CERITA SERU JALAN–JALAN GRATIS KE KL 24-26 APRIL 2009 (Bag. 3)
Hari Ketiga, Minggu 26 April 2009
Mendaki SkyBridge di KLCC, Batu Caves & Last Minutes Shopping di SOGO KL

Antrian Tiket SKY Bridge
Jam 06:30 pagi kami sudah berkumpul di lobi hotel. Meskipun harus melewatkan makan pagi yang disiapkan oleh hotel, kami merelakannya demi keinginan untuk bisa naik ke Skybridge di Menara Petronas.
Tiba di menara Petronas dengan menumpang Rapid KL (kereta bawah tanah), jarum jam menunjukkan angka 06:45. Ternyata kami bukan rombongan pertama yang mengantre untuk bisa naik ke menara kembar setinggi 88 lantai tersebut. Sudah ada ratusan orang lain yang telah mendahului kami, bahkan mereka yang berada di urutan pertama antrian, ternyata sudah tiba di tempat tersebut pada jam 5 pagi!
Kesempatan untuk naik ke Skybridge merupakan hal yang istimewa sekaligus langka. Meski tidak dipungut bayaran sepeserpun untuk naik ke sana, pihak pengelola hanya menyediakan 1200 tiket saja setiap harinya. Hal ini justru menurut saya, membuat banyak orang penasaran dan rela untuk berlelah-lelah mengantri sejak dini hari.
Banyak diantara mereka yang mengantri di sana terlihat masih mengantuk, bahkan ada yang duduk-duduk di lantai maupun yang tiduran di sekitar barisan antrian.
”Ini bisa diterapkan untuk strategi marketing, nih…”, begitu ujar Pak Lukman.
Inilah Sky Bridge
Loket tiket ke SkyBridge sendiri baru dibuka pada jam 08:30. Mendadak, suasana jadi riuh rendah lantaran mereka yang sudah mengantri dari pagi hari tampak bersemangat ketika petugas mulai membagi-bagikan tiket kunjungan gratis. Di tengah situasi seperti itu, eh… ada pula yang berniat menyerobot barisan antrian. Orang bule lagi, hehehehe…. Tentu saja orang bule ini mendapat protes keras dari mereka yang sudah antri terlebih dulu.
Akhirnya, kami pun mendapatkan tiket ’langka’ tersebut. Kami mendapat giliran berkunjung jam 09:15. Rombongan pertama yang terdiri atas 20an orang menaiki lift menuju lantai menara Petronas di mana SkyBridge berada.
Antrian Yang Sesungguhnya
Sebelum naik ke jembatan yang pernah dipakai untuk shooting film The Entrapment (yang diperankan oleh Catherine Zeta Jones dan Sean Connery) tersebut, kami dipersilakan masuk ke galeri yang menunjukkan proses pembangunan menara Petronas. Tak ketinggalan, kami juga disuguhi pertunjukan film 3D tentang Petronas Tower.
Pak Lukman dan Ibu Franciska Pamer Tiket Sky Bridge
Tepat jam 09:15, tiba giliran kami untuk masuk ke dalam lift yang dengan kecepatan tinggi membawa kami ke SkyBridge. Kami diberi waktu 10 menit untuk berada di jembatan yang menghubungkan 2 menara kembar yang pernah menjadi bangunan tertinggi di dunia itu untuk berfoto dan melihat-lihat pemandangan sekitar yang tampak sungguh indah dari ketinggian.
”Puas rasanya akhirnya bisa keturutan juga naik ke SkyBridge setelah 2 kali gagal,” demikian kata pasangan dokter JS. Wibisono dan dokter Natalia saat berada di dalam lift yang membawa kami kembali ke lantai dasar.
Acara selanjutnya adalah, kami berkunjung ke Batu Caves, sebuah kuil Hindu yang dibangun di dalam sebuah gunung batu dan terletak sekitar 16 km dari pusat kota Kuala Lumpur.
Perjalanan dengan taksi dari KL Sentral menuju Batu Caves hanya memakan waktu sekitar 20 menit saja. Kami menyewa 2 taksi dengan ongkos 16MYR/taksi.
Tiba di Batu Caves, kami disuguhi pemandangan spektakuler. Sebuah patung raksasa berwarna kuning emas tampak berdiri kokoh di dekat gerbang masuk ke areal kuil.
Nah, untuk menuju kuil yang terletak di dalam perut gua raksasa tersebut, kami harus rela mendaki anak tangga berjumlah 272 buah. Bu Francisca yang awalnya merasa bahwa perjalanan ke atas ini terlalu berat, akhirnya menerima tantangan untuk melakukan pendakian.
