Didukung oleh:






 

Archive for October, 2009

Agar menjadi rumah tinggal sekaligus tempat bekerja yang nyaman, Jim melakukan berbagai adaptasi fungsional di bagian interior bangunan dengan melakukan penggabungan desain khas Thailand dengan unsur-unsur budaya negara lain. Misalnya, pada beberapa bagian frame jendela, Jim memasang ornamen yang menampilkan ukiran pasukan penjaga tradisional Myanmar yang disebut Nat. Sementara di bagian bawah pintu-pintu pada ruang tertentu, dipasang sebilah papan melintang setinggi 20an sentimeter yang konon menurut kepercayaan masyarakat Thai kuno dapat mencegah masuknya roh-roh jahat yang bisa membawa akibat buruk buat penghuni rumah. Sedangkan untuk perabotan rumah, Jim banyak menggunakan pernak-pernik porselen dan furniture bergaya China yang digabungkan dengan perabot kayu asal Kamboja, Myanmar, Thailand dan India. Secara keseluruhan, konstruksi komplek perumahan Jim Thompson baru selesai dikerjakan pada tahun 1959.

Jim Thompson House

Situasi halaman Jim Thompson House

Untuk mencapai tempat ini terhitung mudah. Cukup menumpang BTS (skytrain) jurusan National Stadium (W1) dan berhenti pada stasiun terakhir di dekat komplek perbelanjaan MBK yang terkenal itu. Setelah itu, dengan berjalan kaki kurang lebih 200 meter menyusuri Soi Kasemsan 2, tepat pada rumah yang terletak di sebelah kiri pada ujung gang buntu yang berbatasan dengan Sungai Khlong Maha Nak, di situlah letak rumah Jim Thompson. Di sana, bagi mereka yang ingin berbelanja kain sutera Thailand berkualitas tinggi, terdapat showroom authentic yang menjual produk sutera asli buatan Jim Thompson Thai Silk Company.

Tempat ini terbuka untuk umum setiap hari mulai jam 09.00 hingga 17.00. Setiap pengunjung diwajibkan membayar 100 Bath (1 Bath = +/- IDR 350) sebagai cover charge. Agar bisa mendapatkan informasi yang akurat, tersedia guided tour dalam berbagai bahasa setiap setengah jam, di mana kita diajak berkeliling seluruh komplek perumahan sekaligus menikmati keindahan ‘hutan tropis’ mungil di bagian halaman belakang.

Dalam guided tour berdurasi 45 menit itu, pengunjung bisa menyaksikan beberapa peralatan pintal kuno yang pernah dipakai untuk memproduksi kain sutera, menikmati keindahan bagian interior rumah Jim Thompson yang menyimpan berbagai koleksi benda antik bersejarah yang didapatkannya dari berbagai tempat di Asia sekaligus mengagumi kepiawaiannya memadukan berbagai unsur seni arsitektur berbagai bangsa menjadi sebuah kesatuan nan harmonis dan nyaman untuk dinikmati. Hanya sayangnya, pengunjung tidak diizinkan mengambil foto pada bagian interior rumah. Jadi jika Anda bisa melihat gambar-gambar interior rumah Jim Thompson di halaman ini, hal itu saya lakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan sang tour-guide yang memandu rombongan saya berkeliling rumah.

Alat pintal di JTH Bangkok

Salah Satu Mesin Pintal Sutera Yang Dipamerkan di Museum

Pengetahuannya tentang akulturasi berbagai budaya tak lepas dari kesukaan Jim untuk traveling ke berbagai tempat, hal yang sekaligus menjadi penggalan akhir dari perjalanan hidupnya di kemudian hari. Ketika berlibur ke daerah Cameroon Highlands di Malaysia bersama beberapa temannya pada bulan Maret 1967, Jim tidak pernah kembali lagi ke ‘istana’nya. Hingga saat ini, keberadaannya masih menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengatakan bahwa mereka tersesat di tengah hutan. Sementara versi lainnya mengatakan mereka menjadi korban pembunuhan misterius di perjalanan.

Andai saat ini dia masih hidup, Jim pasti bangga melihat hasil jerih payahnya tidak sia-sia. Dan andai pada tahun 1940an lalu Jim sempat mampir ke Indonesia, dia pasti tertarik dengan keindahan kain batik Indonesia. Jika itu terjadi, bisa jadi popularitas kain batik kita saat ini bakal sudah mendunia layaknya sutera Thailand.***

Temukan eksotisme Asia Tenggara melalui ebook yang berisi panduan berlibur hemat ke 3 kota utama di Asia Tenggara, yakni Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok, dalam serial Ebook berbahasa Indonesia DI SINI!

