada beberapa bagian frame jendela, Jim memasang ornamen yang menampilkan ukiran pasukan penjaga tradisional Myanmar yang disebut Nat. Sementara di bagian bawah pintu-pintu pada ruang tertentu, dipasang sebilah papan melintang setinggi 20an sentimeter yang konon menurut kepercayaan masyarakat Thai kuno dapat mencegah masuknya roh-roh jahat yang bisa membawa akibat buruk buat penghuni rumah. Sedangkan untuk perabotan rumah, Jim banyak menggunakan pernak-pernik porselen dan furniture bergaya China yang digabungkan dengan perabot kayu asal Kamboja, Myanmar, Thailand dan India. Secara keseluruhan, konstruksi komplek perumahan Jim Thompson baru selesai dikerjakan pada tahun 1959.

Jim Thompson House

Situasi halaman Jim Thompson House

Untuk mencapai tempat ini terhitung mudah. Cukup menumpang BTS (skytrain) jurusan National Stadium (W1) dan berhenti pada stasiun terakhir di dekat komplek perbelanjaan MBK yang terkenal itu. Setelah itu, dengan berjalan kaki kurang lebih 200 meter menyusuri Soi Kasemsan 2, tepat pada rumah yang terletak di sebelah kiri pada ujung gang buntu yang berbatasan dengan Sungai Khlong Maha Nak, di situlah letak rumah Jim Thompson. Di sana, bagi mereka yang ingin berbelanja kain sutera Thailand berkualitas tinggi, terdapat showroom authentic yang menjual produk sutera asli buatan Jim Thompson Thai Silk Company.

Tempat ini terbuka untuk umum setiap hari mulai jam 09.00 hingga 17.00. Setiap pengunjung diwajibkan membayar 100 Bath (1 Bath = +/- IDR 350) sebagai cover charge. Agar bisa mendapatkan informasi yang akurat, tersedia guided tour dalam berbagai bahasa setiap setengah jam, di mana kita diajak berkeliling seluruh komplek perumahan sekaligus menikmati keindahan ‘hutan tropis’ mungil di bagian halaman belakang.

Dalam guided tour berdurasi 45 menit itu, pengunjung bisa menyaksikan beberapa peralatan pintal kuno yang pernah dipakai untuk memproduksi kain sutera, menikmati keindahan bagian interior rumah Jim Thompson yang menyimpan berbagai koleksi benda antik bersejarah yang didapatkannya dari berbagai tempat di Asia sekaligus mengagumi kepiawaiannya memadukan berbagai unsur seni arsitektur berbagai bangsa menjadi sebuah kesatuan nan harmonis dan nyaman untuk dinikmati. Hanya sayangnya, pengunjung tidak diizinkan mengambil foto pada bagian interior rumah. Jadi jika Anda bisa melihat gambar-gambar interior rumah Jim Thompson di halaman ini, hal itu saya lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang tour-guide yang memandu rombongan saya berkeliling rumah.

Alat pintal di JTH Bangkok

Salah Satu Mesin Pintal Sutera Yang Dipamerkan di Museum

Pengetahuannya tentang akulturasi berbagai budaya tak lepas dari kesukaan Jim untuk traveling ke berbagai tempat, hal yang sekaligus menjadi penggalan akhir dari perjalanan hidupnya di kemudian hari. Ketika berlibur ke daerah Cameroon Highlands di Malaysia bersama beberapa temannya pada bulan Maret 1967, Jim tidak pernah kembali lagi ke ‘istana’nya. Hingga saat ini, keberadaannya masih menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengatakan bahwa mereka tersesat di tengah hutan. Sementara versi lainnya mengatakan mereka menjadi korban pembunuhan misterius di perjalanan.

Andai saat ini dia masih hidup, Jim pasti bangga melihat hasil jerih payahnya tidak sia-sia. Dan andai pada tahun 1940an lalu Jim sempat mampir ke Indonesia, dia pasti tertarik dengan keindahan kain batik Indonesia. Jika itu terjadi, bisa jadi popularitas kain batik kita saat ini bakal sudah mendunia layaknya sutera Thailand.***

Temukan eksotisme Asia Tenggara melalui ebook yang berisi panduan berlibur hemat ke 3 kota utama di Asia Tenggara, yakni Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok, dalam serial Ebook berbahasa Indonesia DI SINI!

Kebun Tropis di JTH Bangkok

‘Hutan’ Tropis Mungil di Pelataran Museum