Moulin Rouge: Erotis + Glamor
Ini adalah bagian ke-3 dari 3 tulisan tentang ‘Sisi Lain Gemerlap Paris’. Agung Basuki (pemilik www.TravelHemat.com dan www.TravelHematShop.com ) menuntaskannya untuk Anda.
Disamping Basilique de Sacre Cœur, salah satu alasan mengapa Butte Monmartre senantiasa dijejali rombongan turis mancanegara adalah bahwa di daerah ini terdapat sebuah gedung kabaret yang dikenal dengan simbol kincir angin berwarna merah: Moulin Rouge. Reputasi Moulin Rouge sebagai salah satu tempat pertunjukan kabaret paling populer sedunia sempat agak goyah lantaran keberadaannya di tengah-tengah lingkungan yang sarat dengan kesan ‘miring’ ini. Berada di 82, Boulevard de Clichy - Place Pigalle, jantung ‘red-light district’ kota Paris—di tengah-tengah kerumunan sex shop, con-artist dan praktek prostitusi serta drug dealer jalanan, membuat sebagian orang enggan bertandang ke sana setelah matahari terbenam, padahal sebagian besar pertunjukan kabaret di Moulin Rouge selalu diadakan saat malam menjelang hingga lewat tengah malam. Namun berkat film musikal box-office berjudul sama pada tahun 2001 yang dibintangi oleh Nicole Kidman dan Ewan McGregor , pamor Moulin Rouge kembali bersinar di tengah-tengah persaingan bisnis kabaret show di Paris.
Memang, selain Moulin Rouge, Paris juga memiliki beberapa tempat pertunjukan kabaret terkenal lainnya. Lido de Paris misalnya yang terletak di 116 bis, Avenue des Champs-Elysees, memiliki reputasi sebagai venue kabaret papan atas yang elegan nan eksklusif, sementara ada juga Crazy Horse Saloon yang terletak tak jauh dari Lido de Paris, atau tepatnya di 12, Avenue George V dan Paradis Latin yang didesain dan didirikan oleh Gustave Eiffel, bertempat di 28 rue Cardinal Lemoine.
Moulin Rouge yang didirikan oleh Toulouse-Lautrec memulai pertunjukan pertamanya pada 6 Oktober 1889, terkenal dengan tarian French cancan -nya yang berdurasi 8 menit di mana para penari mengenakan pakaian penuh rumbai dan renda berwarna merah-putih-biru, warna bendera Prancis. Tampil di panggung Moulin Rouge adalah impian dari sebagian besar penari profesional, seperti halnya tampil di panggung Broadway di New York bagi para pelaku seni drama. Karena itu tak heran jika saat ini, para penari Moulin Rouge setidaknya berasal dari 15 negara yang rata-rata memiliki postur minimal 175 cm bagi penari wanita dan 185 cm bagi pria.
Pertunjukan kabaret di tempat seperti Moulin Rouge ini mampu menyedot perhatian banyak orang lantaran kepiawaian memadukan unsur eksotisme dan erotisme dengan cantik. Sebagian tarian sengaja menampilkan gadis-gadis berpakaian minim dengan bagian dada terbuka alias topless. Bahkan pada event-event besar tertentu, para penari tampil (maaf) bertelanjang bulat. Namun demikian, karena dikemas sedemikian rupa, kesan yang ditampilkan jauh dari vulgar dan ‘murah’.
Gedung yang sanggup menampung 800 penonton dan memiliki 80 waiters ini berjasa besar bagi karir beberapa artis terkenal Prancis seperti Jean Gabin, Henri Garat dan Yvette Guibert. Artis-artis terkenal dunia seperti Liza Minnelli, Frank Sinatra, Mikhail Baryshnikov, Elton John dan Edith Piaf pernah juga tampil di atas panggung bertema ‘Féerrie’ (atau yang dalam bahasa Inggris berarti Fairy Tales/ dunia dongeng) yang setting dekorasinya tidak pernah berubah selama lebih dari 60 tahun terakhir.
Dengan membayar sebesar 90 Euro/orang untuk menonton pertunjukan kabaret kelas dunia berdurasi 90 menit plus setengah botol champagne Prancis, atau 125 Euro/orang termasuk paket makan malam lengkap a la Prancis, rasanya hal tersebut bakal membuat kunjungan ke Butte Monmartre menjadi sesuatu yang patut dikenang.
Dapatkan petunjuk dan panduan lengkap melakukan perjalanan secara independen ke PARIS dalam bahasa Indonesia dalam serial ebook TravelHemat Paris
Pengen belajar bahasa Prancis secara online (tutorial dalam bahasa Indonesia) dengan mudah dari ahlinya? Silakan klik di sini!