Kebun Tropis di JTH Bangkok

‘Hutan’ Tropis Mungil di Pelataran Museum

Berkunjung ke Bangkok – ibukota Thailand, bukan barang baru lagi untuk sebagian masyarakat Indonesia. Banyak pelancong sengaja meluangkan waktu untuk berbelanja berbagai produk khas Thailand yang dijual –baik di pasar-pasar tradisional, hingga mall papan atas. Salah satu produk khas yang banyak dicari lantaran digemari oleh pelancong mancanegara adalah kain sutera Thailand. Agung Basuki akan menceritakan kunjungannya ke salah satu museum paling terkenal di Bangkok ini.

Harus diakui, popularitas Thai Silk saat ini sudah tersebar ke berbagai pelosok dunia. Bahkan, maskapai nasional negara Gajah Putih tersebut –Thai Airways, malah menggunakan motto ‘smooth as silk’ untuk memperkuat positioningnya di benak konsumen agar diasosiasikan dengan sutera Thailand yang sangat terkenal itu.

Entrance Jim Thompson House - Bangkok

Pintu Masuk ke Jim Thompson Museum - Bangkok

Kemasyuran yang berhasil dicapai oleh sutera Thailand saat ini, sebenarnya tidak lepas dari peran seorang arsitek yang sekaligus seorang entrepreneur berkewarganegaraan Amerika kelahiran 1906 bernama James Harrison Wilson Thompson, atau yang lebih populer disebut Jim Thompson yang pertama kali datang ke Thailand pada awal tahun 1940an, saat dunia tengah disibukkan oleh kecamuk Perang Dunia II. Lantaran terpesona oleh keindahan bumi Thailand, Jim Thompson memutuskan untuk kembali lagi ke Bangkok setelah perang berakhir. Bahkan kali ini, ia memutuskan untuk tinggal selama-lamanya di Thailand setelah melihat potensi terpendam yang disimpan oleh produk sutera negeri seribu pagoda yang saat itu hanya dianggap sebagai komoditas biasa yang tak bernilai.

Jim membeli sebidang tanah seluas setengah hektar tepat di bibir Sungai Khlong Maha Nak yang melintasi kota Bangkok, dan mendirikan sebuah perusahaan trading bernama Jim Thompson Thai Silk Company, yang reputasinya mendunia dengan pesat sebagai eksportir terkemuka untuk kain sutera Thailand. Berkat kerja kerasnya itu, sutera Thailand saat ini telah menjadi salah satu komoditas ekspor utama yang paling dibanggakan oleh masyarakat Thailand karena berhasil masuk ke hampir 150 negara di seluruh dunia.

Sebagai arsitek yang memiliki selera tinggi dan memperhitungkan nilai estetika sebuah bangunan, Jim bekerjasama dengan seorang arsitek lokal untuk membangun tempat tinggal sekaligus workshop di sebidang tanah miliknya itu. Enam rumah panggung tradisional Thailand yang mayoritas terbuat dari kayu dibelinya dari berbagai daerah di Thailand. Ke-enam rumah kayu tersebut dipindahkan secara knock-down dari daerah asalnya ke tempat yang baru, untuk kemudian dibangun lagi, bilah demi bilah sehingga tercipta enam buah bangunan rumah kayu khas Thailand yang menyatu dalam sebuah kesatuan dengan dominasi warna merah marun di bagian eksteriornya. Koridor dan teras sengaja dibuat untuk menghubungkan berbagai ruangan dari keenam bangunan tersebut.

Kamar Tidur Jim Thompson

Foto kamar Jim Thompson yang saya ambil secara diam-diam…

Temukan eksotisme Asia Tenggara melalui ebook yang berisi panduan berlibur hemat ke 3 kota utama di Asia Tenggara, yakni Singapura, Kuala Lumpur dan Bangkok, dalam serial Ebook berbahasa Indonesia DI SINI!

Bersambung ke Bagian 2 >>

Watch out !

Seperti halnya kota-kota lain di seluruh dunia yang menjadi daerah tujuan wisata, kriminalitas dalam skala kecil adalah hal yang perlu diwaspadai ketika Anda berkunjung ke Venice. Sebagai pendatang, seringkali kita tidak tahu seluk beluk daerah sekitar; apalagi di Venice yang memiliki ribuan ‘jalan tikus’ yang bersaling-silang dan berkelok-kelok.

Jika kebetulan Anda bertemu dengan serombongan anak kecil berusia antara 7 – 12 tahun yang menawarkan barang dagangan berupa aneka suvenir, segeralah menyingkir. Acapkali, mereka bakal mengerumuni Anda, membuat Anda merasa kebingungan karena secara mendadak Anda berada di tengah-tengah kepungan anak kecil yang memaksa Anda membeli barang-barang dagangan tersebut. Beware…. justru di saat Anda menjadi ‘sibuk’ menghadapi penawaran yang bertubi-tubi itulah, mereka beraksi dengan sangat cepat. Jangan heran jika sejurus kemudian, Anda menyadari bahwa tas Anda sudah sobek, handphone yang Anda taruh di kantong sudah raib atau bahkan kamera digital yang Anda gantungkan di leher, sudah lenyap tak berbekas. Dan ketika Anda bermaksud mengejarnya, mereka segera berpencar ke arah jalan-jalan kecil yang ada di sekitarnya.