Perjalanan menuju ke kuil Batu Caves dari lantai terbawah tidak hanya melelahkan karena udara yang panas dan matahari yang tengah bersinar terik, tetapi juga sedikit menegangkan lantaran di sisi kiri dan kanan anak tangga, terdapat ratusan kera yang kadang bertingkah jail menggoda para pengunjung.
Pemandangan spektakuler di dalam Batu Caves tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Gua batu kapur raksasa tersebut banyak dihiasi dengan rangkaian stalagnite yang usianya mungkin telah mencapai ribuan tahun. Beragam ornamen khas Hindu tampak di sana-sini. Kami juga berkesempatan menyaksikan beberapa upacara keagamaan yang tengah dilaksanakan di tempat itu. Ini merupakan sebuah pengalaman berharga buat kami.
Selesai kunjungan ke Batu Caves, rombongan bersepakat untuk kembali ke kota KL. Kami mendapat informasi dari Pak Wibisono bahwa SOGO Department Store KL yang terletak dekat hotel tempat kami menginap, tengah melaksanakan program BIG Sale. Mendengar kata ’SALE’, tentu para Ibu jadi bersemangat kembali.
Dengan menumpang taksi (yang masing-masing meminta ongkos 30 MYR), kami kemudian melaju menuju SOGO KL.
Jarum jam masih menunjukkan angka 13:00 saat kami tiba di pelataran SOGO KL dan dalam sekejab, rombongan berpencar untuk berburu produk-produk favoritnya masing-masing. Kami akan berkumpul kembali di pelataran lobi pada jam 14:30 karena setelah ini, kami harus menuju ke KL Sentral untuk kembali ke bandara LCCT.
Penerbangan kembali ke tanah air terbagi atas 3 kloter. Pak JS. Wibisono dan istri kembali ke Medan menumpang pesawat jam 20:00; sementara rombongan Bu Francisca & suami, Bu Eva & suami serta Pak Herie Go kembali ke Jakarta dengan penerbangan jam 19:00. Saya sendiri melanjutkan perjalanan ke Singapore dengan penerbangan jam 19:50.
Waktu 1 jam 30 menit yang diberikan untuk berbelanja di SOGO KL ternyata tidak sia-sia. Bu Francisca yang pengagum berat tas merek BONIA berhasil mendapatkan cukup banyak produk kesayangannya dengan harga sangat murah. Di Surabaya produk yang konon dibandrol dengan harga jutaan rupiah itu, dijual dengan harga sekitar 300an ribu rupiah saja dalam acara sale ini. Demikian pula dengan Pak Herie yang membelikan oleh-oleh berupa perhiasan unik untuk istri tercinta di rumah.
Saat kami hendak kembali ke hotel, kami baru sadar bahwa jalanan yang semula tampak ramai saat kami tiba, mendadak terlihat lengang. Ada terbersit kecurigaan di benak saya, jangan-jangan akan diadakan acara parade atau karnaval yang melintasi daerah tersebut. Ini artinya, rencana untuk menyewa taksi untuk membawa kami ke KL Sentral bisa-bisa harus diurungkan karena taksi tidak bisa datang menjemput ke hotel kami yang letaknya tidak jauh dari SOGO KL.
Dan ternyata benar apa yang kami kuatirkan. Jalanan ditutup total dan taksi tidak bisa datang ke hotel. Terpaksa, dengan barang bawaan yang bertumpuk (dibanding saat hari pertama tiba), kami harus berjalan kaki menuju stasiun monorail terdekat untuk bisa kembali ke KL Sentral.
Untungnya, waktu yang dicadangkan untuk kembali menuju LCCT cukup banyak sehingga kami tidak terlambat tiba di LCCT meski harus mengalami berbagai hambatan. Demikian pula dengan Pak JS. Wibisono yang baru menyadari bahwa handphonenya tertinggal di hotel saat kami hendak mencapai KL Sentral. Meski harus bolak balik ke hotel, kemudian menumpang SkyBus dari KL Sentral menuju LCCT, Pak Wibisono tidak terlambat untuk check in di bandara.
Perjalanan 2 malam 3 hari ke Kuala Lumpur ini sungguh luar biasa. Disamping menambah banyak teman baru, buat saya ini adalah hal yang istimewa karena baru kali pertama inilah TravelHemat.com menyelenggarakan acara jalan-jalan bareng bersama para member setianya.
Saat ini, TravelHemat.com pun tengah menyelenggarakan program promo serupa dengan hadiah ’JALAN-JALAN GRATIS KE MACAU’ untuk 5 pemenang. Siapa tahu Anda kali ini beruntung bisa memenangkan hadiah menarik tersebut? Ayo segera ikutan saja… Syarat dan ketentuan untuk program promo ini bisa dibaca di sini <klik!>