Hiburan Khusus (Dewasa) di Paris
Ini adalah bagian ke-2 dari 3 tul isan tentang Butte Monmartre di Paris, sebuah area yang dikenal sebagai obyek wisata ‘dewasa’ di Paris. Kembali, Agung Basuki (pemilik www.TravelHemat.com dan www.TravelHematShop.com ) menyajikannya untuk Anda.
‘Surga’ lelaki
Boulevard de Rochechouart seringkali dipergunakan sebagai tempat parkir bus-bus turis yang mengunjungi daerah Monmartre. Tepat dari statiun metro Anvers ke arah barat melewati stasiun metro Pigalle, Blanche dan Place de Clichy (metro no. 2 jurusan Nation – Porte Dauphine), atau sepanjang Boulevard de Rochechouart hingga Boulevard de Clichy yang kira-kira berjarak 1,5 kilometer, di sinilah pusat surga hiburan lelaki dewasa di Paris.
Apabila Avenue des Champs Elysees dipenuhi oleh toko-toko fashion papan atas, beberapa gerai pamer mobil mewah seperti Mercedez Benz, Citroën dan Peugeot , juga hotel-hotel berbintang di kiri-kanan jalannya, dan jika malam hari daerah ini senantiasa bermandi cahaya hingga disebut-sebut sebagai salah satu jalan paling indah dan gemerlap di dunia, maka Boulevard de Rochechouart dan Boulevard de Clichy di malam hari juga bermandi cahaya –bahkan lebih colorful dan lebih meriah dibanding Avenue des Champs Elysees—yang berasal dari deretan sex-shop dan peep-show , sejumlah hotel ‘jam-jaman’ sekaligus juga beberapa rumah pertunjukan (-maaf-)tari telanjang, diskotek paling terkenal di Paris –La Loco(-motive), hingga pertunjukan kabaret yang terkenal seantero jagad : Moulin Rouge.
Pemilik sex shop, peep-show maupun pertunjukan (maaf lagi…) tari telanjang harus bersaing ketat satu sama lain dalam menggaet pelanggan lantaran lokasi mereka yang berdampingan satu sama lain. Untuk itu, tak heran jika mereka berani memasang papan nama berukuran raksasa dengan menggunakan lampu neon warna-warni yang terang benderang di malam hari dan memasang ‘window-display’ seronok yang secara langsung dapat menghentikan langkah siapapun yang melintas di depannya untuk menikmati sajian ‘gratis’ yang terpampang di etalase masing-masing toko. Mereka yang lewat di daerah tersebut bisa bebas cuci mata (yang mungkin pula disertai jantung berdebar kencang) sambil menahan napas lantaran banyak sekali gambar (maaf…) wanita dan (juga) pria baik itu yang setengah telanjang hingga yang (lagi-lagi…maaf…) telanjang bulat dipertontonkan secara eksplisit dengan berbagai gaya erotis, tanpa malu-malu.
Tak hanya itu, biasanya pemilik juga menugaskan anak buahnya yang biasanya berpakaian rapi nan elegan dan menguasai beberapa bahasa asing sekaligus, untuk melakukan ‘direct selling’ kepada siapa saja yang lewat di tempat mereka dengan iming-iming yang bisa membuat orang ngiler . Biasanya mereka berupaya menarik perhatian orang dengan menyebut harga entrance fee yang murah (antara 5-10 Euro) untuk menonton pertunjukan streeptease dalam jangka waktu tak terbatas sambil menyebut beberapa nama cewek/cowok yang ada di foto sebagai ‘barang’ baru yang sengaja didatangkan dari luar negeri (biasanya mereka menyebut nama beberapa negara di Eropa Timur atau negara di daerah Balkan yang terkenal sebagai daerah yang memiliki banyak koleksi wanita cantik). Ada juga yang berani memberikan jaminan uang kembali apabila penonton tidak puas dengan apa yang dijanjikan.
Di tempat yang menyajikan peep-show yang kebanyakan juga adalah sex-shop, dengan hanya memasukkan koin pecahan 1 Euro, seseorang bisa menikmati tari telanjang secara live dari dalam sebuah bilik kecil tertutup yang bisa dikunci dari dalam yang sengaja didesain hanya cukup memuat satu orang saja. Dengan durasi 50-60 detik/1 Euro, seseorang bisa memilih sendiri tontonan seperti apa yang diinginkannya karena di depan bilik-bilik tersebut, biasanya dipajang foto-foto penari dengan nomer tertentu sebagai pengenal. Apabila lampu indikator menunjuk pada angka tertentu, maka itu berarti pada saat itu sedang berlangsung pertunjukan oleh penari dengan angka tersebut.