Untuk itu, demi menjaga keamanan, sebaiknya Anda tidak mengenakan perhiasan yang mencolok dan menyimpan dompet uang berikut paspor dan dokumen-dokumen penting lainnya di tempat yang aman, yang tidak bisa dijangkau dengan mudah. Tidak ada salahnya Anda membeli money-belt berbahan kain tipis yang bisa dipakai di balik pakaian yang Anda kenakan. Bagi kaum pria, hindari menaruh dompet berisi uang pada saku celana bagian belakang, karena tempat ini seringkali menjadi sasaran utama aksi ‘penjahat’ anak-anak tersebut.

Peserta Mardi Grass Karnaval

Venice Carnival

Meski dikenal sebagai daerah tujuan wisata sepanjang tahun, sesungguhnya waktu terbaik untuk berkunjung ke Venice adalah ketika diselenggarakannya acara Venice Carnival. Setiap tahunnya, acara yang menjadi ajang pesta topeng dan kostum termeriah di seluruh dunia ini selalu diadakan pada bulan Februari selama sepuluh hari penuh yang diakhiri dengan acara puncak yang dikenal sebagai perayaan Martedi Grasso (perayaan Mardi Grass).

Kemeriahan festival yang sudah berusia lebih dari 1000 tahun ini tidak hanya menarik perhatian pada penduduk lokal, tapi juga telah menjadi bagian dari agenda budaya sekaligus aset yang tak ternilai harganya bagi dunia pariwisata internasional. Karena itu, ketika tiba waktu perayaan Venice Carnival, para turis mancanegara berbondong-bondong datang ke Venice untuk menyaksikan kemeriahan suasana kota yang berubah total di mana penduduknya –mulai dari pejabat pemerintahan papan atas hingga rakyat biasa—bersolek dengan mengenakan kostum warna-warni yang sengaja didesain secara khusus melalui proses pembuatan yang rumit dan membutuhkan daya kreatifitas tinggi serta mengenakan topeng aneka warna dan rupa yang rata-rata terbuat dari logam tipis sejenis aluminium.

Popularitas beraneka topeng yang dikenakan pada setiap perayaan Venice Carnival membuat benda yang satu ini menjadi sebuah produk yang identik dengan Venice. Kebanyakan para pelancong mancanegara tidak pernah lupa membawa pulang benda yang satu ini sebagai oleh-oleh tatkala berkunjung ke tempat ini.

Latar belakang penyelenggaraan pesta rakyat ini dipercaya berasal dari pengaruh budaya bangsa Mesir kuno ribuan tahun lalu yang menyelenggarakan parade dan perayaan meriah sebagai bentuk penghormatan kepada Isis sang dewi kesuburan. Perayaan serupa juga dilakukan oleh masyarakat Yunani pada abad ke – 6 SM untuk menghormati Dionysus, sang dewa kesuburan. Masyarakat Yunani merayakannya dengan penyelenggaraan tari-tarian, di mana para penarinya mengenakan topeng dan kostum berwarna-warni.

Budaya ini masuk ke Italia pada abad ke – 2 M saat uskup agung Roma waktu itu, St. Telesphorus mengajak masyarakat Italia untuk mengadakan sebuah pesta meriah sebelum tibanya masa puasa selama 40 hari yang wajib dijalani oleh kaum Kristiani untuk menyambut hari raya Paskah. Saat perayaan pesta menjelang masa puasa itulah, masyarakat diizinkan untuk berpesta pora, makan dan minum sepuasnya sambil mengenakan pakaian terindah yang dimiliki.

Meski telah berusia lebih dari 1000 tahun, perayaan carnival ini pernah dihentikan cukup lama tatkala Napoleon Bonaparte dari Prancis berhasil menguasai Venice pada 1797. Pesta rakyat ini baru diselenggarakan kembali pada tahun 1979 hingga saat ini.

***

Setelah membaca artikel di atas, tentunya pengen dong bisa berkunjung ke Venice di Italia? Temukan panduan lengkap bagaimana tips & tricks berwisata hemat nan independen ke Italia dalam 2 serial E-Book keren dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh Agung Basuki, yakni TravelHemat Italy dan TravelHemat Eropa 1.

Where to sleep

Menikmati kecantikan Venice memang tidak cukup jika dilakukan hanya dalam satu hari. Di daerah Mestre dan Treviso (yang dikenal dengan sebutan daerah Venice Mainland) yang letaknya hanya 10 - 20 menit bermobil dari Venice, terdapat banyak hotel mulai dari yang sederhana hingga yang berbintang.

Untuk memesan penginapan di Venice, Anda bisa melakukannya secara online melalui TravelHemat.com tepatnya pada bagian “MENU” di sebelah kiri atas setiap halaman di mana terdapat tulisan Pesan Hotel Murah dan Pesan Hostel Murah.

Agar tidak kehilangan sedikitpun gemerlap keindahan dan romantisme Venice, terutama di malam hari, menginap tepat di ‘jantung’ kota Venice bisa dijadikan alternatif. Konsekuensinya, untuk menuju hotel di daerah ini, tidak ada pilihan lain kecuali menumpang vapporeti bersama-sama dengan barang bawaan Anda. Beberapa hotel yang bisa dijadikan pilihan bagi Anda yang memilih untuk bermalam di ‘jantung’ kota Venice adalah:

  • Bauer Hotel (5*), San Marco 1459 – 30124 Venice, berlokasi di daerah paling strategis dan paling bergengsi seantero Venice dan dikelilingi oleh kanal-kanal yang menjadi perlintasan gondola. Sungguh bakal menjadi pengalaman indah yang tak terlupakan.

  • Hotel Giorgione (4*), SS. Apostoli, 4587 - 30131 Venice, terletak dekat dengan Ponte de Rialto, pusat keramaian dan hiburan di Venice baik siang dan malam.

Saya peringatkan, bahwa harga kedua hotel di atas sangat mahal. Tapi kalau Anda punya budget lebih dan ingin menikmati malam dalam kemewahan di kota tua Venezia, tidak ada salahnya juga sih untuk menginap di tempat ini…

Pedagang Kaki Lima di Venesia

Kios Kaki Lima Banyak Ditemukan di Venesia

Where to eat

When in Rome, do as the Romans do, begitu kata pepatah kuno yang menyarankan agar sebagai pendatang di daerah asing, kita berusaha menyesuaikan diri dengan adat istiadat dan budaya masyarakat lokal. Khusus ketika berada di Venice, saya punya pepatah versi saya sendiri: When in Venice, eat as the Venetians do!

Salah satu hal paling menarik dalam traveling adalah kesempatan untuk mencicipi berbagai jenis makanan lokal yang seringkali memiliki citarasa berbeda dengan makanan yang sering kita makan saat berada di negeri sendiri. Saya teringat ucapan Paul Van Landeghem, seorang teman asal Belgia yang doyan traveling tentang ‘asli tidaknya’ citarasa sebuah resto di berbagai tempat asing yang dikunjunginya. Ketika sebuah resto dipenuhi oleh para pendatang, maka citarasa makanan yang disajikan oleh resto tersebut bisa dipastikan sudah diolah sedemikian rupa hingga sesuai untuk lidah konsumen internasional. Jadi, jika Anda ingin mencicipi makanan asli suatu daerah, pergilah ke resto atau cafe di mana pengunjungnya kebanyakan penduduk lokal setempat.

Di Venice, ada beberapa resto/cafe yang bisa Anda kunjungi untuk mencicipi ‘the real Italian cuisine’, diantaranya:

  • La Feluca Ristorante, Calle della Mandola 3648, San Marco – Venice. Terletak hanya beberapa meter dari komplek La Fenice Opera House. Terkenal dengan makanan khasnya yang disebut risi e bisi (rissoto yang dicampur beberapa jenis kacang-kacangan). Padukan dengan segelas fragolino – sejenis wine beraroma strawberry yang khas Venice.

  • Le Bistrot de Venise, San Marco 4685 – Venice. Sebuah resto yang dijalankan turun temurun, dikenal memiliki resep makanan tradisional yang sudah berusia enam ratus tahun yang secara eksklusif dijual hanya di resto ini. Terkenal akan berbagai olahan sea-food segarnya yang senantiasa menggunakan minyak zaitun. Meski harganya terhitung cukup mahal (satu macam makanan dihargai antara 12.75 – 29.50 Euro), hampir setiap hari resto ini selalu dipenuhi pengunjung yang rata-rata berkantong tebal.

Tidak ada salahnya pula jika Anda mencicipi sandwich khas Italia yang banyak dijual di pinggir jalan. Sandwich yang dalam bahasa Italia dikenal sebagai tramezzini memiliki berbagai jenis fillers, mulai dari yang full sayuran dengan Italian dressing yang terasa asam di lidah hingga yang full-meat yang terdiri atas campuran berbagai jenis potongan daging asap. Harganya terhitung lumayan terjangkau, yakni antara 0.50 – 2 Euro/biji.

Dan satu hal lagi, jangan lupa mencicipi es krim di kedai Gelateria Nico yang terletak di daerah Canale della Giudecca, meski di saat udara sedang dingin-dinginnya sekalipun. Biarpun harganya agak mahal (antara 3 – 7 Euro/cone), bakal nyesel deh kalau hal yang satu ini terlewatkan begitu saja…

Venesia Banjiiir

Venesia Banjir Akibat Pemanasan Global

Setelah membaca artikel di atas, tentunya pengen dong bisa berkunjung ke Venice di Italia? Temukan panduan lengkap bagaimana tips & tricks berwisata hemat nan independen ke Italia dalam 2 serial E-Book keren dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh Agung Basuki, yakni TravelHemat Italy dan TravelHemat Eropa 1.