Produk-produk yang dijual pada sex-shop bervariasi dari segi harga maupun rupa. Dari yang biasa-biasa saja seperti flash-card, serbaneka-serbarasa-beragam ukuran kondom, kaset video & VCD berisi film-film ‘action panas’, berbagai jenis majalah, hingga yang super ekstrem (seperti perlengkapan ‘perang’ kaum S&M yang serem-serem), dan sebagainya.
‘Surga’ yang Berbahaya buat yang ga kuat iman
Waspada!
Kebanyakan wisatawan (laki-laki) asal Asia termasuk yang suka pada hal-hal seperti ini. Ini bisa dipahami lantaran di Asia, khususnya di daerah Asia Tenggara, bisa dibilang hampir tidak dapat ditemukan tempat yang ‘bebas’ seperti ini. Bahkan di daerah Bangkok (Patpong) dan Pattaya di Thailand yang juga dikenal sebagai surga lelaki di Asia, jarang bisa ditemukan window display yang seterus-terang seperti di Paris.
Namun demikian, mereka yang berkunjung ke daerah seperti ini wajib ekstra waspada. Seperti halnya greasy area di kota-kota besar lainnya di seluruh dunia, tindak kriminalitas seperti penipuan dan pemerasan acap kali terjadi.
Setiap kali membawa rombongan tur ke daerah Monmartre untuk kunjungan ke Sacre Cœur, menonton kabaret show di Moulin Rouge atau berbelanja suvenir murah meriah, saya selalu berpesan wanti-wanti agar senantiasa berhati-hati terhadap segala sesuatu yang ‘too good to be true’ . Namun seringkali, lantaran mungkin terlalu terpesona dengan gemerlap lingkungan di sekitarnya, peringatan saya sering dianggap angin lalu, masuk telinga kiri – keluar telinga kanan.
Pada suatu kesempatan, seorang peserta tur berhasil dikuras oleh sekumpulan con-artist melalui permainan tebak-tebakan kartu. Ketika dia memasang taruhan 10 Euro untuk menebak jenis kartu bergambar tertentu yang diletakkan tertutup bersama dengan dua kartu lainnya, dengan mudah dia bisa memenangkan taruhannya. Pada saat itu, ada juga orang lain yang kemudian memasang taruhan sebesar 50 Euro. Tebakan orang itu tepat sehingga dia memenangkan taruhan sebesar 100 Euro. Kemudian ketika peserta tur saya itu memasang taruhan sebesar 100 Euro selama beberapa kali, dia kalah melulu. Ketika melaporkan kejadian ini pada saya, dia berkata ia telah kehilangan kira-kira 400 Euro dalam permainan itu.
Di kesempatan lainnya, beberapa peserta tur yang sengaja memisahkan diri dari rombongan juga terkena bujuk rayu petugas yang menawarkan melihat live streep show pada sebuah klub di daerah Place Pigalle. Dengan membayar 5 Euro entrance fee , dia dan dua rekan lainnya diiming-imingi menonton pertunjukan streeptease sepuasnya. Ketika berada di dalam gedung, mendadak muncul tiga orang wanita muda yang tanpa disuruh langsung mendampingi mereka selama pertunjukan. Tak cuma itu, ketiga wanita tersebut menenggak berbagai minuman keras yang disajikan secara tak putus-putusnya oleh pelayan tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dari ketiga peserta tur saya tadi.
Saat hendak keluar, mereka disodori tagihan yang jumlahnya di atas 15 juta rupiah (atau lebih dari 1000 Euro)! Ketika mereka menolak untuk membayar lantaran merasa tertipu, beberapa bodyguard bertubuh kekar datang. Karena tidak mempunyai cukup uang cash , salah satu dari mereka diutus keluar untuk mengambil uang melalui ATM setelah terlebih dahulu menyerahkan paspornya sebagai jaminan.
Waaah…. serem ya? Namun nggak hanya hal serem-serem saja kok yang ada di daerah ini. Terdapat pula pertunjukan kabaret berkelas dunia yang dikenal dengan nama Moulin Rouge, yang memiliki markas di daerah ini. Ikuti kemeriahan menonton pertunjukan Moulin Rouge di bagian ke 3 dari tulisan ini. So… Stay Tune!