Bersambung ke Bagian 3 >>>

Selain Paris, kota manakah yang layak mendapat julukan tempat paling romantis di Eropa? Benar! Kota ‘terapung’ yang terletak di tepi perairan Laut Adriatik ini seringkali menjadi jujugan para honeymooners dari seluruh penjuru dunia. Nah, bagi Anda yang baru saja melangsungkan pernikahan, atau bagi mereka yang ingin melakukan second honeymoon bersama pasangan setelah sekian lama menikah, book the flight now, and head to Venice! Agung Basuki membahasnya khusus untuk Anda.

Grand Canale Venice

Grand Canal - Satu-satunya ‘Jalan Besar’ di Venice

Kota air

Letaknya yang tepat di bibir Laut Adriatik membuat Venice atau Venezia senantiasa bermandi matahari sepanjang tahun sehingga ideal dijadikan tujuan wisata setiap saat. Meski demikian, jika Anda berniat untuk berkunjung pada bulan Januari hingga Maret, bersiaplah untuk berbasah-basah lantaran curah hujannya yang cukup tinggi disamping hembusan angin yang seringkali menusuk sampai ke tulang. Sementara di bulan November hingga Desember, daerah yang letaknya paling rendah di Venice – yang sekaligus menjadi pintu masuk bagi kedatangan para pelancong yang berkunjung ke Venice, tepatnya daerah Piazza San Marco—seringkali terendam air akibat high tide.

Memang, Venice identik dengan air. Ketika tiba dengan bus maupun mobil pribadi melintasi jembatan panjang Ponte della Liberta yang menghubungkan Venice dan Mestre, Anda harus turun di Piazalle Roma atau Tronchetto dan berjalan kaki menuju dermaga penyeberangan Bacino Stazione Maritima sebelum menaiki water taxi (vaporetti) no. 1 yang membelah Grand Canal menuju Piazza San Marco, Venice. Perjalanan selama 40 menit menyusuri Grand Canal harus Anda tempuh dengan membayar 6 Euro untuk tiket pulang pergi.

Jika Anda menumpang kereta api, begitu tiba di Stazione Santa Lucia, Anda dihadapkan pada dua pilihan moda transportasi menuju pusat kota Venice: naik vaporetti atau a piedi (alias jalan kaki). Jika pilihan Anda adalah berjalan kaki, bersiaplah untuk menyusuri gang-gang sempit layaknya labyrinth dan pusatkan perhatian pada penunjuk arah yang bertuliskan ‘Rialto’ maupun ‘San Marco’, karena memang kedua tempat itu adalah pusat keramaian utama di Venice. Jika tidak tersesat (karena memang banyak orang yang mengalami hal ini), Anda bisa mencapai kedua tempat itu dalam waktu 30 - 40 menit.

Kecuali di daerah Lido, di daerah-daerah lainnya di seluruh Venice, Anda tidak akan menemukan mobil atau kendaraan bermotor lainnya. Karena itu, di kota yang terdiri atas 117 pulau-pulau kecil, 150 jembatan dan 400-an canal ini, sarana transportasi utamanya dilakukan dengan perahu bermotor. Untuk konsumsi turis yang memang menjadi sumber pemasukan utama kota ini, disediakan perahu dayung tradisional yang populer dengan sebutan gondola.

Naik gondola adalah agenda wajib bagi mereka yang ingin menikmati romantisme kota tempat kediaman Marco Polo ini. Untuk itu, Anda perlu merogoh kocek antara 60 – 80 Euro untuk menyewa sebuah gondola yang bakal membawa Anda berkeliling kota selama 50 menit, melintasi kanal-kanal yang membelah pulau berpenduduk 150 ribu jiwa ini.

Ponte Rialto

Ponte Rialto, salah satu icon Venezia

Shopping Paradise

Selain dikenal sebagai kota air, Venice sekaligus dikenal sebagai surga belanja. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Piazza San Marco, selain menyaksikan kemegahan St. Mark Basilica berikut menara lonceng Campanile yang tinggi menjulang, Anda bakal disambut oleh ribuan burung merpati yang menjadi ciri khas dari tempat ini. Jika ingin berpose di depan kamera di tengah-tengah kerumunan burung merpati, belilah sebungkus biji jagung yang dijual oleh pedagang asongan seharga 1 Euro.

Puas bermain-main dengan burung merpati, Anda bisa melangkahkan kaki menyusuri beautiful arcade dari Procuratie Vecchie dan Procuratie Nuove yang mengitari Piazza San Marco. Di tempat inilah Anda bisa menemukan deretan toko-toko yang menjual berbagai luxurious products, mulai dari serbaneka batu permata dalam rupa cincin, gelang, kalung dan anting; berbagai toko yang menjual produk kristal dan glassware super mewah, serta tak ketinggalan butik-butik desainer kondang Eropa seperti Louis Vuitton, Bvlgari, Prada, Hermés, Gianfranco Férre, dan lain sebagainya.

Jika nafsu belanja Anda masih terasa belum terpuaskan, langkahkan kaki menyusuri jalanan sempit yang ditandai dengan petunjuk jalan bertuliskan ‘Rialto’ yang letaknya tepat di belakang Piazza San Marco. Di sepanjang gang sempit Calle dei Fabbri Anda bisa menemukan butik Emporio Armani, Kenzo dan Massimo Dotti; sementara di daerah Merceria (yang bisa ditemukan dengan mudah jika Anda melihat sign-board Mc. Donald’s di ujung Piazza San Marco), suasana high class shopping street lebih semarak lagi dengan kehadiran Calvin Klein, Aigner, Coccinelle, Furla, Fendi, Dolce & Gabbana, Gucci, Krizia, Salvatore Ferragamo dan lain-lain.

Satu hal yang jangan sampai terlupakan saat berbelanja di Venice (maupun kota-kota lainnya di Eropa) adalah meminta formulir tax-refund jika Anda berbelanja dalam jumlah minimal 200 Euro di satu tempat pada hari yang sama. Sebab, ketika meninggalkan Eropa untuk pulang ke tanah air melalui pelabuhan udara internasional, Anda bisa mendapatkan pengembalian sampai dengan 21% dari total belanja Anda. Not bad, isn’t it?

Setelah membaca artikel di atas, tentunya pengen dong bisa berkunjung ke Venice di Italia? Temukan panduan lengkap bagaimana tips & tricks berwisata hemat nan independen ke Italia dalam 2 serial E-Book keren dalam bahasa Indonesia yang ditulis oleh Agung Basuki, yakni TravelHemat Italy dan TravelHemat Eropa 1.

Bersambung ke Bagian 2 >>

Sebagai negara yang ‘akrab’ dengan bencana gempa bumi, harusnya masyarakat Indonesia bisa meminimalisasi dampak buruk (dalam hal ini korban jiwa) akibat terjadinya gempa bumi. Namun, dalam kenyataannya, pada setiap kejadian gempa di tanah air, banyak sekali korban jiwa yang jatuh. Oleh karena itu, tips di bawah ini (yang saya dapat dari salah satu member komunitas TravelHemat.com, yakni Ibu Junny Tiono) saya masukkan ke dalam halaman situs TravelHemat.com.

Berikut 10 tips menyelamatkan diri saat terjadi gempa bumi:

1. Hampir semua orang yang hanya “menunduk dan berlindung” pada saat bangunan runtuh meninggal karena tertimpa runtuhan. Orang-orang yang berlindung di bawah suatu benda  akan remuk badannya.

2. Kucing, anjing dan bayi biasanya mengambil posisi meringkuk secara alami. Itu juga yang harus anda lakukan pada saat gempa. Ini adalah insting alami untuk menyelamatkan diri. Anda dapat bertahan hidup dalam ruangan yang sempit. Ambil posisi di samping suatu benda, di samping sofa, di samping benda besar yang akan remuk sedikit tapi menyisakan ruangan kosong di sebelahnya

3. Bangunan dari kayu adalah tipe konstruksi yang paling aman selama gempa bumi. Kayu bersifat lentur dan bergerak seiring ayunan gempa. Jika bangunan kayu ternyata tetap runtuh, banyak ruangan kosong yang aman akan terbentuk. Disamping itu, bangunan kayu memiliki sedikit konsentrasi dari bagian yang berat. Bangunan  dari batu bata akan hancur berkeping-keping. Kepingan batu bata akan mengakibatkan luka badan tapi hanya sedikit yang meremukkan badan dibandingkan beton bertulang.

4. Jika anda berada di tempat tidur pada saat gempa terjadi, bergulinglah ke samping tempat tidur. Ruangan kosong yang aman akan berada di samping tempat tidur. Hotel akan memiliki tingkat keselamatan yang tinggi dengan hanya menempelkan peringatan di belakang pintu agar tamu-tamu berbaring di lantai di sebelah tempat tidur jika terjadi gempa.

5. Jika terjadi gempa dan anda tidak dapat keluar melalui jendela atau pintu, maka berbaring lah meringkuk di sebelah sofa atau kursi besar.

6. Hampir semua orang yang berada di belakang pintu pada saat bangunan runtuh akan meninggal. Mengapa? Jika anda berdiri di belakang pintu dan pintu tersebut rubuh ke depan atau ke belakang anda akan tertimpa langit-langit di atasnya. Jika pintu tersebut rubuh ke samping, anda akan tertimpa dan terbelah dua olehnya. Dalam kedua kasus tersebut, anda tidak akan selamat!