Dapatkan petunjuk dan panduan lengkap melakukan perjalanan secara independen ke PARIS dalam bahasa Indonesia dalam serial ebook TravelHemat Paris
Pengen belajar bahasa Prancis secara online (tutorial dalam bahasa Indonesia) dengan mudah dari ahlinya? Silakan klik di sini!
Butte Monmartre
Jika Disneyland Paris adalah pusat hiburan yang disukai anak-anak, atau Galeries Lafayette yang disuka oleh para pencinta mode, maka daerah seputar Avenue de Clichy yang terletak di Butte Monmartre , adalah ‘pusat hiburan’ yang disuka lelaki dewasa. Seperti apa sih pesona tempat yang dahulu terkenal sebagai ajang rendez-vous kelas menengah kota Paris ini ? Ikuti perjalanan Agung Basuki (Pemilik www.TravelHemat.com dan www.TravelHematShop.com ) yang membagi pengalamannya dalam 3 serial tulisan khusus untuk Anda.
Place du Tetre - Pusatnya Seniman Jalanan di Paris
Menyebut kata ‘Paris’, hal pertama yang terlintas di benak sebagian besar dari kita adalah Menara Eiffel. Bangunan dari ‘kumpulan besi baja yang disusun ke atas’ ini memang tampak menjulang diantara bangunan-bangunan lainnya.
Disamping itu, masih ada dua bangunan tinggi lainnya yang menghiasi langit kota Paris disamping menara hasil karya Gustave Eiffel ini : Menara Montparnasse –sebuah gedung pertokoan dan perkantoran berlantai 60 yang terletak di daerah sisi kiri Sungai Seine yang membelah Paris menjadi dua bagian, dan yang satunya lagi adalah Basilique de Sacre Cœur , sebuah gereja yang terletak di ‘puncak’ Butte Monmartre, daerah tertinggi kota Paris.
Sacre Cœur adalah sebuah gereja ‘kontroversial’ yang dibangun pada abad ke-19. Disebut kontroversial karena pada saat itu pembangunannya ditentang oleh banyak orang karena bentuk kubahnya yang tidak seperti bentuk kubah gereja di Prancis pada umumnya. Bentuk kubah gereja Sacre Cœur memang lebih menyerupai kubah masjid dan dibuat dari batu marmer putih. Namun seiring berlalunya waktu, keberadaan Sacre Cœur dapat diterima masyarakat, bahkan bisa dibilang gereja ini sekarang telah menjadi salah satu icon terpenting kota Paris disamping Eiffel dan Arc de Triomphe.
Dari atas kubah gereja tersebut, kita bisa melihat aerial view kota Paris, dan jika cuaca sedang bagus, kita bahkan bisa melihat di kejauhan menara Eiffel dan juga menara Montparnasse.
Basilica Sacre Coeur Yang Unik
Tak jauh dari Sacre Cœur, terdapat sebuah perkampungan seniman (lukis) terkenal yang disebut dengan Place du Tertre . Para pelukis dan juga karikaturis dari berbagai negara kerap kumpul di tempat ini sambil menggelar dagangannya sekaligus menawarkan jasa kepada turis di sana untuk dilukis dengan biaya bervariasi antara 10 – 25 Euro (1 Euro = +/- Rp 12.000) untuk satu lukisan, tergantung pintar-pintarnya kita menawar.
Bila kita berjalan menuruni anak tangga yang dibangun tepat di seberang gereja Sacre Cœur, atau bila kita memilih untuk menghemat waktu dan tenaga dengan menggunakan funiculaire dengan membayar ongkos 2 Euro sekali jalan, maka kita akan tiba di Place Saint Pierre yang dijejali oleh toko-toko penjual cendera mata murah meriah, money changer dan juga berbagai cafe serta restoran.
Dari Place Saint Pierre, barisan toko penjual cendera mata, money changer, café dan restoran ini masih dapat kita jumpai dengan menyusuri sebuah jalan kecil rue de Steinkerque yang letaknya tepat berhadap-hadapan dengan gereja Sacre Cœur, menghubungkannya dengan sebuah jalan besar Boulevard de Rochechouart…. tempat di mana ‘Surga Para Lelaki’ di Paris berada. Ikuti serunya pengalaman berkunjung ke daerah ini di tulisan berikutnya.
Dapatkan petunjuk dan panduan lengkap melakukan perjalanan secara independen ke PARIS dalam bahasa Indonesia dalam serial ebook TravelHemat Paris
Pengen belajar bahasa Prancis secara online (tutorial dalam bahasa Indonesia) dengan mudah dari ahlinya? Silakan klik di sini!