7. Jangan pernah lari melalui tangga. Tangga memiliki “momen frekuensi” yang berbeda (tangga akan berayun terpisah dari bangunan utama). Tangga dan bagian lain dari bangunan akan terus-menerus berbenturan satu sama lain sampai terjadi kerusakan struktur dari tangga tersebut. Orang-orang yang lari ke tangga sebelum tangga itu  rubuh akan terpotong-potong olehnya. Bahkan jika bangunan tidak runtuh, jauhilah tangga. Tangga akan menjadi bagian bangunan yang paling mungkin untuk rusak. Bahkan jika gempa tidak meruntuhkan tangga, tangga tersebut akan runtuh juga pada saat orang-orang berlarian menyelamatkan diri.Tangga tetap harus diperiksa walaupun bagian lain dari bangunan tidak rusak.

8. Berdirilah di dekat dinding paling luar dari bangunan atau di sebelah luarnya jika memungkinkan. Akan lebih aman untuk berada di sebelah luar bangunan daripada di dalamnya. Semakin jauh anda dari bagian luar bangunan akan semakin besar kemungkinan jalur menyelamatkan diri anda tertutup.

9. Orang-orang yang berada di dalam kendaraan akan tertimpa jika jalanan di atasnya runtuh dan meremukkan kendaraan; ini yang ternyata terjadi pada lantai-lantai jalan tol Nimitz, California. Korban dari gempa bumi San Fransisco semuanya bertahan di dalam kendaraan mereka & meninggal. Mereka mungkin dapat selamat dengan keluar dari kendaraan dan berbaring di sebelah kendaraan mereka. Semua kendaraan yang hancur memiliki ruangan kosong yang aman setinggi 1 meter di sampingnya, kecuali kendaraan yang tertimpa langsung oleh kolom jalan tol.

10. Saya menemukan, pada saat saya merangkak di Baywatch kantor perusahaan koran dan kantor lain yang menyimpan banyak kertas bahwa kertas tidak memadat. Ruangan  kosong yang besar ditemukan di sekitar tumpukan kertas-kertas.

Sebarkan informasi ini dan selamatkan nyawa orang yang anda cintai.

Terima kasih, Semoga bermanfaat!

Ke mana Anda berencana untuk menghabiskan liburan Natal dan Tahun Baru kali ini? Bagaimana dengan menikmati suasana Natal di sebuah kota medieval nun jauh di Jerman? Agung Basuki akan membawa Anda mengunjungi ke salah satu kota terunik di Eropa ini.

Chrsitmas Museum

Christmas Museum di Rothenburg

Rothenburg yang terletak di daerah Bavaria – Jerman, adalah sebuah kota kecil nan unik dengan pesona tersendiri, terutama saat Natal menjelang. Berjarak kira-kira 2 jam dari Munich ke arah utara dengan menumpang bus, kota yang dikelilingi oleh tembok tebal ini dikenal akan suasananya yang mengajak kita seakan kembali lagi ke abad pertengahan. Jalanan sempit terbuat dari susunan batu gravel yang tertutup untuk lalu lintas kendaraan bermotor (kecuali bagi mereka yang memiliki izin khusus), deretan bangunan yang tetap mempertahankan ciri khas tradisional Jerman dan tembok batu setinggi lima meter dengan beberapa menara ‘bird-eye’ yang di masa lalu dipergunakan untuk menjaga kota dari serangan musuh dari luar. Disamping itu, kota yang juga dikelilingi oleh parit ini juga dilengkapi dengan beberapa pintu gerbang layaknya sebuah komplek benteng seperti yang tergambar dalam film Lord of The Rings atau Braveheart.

Christmas Bus @ Rothenburg

Christmas Bus Milik Kathe-Wohlfahrt

Salah satu pintu gerbang utama menuju pusat kota dikenal dengan sebutan Rodertor. Dari sana, dengan berjalan kaki Anda dapat menyaksikan deretan toko yang menjual serbaneka cendera mata dan juga beraneka jenis ornamen Natal. Di sepanjang jalan itu pula, bergelantungan lampu warna-warni pada tembok bagian depan dari hampir semua bangunan, sementara tepat di atas pintu masuk, terdapat hiasan unik – old iron craftship – yang terbuat dari besi dengan aksen logam berwarna keemasan yang diukir sedemikian rupa hingga menyerupai aneka hewan dalam bentuk dua dimensi di mana pada bagian ujungnya digantungkan berbagai hiasan lain seperti papan nama, nama toko maupun nama restoran dan café.

Tidak cuma itu, pada kebanyakan bagian depan pintu rumah-rumah yang rata-rata terbuat dari kayu, tergantung hiasan berbentuk bundar yang terbuat dari daun-daun mistletoe yang sering disebut sebagai kirstcranch. Dan di bagian jendelanya, terlihat untaian pita warna merah-hijau menjuntai diantara jalinan daun maple. Duh, sungguh indah!

Rothenburg

Kota Medieval Rothenburg

Rothenburg memang sangat identik dengan Natal. Di kota ini terdapat German Christmas Museum di Herrngasse dekat Marktplatz yang merupakan ‘alun-alun’ dari kota yang didirikan pada 1172 ini. Ada pula Doll and Toy Museum di Hofbronnengasse yang mengkoleksi lebih dari 600 jenis boneka baik yang asli Jerman maupun dari Prancis dan Swiss sejak 200 tahun silam. Bahkan, di kota sekecil ini, terdapat beberapa toko yang khusus menjual aneka pernik keperluan Natal yang buka sepanjang tahun. Salah satu yang paling populer adalah Käthe Wohlfahrt di Herrngasse, toko dengan koleksi pernik Natal paling lengkap, tidak hanya di seluruh Jerman, melainkan di seluruh dunia!

Lantaran keunikannya itulah, tak heran jika kota berpenduduk tak sampai 10.000 jiwa ini mampu menyedot lebih dari 2 juta wisatawan mancanegara setiap tahunnya.

Di pusat kota yang terletak di sebuah lapangan berbentuk segi empat yang disebut Marktplatz, untuk menyambut Natal, setiap tahun didirikan sebuah pohon cemara ukuran raksasa yang berkilau terang benderang oleh lilitan lampu-lampu Natal dan juga hiasan-hiasan lain yang digantungkan pada dahan-dahannya. Sementara di daerah sekelilingnya, diselenggarakan Christmas Market mulai akhir November sampai beberapa hari menjelang Natal, di mana terdapat ratusan kios kayu berbentuk rumah-rumahan mini menjual aneka keperluan untuk menyambut Natal. Layaknya sebuah pasar malam, alun-alun Rothenburg selalu penuh sesak oleh pengunjung baik siang maupun malam. Suasana nan meriah ini didukung pula oleh serbaneka hiasan yang ada pada gedung-gedung di sekitarnya seperti gedung City-Hall, Gedung Kesenian maupun Gereja St. Jacob’s yang didandani sedemikian rupa sehingga tampak cantik.

Tertarik, nih? Segera saja siapkan koper Anda! Namun yang perlu diingat, jika berencana berkunjung ke Eropa pada bulan Desember, jangan lupa membawa baju tebal secukupnya karena suhu udara di sana bisa mencapai 0?C di siang hari.

***

Jerman termasuk salah satu negara yang dikunjungi dalam rute perjalanan di e-book TravelHemat Eropa 2. Klik di sini untuk mengetahui isi e-book TravelHemat Eropa 2.

This promo is valid until October 31, 2009 only.

To welcome the newly formed partnership between paypal (online payment system that is very famous in the world of the Internet) and Agoda (the largest hotel reservation system in the world), then the two companies launched a promotion to give cash back for 50U$ for each hotel reservation via Agoda for at least U$ 200 Booking value. Hotel reservations must be made by the latest of October 31, 2009 for the first 800 subscribers only. In addition to that, Agoda will also give double reward points for you.

So, even if you’re planning to travel by the end of 2010 why not take advantage of this special promotion? Cash back from paypal which will be credited to your paypal account no later than December 31, 2009.

If you still do not have a paypal account, you may open one (free of charge) at https://www.paypal.com and activate your paypal account as soon as possible. To open a paypal account, you MUST have a valid credit card of course.

To make hotel reservations around the world now, you can click the banner directly below:

Promo ini berlaku hingga 31 Oktober 2009 saja.

Untuk menyambut jalinan kerjasama yang baru terbentuk antara paypal (sistem pembayaran online yang sangat terkenal di dunia internet) dan agoda (sistem pemesanan hotel terbesar di dunia), maka kedua perusahaan tersebut meluncurkan promo memberikan cash back sebesar 50U$ untuk setiap pemesanan hotel via agoda dengan total minimal U$200. Pemesanan hotel harus dilakukan hingga 31 Oktober 2009 untuk 800 pemesan pertama saja. Disamping itu, Agoda juga memberikan hadiah berupa double reward point untuk Anda.

Jadi, meski Anda berencana hendak bepergian akhir tahun 2010 kenapa nggak memanfaatkan promo istimewa ini? Cash back dari paypal yang akan dikreditkan ke akun paypal Anda paling lambat 31 Desember 2009.

Jika Anda masih belum memiliki akun paypal, buruan buka di https://www.paypal.com dan aktifkan akun paypal Anda secepatnya. Untuk membuka akun paypal, Anda WAJIB memiliki kartu kredit tentunya.

Untuk melakukan pemesanan hotel di seluruh dunia melalui agoda, Anda bisa menggunakan menu yang ada di sebelah kiri situs TravelHemat.com yang judulnya “Pesan HOTEL Murah” atau dengan mengklik langsung banner di bawah ini: