Didukung oleh:






 

Archive for May, 2009

Perjalanan Hemat ke KL & Manila

By Jeffry Ondang

manila,rizal monument,traveling solo,backpacking,travel hemat

Bersama seorang teman lokal di Rizal Monument, Manila - Filipina

Saya bukan baru pertama kali ini bepergian ke luar negeri, sebelumnya saya pernah ke Hongkong , China (walaupun cuma sampai Shenzhen), Singapore, Malaysia, dan Bangkok . Tetapi semuanya itu sudah diatur oleh keluarga dan tinggalnya di hotel. Juga kalau ke mana-mana kebanyakan naik taxi. Jadi, biaya yang dikeluarkan cukup besar juga, walaupun kami sekeluarga sering pula jalan sendiri tanpa ikut tour.

Tetapi sejak saya baca e-book TravelHemat yang ditulis oleh Agung Basuki (yang saya temukan secara tidak sengaja waktu surfing di internet), saya merasa tertantang untuk melakukan perjalanan saya kali ini ke luar negeri sehemat mungkin. Saya tertantang untuk tinggal di hostel yang murah meriah dan kalau bepergian naik kendaraan publik yang bukan taxi.

kl,kuala lumpur,wisata hemat,traveling hemat

Berpose di depan Petronas Tower - Kuala Lumpur

Wah ternyata mencoba sesuatu yang baru dan sedikit bersusah susah memang hasilnya lebih mendalam daripada semua yang serba mudah. Waktu di Kuala Lumpur tanggal 11 Mei 2009 lalu, saya mencoba semua kendaraan umum di sana, mulai dari SkyBus, Komuter, LRT, MRT dan lain-lain. Saya bahkan bisa berhemat banyak sekali biaya perjalanan, dan ini artinya, saya bisa shopping lebih banyak buat oleh-oleh orang di rumah.

Pada mulanya saya agak ragu untuk melakukan solo traveling yang serba hemat ini, ditambah banyaknya cerita negatif yang saya dengar dan baca. Tetapi sekali lagi, membeli e-book di TravelHemat.com bukan cuma membeli produk saja, tetapi sekaligus bisa berkonsultasi GRATIS seputar rencana perjalanan kita pada Agung Basuki .

batu caves,kuala lumpur,malaysia,travel hemat,travelhemat

Di Depan Batu Caves - Kuala Lumpur

Agung juga yang memberi saya semangat untuk tetap melakukan perjalanan saya, khususnya ke Phillipines (di mana banyak yang mengatakan bahwa situasinya kurang aman, banyak aksi kriminalitas, sering terjadi badai, dan lain-lain). Untungnya ketika saya ada di sana, keadaan aman-aman saja. Tentu saja semua itu dengan catatan kita mengikuti saran-saran yang diberikan.

Terima kasih pada Agung Basuki atas panduan ebooknya… Saya bahkan sekarang malah keranjingan traveling hemat, dan berencana melakukan perjalanan serupa di bulan Januari 2010, di mana untuk rute Denpasar -Kuala Lumpur – Manila – Kuala Lumpur – Singapore – Kuala Lumpur – Denpasar, saya hanya membayar tiket seharga Rp 1.100.000 saja dengan menumpang AirAsia. Bener-bener murah meriah kan….

Tips Tambahan dari Jeffry Ondang Untuk Perjalanan ke Batu Caves & Sunway Lagoon - Malaysia

  • untuk perjalanan ke Batu Caves (Kuala Lumpur) dengan biaya hemat, kalau kita tinggal di Bed & Breakfast Paradiso di daerah Bukit Bintang - KL, kita tinggal jalan kaki beberapa meter ke toko Seven Eleven, trus naik bis yang menuju ke Kotaraya/Central Market. Dari sana tinggal naik bus No. 11 (biayanya 2 ringgit), turunnya langsung di depan pintu masuk Batu Caves, begitu juga sebaliknya.

  • Kalau ke Sunway Lagoon (karena saya tinggalnya di Bed & Breakfast Paradiso dan mau ke KLCC terlebih dahulu), rutenya kira-kira sebagai berikut:
    dari hostel naik monorail ke stasiun Bukit Nanas (1.20 MYR), kemudian pindah menggunakan LRT ke KLCC (1,30 MYR). Dari stasiun KLCC ke Stasiun Kelana naik LRT (2.40 MYR). Dan dari Stasiun Kelana perjalanan disambung dengan naik bus yang turun langsung di depan Sunway Pyramid (1.00 MYR).

macau, travelhemat, travel hemat gratis

Pemenang Suvenir Dari KL & Singapore

Kuis yang berisi pertanyaan seputar perjalanan ke KL yang berlangsung mulai 1-20 Mei 2009 mendapat sambuatn luar biasa dari komunitas TravelHematers. Tercatat hampir 200 email jawaban dikirim oleh teman-teman sekalian yang rata-rata menjawab dengan benar pertanyaan yang diberikan.

Ada fenomena menarik dari email yang dikirim kepada saya, yakni lebih dari 85% penjawab kuis ternyata datang dari kaum hawa. Hmm…. saya jadi berpikir, apakah mungkin memang mereka yang lebih suka berpartisipasi dalam acara seperti ini memang hanya didominasi oleh kaum hawa saja? Alhasil, nggak salah memang kalau nama-nama pemenang berikut ini, juga didominasi oleh kaum hawa.

THShop 468X60

Tanpa berpanjang lebar lagi, inilah nama-nama pemenang yang beruntung mendapat hadiah suvenir cantik yang saya bawa langsung dari Kuala Lumpur dan Singapore. Hadiah akan dikirim mulai 25 Mei 2009 ke alamat masing-masing pemenang tanpa dipungut biaya apapun.

  1. Veronica Octaria Tinambunan – Banten
  2. Immanuel P Tua Hutabarat – Bogor
  3. Ayom – Bontang
  4. Lia Leonalisa – Jakarta
  5. Tumi Sumiati – Banten
  6. Tri Rahayu – Surabaya
  7. Alifia Resti F – Surabaya
  8. Atika Dian Pitaloka – Bogor
  9. Budi Kusmardiana – Jakarta
  10. Danica Anastasia – Bandung

Nantikan oleh-oleh dari saya dari tempat wisata lainnya di waktu-waktu mendatang.

Salam,

Agung Basuki

TravelHemat.com

Antara Traveling & Sakit Pinggang

By Agung Basuki

 

Sekitar awal Mei 2009 yang lalu, beberapa hari setelah saya pulang dari perjalanan mengunjungi Kuala Lumpur – Singapore dan Ho Chi Minh City (Vietnam), mendadak saya diserang oleh sakit pinggang yang luar biasa. Ini memang bukan yang pertama buat saya, tetapi terus terang ‘serangan’ kali ini adalah yang terhebat.

 

Oleh istri, saya langsung dibawa ke UGD sebuah rumah sakit swasta di Surabaya dan oleh dokter yang merawat, saya direkomendasikan untuk menjalani rawat inap untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penyakit yang saya derita.

 

Setelah menjalani rawat inap selama hampir seminggu berikut menjalani proses MRI, diketahui bahwa bantalan tulang belakang bagian bawah (di dekat tulang panggul) saya ’tergencet’ oleh tulang belakang atas. Ini yang konon menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Diketahui pula bahwa saya menderita scoliosis (pembengkokan tulang belakang).

 

Menurut dokter yang merawat saya, hal ini bisa terjadi lantaran saya sering mengangkat beban yang berat dengan posisi tubuh yang salah dalam jangka waktu yang lama.

 

Saya jadi teringat masa-masa ketika baru pertama kali berkarir sebagai tur leader di Eropa. Seperti diketahui, di kebanyakan bandara di luar negeri, tidak dikenal yang disebut jasa porter (alias tukang angkut barang). Nah, saat memimpin rombongan tur selama bertahun-tahun, saya senantiasa menjadi orang pertama yang mengidentifikasi barang bawaan anggota rombongan yang saya pimpin, begitu deretan koper keluar dari conveyer di bandara. Nggak cuman itu, biasanya saya juga berusaha membantu para anggota rombongan untuk menurunkan tas dan koper dari atas conveyer. Mungkin pada saat itulah, saya sudah mengabaikan posisi tubuh saat mengangkat barang, sehingga akibatnya baru terasa sekarang ini, ketika usia sudah mulai berumur (dan setelah lebih 15 tahun menjalani profesi sebagai tur leader).

 

Disamping membantu mengangkat barang para peserta tur dari conveyer di bandara, beberapa kali saya juga teringat saat tiba di hotel di suatu kota tujuan, ketika pihak hotel tidak menyediakan jasa porter, seringkali saya membantu sang supir bus untuk mengangkut barang bawaan milik peserta tur sekalian ke kamar masing-masing. Tentu saja, pada saat itu, saya tidak tahu apakah posisi badan saya benar atau salah saat mengangkat barang.

 

Dengan setumpuk ’kesalahan’ yang terjadi di masa lalu saat mengangkat barang-barang para peserta tur itulah, maka saat ini saya harus merasakan rasa sakit di pinggang bawah yang luar biasa. Apa yang saya derita ini, kata dokter tidak akan bisa disembuhkan dengan therapy biasa. Therapy hanya membantu untuk mengurangi rasa sakit belaka. Kalau mau bertaruh untuk kesembuhan, maka harus dilakukan operasi tulang. Weeeh, mendengar kata operasi, saya jadi ngeri sendiri ya…

 

Saat berkonsultasi dengan dokter yang merawat saya, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah poster yang berjudul ”Treat Your Back With Respect” yang isinya tentang berbagai posisi yang benar dan yang salah dalam mengangkat barang. Silakan baca apa yang tertulis di poster tersebut di sini. PS: Mohon maaf jika tulisan di posternya agak kurang jelas karena saya ambilnya menggunakan camera digital di handphone saya…

 

So pertanyaannya sekarang, apakah dengan menderita sakit tulang belakang seperti sekarang, saya akan menghentikan hobi jalan-jalan yang sudah selama 15 tahun lebih membawa saya ke berbagai belahan dunia?

 

Jawabannya pasti sudah bisa diduga ya…. Saya nggak akan menyerah dengan keterbatasan kondisi fisik yang saya alami saat ini. Mungkin saat traveling di waktu-waktu mendatang, saya harus lebih ‘minimalis’, artinya hanya membawa barang bawaan yang sangat esensial saja, untuk mengurangi beban yang harus saya bawa selama perjalanan.

 

Anyway, kalau menurut saya…. Ini ádalah harga yang harus dibayar sebagai seorang traveler. Karena itu saya membagikan info ini kepada teman-teman sekalian, supaya setidaknya, Anda tahu apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan saat hendak mengangkat barang-barang di sekitar Anda.

Beli Suvenir Murah Berkat TravelHemat Italy

By Yana Buntaran

 

gondola,italy

Yana Ber Gondola di Venezia

Bulan April 2009 lalu, saya beserta teman-teman pergi ke Italy dalam sebuah rombongan tur yang diadakan oleh kantor. Berkat membeli dan membaca e-book TravelHemat Italy, saya dapat banyak informasi yang berguna banget,  terutama sewaktu mau berbelanja souvenir dan juga saat mau tukar valas.

 

Yana @ San Marco Square - Venice

 Yana di Piazza San Marco - Venezia

 

Jika tidak perlu-perlu banget, saya berusaha untuk menahan hasrat untuk beli souvenir di daerah pusat wisata, sampai saya menemukan toko yang agak di pinggiran, sesuai saran dalam TravelHemat Italy. Dan memang benar bahwa harga barangnya jauh lebih murah.

 

Thanks TravelHemat!

Yana & Friends di Bandara Milan

Yana (tengah) and Friends di Airport Milan

Yana & Friends di Swiss

Yana & Friends berpose di Swiss

 

Hanya Beli E-Book Rp 100 Ribuan, Ke KL GRATIS (3)

By Francisca

antri naik jembatan

Sandal, Botol & Banner Ikutan Antri SkyBridge

Hari Ke 3 –  Lapar Mata Berbuah Belanja

Untuk ke sana KLCC kami tidak bisa naik monorail yang stasiunnya dekat hotel, tapi harus naik kereta lain (saya lupa namanya apa, karena kebanyakan untuk di ingat2.. he he ) kami harus berjalan agak jauh, seperti kemarin waktu mau mencari gereja.

Kami tiba di KLCC sekitar jam 7 an, ternyata sudah banyak yang antri, padahal loket buka jam 8.30, ternyata dari hasil dengar sana dengar sini, pengantri pertama sudah antri sejak pukul 5 pagi.. wow mereka ber-25, dan antri untuk naik jembatan jam 2 siang… Saya jadi tambah penasaran, seberapa bagusnya sih jembatan itu???  Menurut suami saya, ini cara pemasaran yang baik, yaitu membuat orang penasaran.. gratis dan terbatas.. Demi antri, maka saya mengantrikan sandal saya, bannernya pak Agung, botol minumnya Bu Eva dan lain-lain.

Sejalan dengan bertambahanya waktu, pengantri juga bertambah banyak, padahal loket belum juga buka, dan mengenai jam bukanya loket, informasinya simpang siur, ada yang bilang jam 8, jam 9.. selanjutnya mengenai berapa karcis yang boleh diperoleh setiap orang yang antri, ada yang mengatakan lima, ada yang hanya dua… sehingga kami memutuskan untuk antri berempat.. biar aman..

Selama antri ternayat ada bule yang putus asa, karena mereka (berdua) datangnya pada saat antrian sudah padat sekali, merea mengantri di daerah depan, padahal seharusnya  di belakang. Oleh petugas mereka disuruh antri di barisan belakang, tapi yang wanita tidak mau,  dan mengetakan sesuatu ke suaminya, kira2 sih dia mengatakan kalau kita antri di belakang, ya pasti nggak kebagian karcis, mending di sini aja, ada kemungkinan nyerobot…  he he.. Siapa bliang bule selalu taat aturan/ displin.. Namun akhirnya mereka antri ke belakang karena dipaksa oleh petugas..

Jam 8.30 loket dibuka, dan kami dapat giliran naik ke jembatan pada jam 9.15… wah happy banget, sebelum naik jembatan, kami diajak nonton mengenai pembuatan menara kembar tersebut, dengan menggunakan kaca mata 3D.. setelah itu kami, sekitar 20 orang, naik lift.. dan tibalah kami di jembatan tersebut… akhirnya..

Di atas jembatan, kami ( berdelapan) berfoto dengan membawa banner TravelHemat.com yang dibawa oleh Pak Agung jauh-jauh dari Surabaya. Setelah berfoto2 dan menyebarang jembatan.. kami dipanggil karena waktunya habis… yahhhh.. antri 2 jam untuk 10 menit J.

Dari KLCC, kami ke KL Sentral, menikmati makan pagi setengah siang (brunch). Makanannya sangat khas Malaysia, ada lemang, ketupat sayur, ayam goreng, telur setengah matang kesukaan saya, roti bakar, teh tarik.. yummy…..

Dari KL Sentral kami ke Batu Caves..  Tempat ini adalah tempat suci umat Hindu..untuk menuju ke kuil ada 272 anak tangga yang harus dinaiki..  awal  mulanya saya sama sekali tidak berniat untuk naik ke atas… Tapi karena motivasi dari pak Agung.. ( thanks pak Agung, that’s what friend are for!!!), saya dan pak Lukman berhasil menaiki 272 tangga… eh ternyata sesampainya di atas, masih ada tangga lain…

Pemandangan di atas  sangat indah, saya tidak menemukan kata2 untuk menyatakannya pokoknya indah.. sejuk.. dan nampaknya tempat ini dipakai sebagai upacara untuk mempersembahkan bayi, ada banyak foto2 bayi yang kepalanya digundul dan dilabur semacam bedak berwarna kekuning2an, dan pada saat itu ada beberapa bayi yang sedang mengikuti upacara entah apa namanya.

Di depan Batu Caves, ada patung besar berwarna emas, sebetulnya saya berniat membeli miniatur dari patung tersebut, karena di dalam gua saya lihat banyak dijual. Namun karena sebleum naik saya melihat ada satu toko yang cukup besar maka saya berniat membeli di toko tersebut seusai ’pendakian’ ke kuil. Namun ternyata, di toko tersebut tidak ada patung yang saya cari.. terpaksa batal deh beli suvenir khas Batu Caves..

Di sekitar Batu Caves, banyak orang berjualan, antara lain kelapa muda. Wah cocok sekali.. udarannya sangat panas, minum air kelapa, segar.. Harga satu kelapa muda 3 ringgit.

Selain kelapa muda banyak yang berjualan kue2 warna warni., bernmacam2 kacang… sebetulnya saya pingin beli, tetapi pengalaman saya biasanya saya hanya lapar mata.. Namun akhirnya saya beli juga , snack seperti mie, campur berbagai macam kacang, yang ternyata enak.. Menyesal deh cuma beli sedikit.

Dari Batu Caves kami naik taxi kembali ke KL. Rencana awal sih mau pulang ke hotel, tapi karena mendengar pak Tomi cerita, bahwa kemarin beliau ke SOGO KL dan ada sale, wah saya jadi tergoda.. Jadi dari Batu Caves kami langsung ke SOGO KL (dekat dengan hotel). Di sana kami janjian untuk ketemu lagi di bagian depan SOGO jam 14:30.

Ternyata benar apa yang dibilang Pak Tomi. Banyak sale, tas baju.. terutama tas Bonia, baju Bonia, dan lain-lain… Wah, saya jadi mata keranjang… Terpaksa (hehehe….. ‘terpaksa’) saya beli lagi tas Bonia. Suami saya ketularan juga, beli baju, kaos Bonia.. dan sepatu Bonia… Hehehehe…. belanja juga akhirnya…. Harganya cukup miring, diskonnya sampai 70%..

Setelah selesai belanja… kami berencana pulang ke hotel naik taxi untuk selanjutnya mengambil barang dan melanjutkannya ke KL Central. Ternyata jalan ditutup, kalau tidak salah ada balap sepeda.. Batallah ke KL sentral naik taxi, karena taxi nggak bisa lewat.. Jadi kami terpaksa naik monorail, hahaha….. Naik turun tangga lagi…

Setelah naik monorail melalui 2 stasiun, pak Tomi baru sadar kalau HP dan chargernya ketinggalan di hotel.. terpaksa mereka balik ke hotel…

Di KL Sentral, kami tidak dapat langsung naik bus, karena tempat yang tersedia hanya tinggal 4 seat, jadi kami harus menunggu bis yang berikutnya.. yang menyebabkan capek di KL adalah udaranya puanas dan lembab..

Nah di airport kami sedikit menemui kesulitan karena pentunjuknya kurang jelas…  cek in counternya untuk ke Jakarta  ternyata  terletak di bagian domestic.. Oya bandara di KL ada dua, LCCT (low cost carrier terminal) yang melayani penerbangan domestik  dan international hanya khusus AirAsia, dan KLIA ( Kuala Lumpur International Airport), untuk penerbangan internasional selain AirAsia..

Di LCCT tidak tersedia garbarata, jadi kalau hujan, mereka sudah siap dengan payung2 warna merah (warna khas AirAsia) yang cukup banyak. Hal ini juga yang menyebabkan AirAsia bisa menekan biaya sehingga tiketnya bisa murah.

dijual : payung merah

Payung Gratis… Payung Gratis…

Di airport, pak Agung, bu Eva, pak Herie dan pak Suganda makan fish and chip, sedangkan saya dan suami minum susu coklat. Wah memang enak tuh susu coklatnya..

Setelah selesai makan, kami masuk ke dalam. Di tiket, ruang tunggu kami adalah nomer 5 , sedangkan pak Agung di nomer 11 (karena Pak Agung melanjutkan perjalanan ke Singapura). Wah saya pikir ini terpisah seperti di pada umumnya bandara lainnya  Ternyata, ruang tunggu penumpang di LCCT jadi satu gedung, hanya pintu keluarnya aja yang beda, mirip seperti bandara Juanda Surabaya jaman dulu.

Di bandara ada toko manisan , nah saya menyesal banget nggak beli banyak, saya cuma beli satu ons. Dan ternyata, manisannya enak banget..

Jam 7 pesawat kami boarding untuk kembali ke tanah air…. Good bye KL, good bye teman2..miss u so much.. muaacchh muaacchh…

saat-saat terakhir di bandara

Wajah-Wajah Lelah Menunggu Penerbangan Pulang ke Tanah Air

Kesan2 Selama Perjalanan:

Ini adalah traveling kami yang TERHEMAT… kalau tidak termasuk belanja ini itu, jadi hanya untuk transportasi dan makan…kami berdua hanya menghabiskan sekitar 300- 400  ringgit….

TravelHemat.com benar2 menyediakan hadiah yang sip….

TravelHemat.com benar2 merupakan panduan yang sip untuk traveler yang ingin travelling tanpa harus menguras isi kantong..

Usul: kalau menunggu hadiah dari pak Agung untuk bisa jalan-jalan bareng lagi ke LN, kayaknya sih masih lama…. Bagaimana kalau pak Agung mengadakan tour tapi yang unik2 pak.

Sukses TravelHemat.com.. Jalan-jalan hemat dan makan-makan hemat…

Hanya Beli E-Book Rp 100 Ribuan, Ke KL GRATIS (2)

By Francisca

kuil thean he

Kuil Thean He di Siang Hari. Bayangkan Cantiknya Saat Malam Tiba

Hari Kedua—Keliling KL dengan 75 ringgit.. baju kaos 5 ringgit..

Pagi hari kami sarapan di hotel.. kurang enak.. Hari ini acara dari pak Agung adalah ke Genting Highlands. Saya dan suami nggak berminat, karena sudah pernah, dan juga nggak hobby gambling.  Pak Agung menganjurkan kami untuk naik Hop On Hop Off ( semacam bis merah-bis biru di Sydney, atau Singapore hop on hop off), katanya sih biayanya 38 ringgit per orang. Nah kami berencana untuk naik bis tersebut.

Karena makan paginya kurang pas, saya hanya makan buah saja, dengan niatan mau jajan. Saya kepingin makan bak kut teh (Herbal Pork Rib), sebetulnya yang sangat terkenal ada di Klang, tapi letaknya Klang kira2 satu jam dari KL, jadi ya saya batalkan. 

Teman dari Kl menyarankan kami untuk cari di jalan Imbi. Jadi kami mencari taxi, lalu menanyakan ke supir taxi, ternyata supir taxinya cukup baik, taxi nya bersih, pakai meter. Diantarlah kami ke jalan Imbi.. wah di jalan tersebut banyak sekali  eating house, tempat makan.. Saya makan bak kut teh di SUN HONG MOOK KOOT TEA, rasanya tidak seenak yag saya makan di Singapore, tapi lumayan. Kalau di Singapore kuahnya agak kental, yang ini agak encer, tapi cakue nya enak.

Dalam perjalanan saya menanyakan ke supir taxi tentang bus hop on hop off. Supir mengatakan kalau mau naik bis tersebut, mesti ke KLCC.. Namun dia juga mengatakan itu kan biayanya 38 ringgit per orang, dai menawrakan naik taxi saja, bisa mampir2 dan ditunggu. Tarifnya 1 jam @ 30 ringgit , setelah tawar menawar, jadilah kami menyewa taksi selama 3 jam dengan biaya 75 ringgit. Saya hitung2 lumayan hampir sama dengan naik bis.

Pertama kami dibawa mengunjungi istana presiden, Cuma bisa melihat dari luar, dan kami berfoto disamping penjaga yang naik kuda.. Kasian juga lho, penjaganya tanpa senyum dan nggak boleh bergerak..

Dari istana kami dibawa ke kuil Thean He.. Bagus juga kuilnya, letaknya di bukit.. dari kuil kami ke museum, waktu itu di museum pas ada pameran senjata, ada keris juga dipamerkan. Musiumnya nggak terlalu besar dibandingkan dengan museum di Singapore. Hanya ada dua bagian, bagian pertama tentang asal usul Malaysia, bagian yang lainnya tentang asal usul bumi kita.

Setelah itu kami berkeliling KL, melihat mesjid, museum militer, lalu driver juag mau mengajak kami ke Batu Caves, namun karena acara besok termasuk ke Batu Caves, maka kami menolak.

Terakhir saya minta diantar ke Mid Valley Mall ( ceritanya waktu di dalam bis dari bandara ke KL, saya duduk bersebelahan dengan seorang dokter wanita, orang Malaysia, dia bilang kalau mau belanja yang paling sip di Mid Valley, ya sudah saya turutin), ternyata memang bagus mallnya, barangnya bagus2 , mallnya besar, harganya juga pantas..disini saya tergoda dengan tas Bonia yang lagi sale 70 %.. hehehe…

Sekitar jam 4 an, suami mengingatkan untuk pulang, karena janjian sama pak Tomi di hotel jam 5 sore. Kami pulang naik taxi, eh dapat taxi exeutive, enak sih taxinya besar mirip alphard.. tapi taripnya mahal. Kalau tadi pagi buka pintu taripnya 2 ringgit, yang ini 6 ringgit, total biaya dari mid valley ke hotel 24 ringgit, tapi nggak apa2 deh sesuai argo, dan taxinya bagus..

Nah sampai dihotel, istirahat sebentar, pak Tomi telpon, ngajak ke gereja, kalau sempat ikut misa. Kalau nggak sempat ya udah sekedar lihat saja.. Ternyata info yang diterima pak Tomi kurang akurat, akhirnya kami tidak menemukan gereja yang dicari, sayang juga.. eh kali ini saya pikir hari ini saya naik taxi..jadi nggak perlu naik turun tangga… eh ternyata naik turun tangga juga  J

dark coco and omelette

Pasti Pada Kepengen Ya… Hmm, Emang Yummy!

Ternyata dari hasil pencarian gereja, kami justru nyampe di daerah Petalling, yaitu daerah Chinatown, meeting point kami dengan kelompok pak Agung. Kali ini saya tidak tergoda untuk belanja, meskipun barangnya murah-murah.. he he, jadi kasian , teman2 dan keluarga di Surabaya nggak dapat oleh2.. he he , lain kali deh…

Setelah selesai berbelanja, kami makan di Lai Foong Coffee Shop, di sini sebetulnya yang enak adalah kue tiaw dan fried hokkien prawn noodle, tapi sayangnya kalau malam tutup. Di coffee shop ini seperti pujasera, ada beberapa penjual makanan, Jadi kami memesan bihun goreng (bu Eva dan pak Suganda), mie hokkien( saya), nasi goreng (pak Agung dan pak Lukman), mie kuah (bu Natalia), ifumie ( pak Herie), nah saya lupa pak Tomi makan apa. Makanannya lumayan, terutama nasi gorengnya.. lagi2 kali ini makanannya berlebihan.. sayang..

Setelah itu kami pulang ke hotel. Pak Agung, pak Herie, bu Eva dan pak Suganda masih jalan2 ke KLCC.

Malamnya kita janjian untuk pagi2 sekali untuk ngantri untuk naik jembatan nya KLCC, skybridge..Kami semua penasaran karena menurut pak Tomi , beliau sudah pernah dua kali ngantri dan gagal.. jadi kali ini harus berhasil.

Perjalanan Hari KeTiga, Baca Di SINI! 

Hanya Beli E-Book Rp 100 Ribuan, Ke KL GRATIS

By Francisca

baru mendarat

Saat baru tiba di LCCT - Malaysia

Saya termasuk orang yang beruntung dalam hal undianJ, saya cukup sering mendapatkan hadiah undian, mulai dari mixer, kosmetik, uang sekolah gratis bagi anak, dan baru2 ini saya mendapatkan hadiah JALAN-JALAN GRATIS dari TravelHemat.com

Yang hebat sekali hadiah ini sama sekali tidak saya sangka2 dan hadiah jalan2 gratisnya untuk berdua! Ini yang menurut saya sangat hebat!! ( dan ternyata masih ada kehebatan lain, baca terus tulisan saya ini… )

Akhir January 2009, saya bingung karena akan berangkat ke Bangkok , namun belum punya bayangan mau nginap dimana, mau ke mana, pokoknya bingung.. Meskipun sebelumnya saya pernah ke Bangkok, tapi dalam rangka urusan kantor, dan nggak sempat jalan-jalan, dan semuanya tau beres. Dalam kebingungan itu saya mendapat informasi bahwa ada e-book yang memiliki info tentang jalan2 hemat ke spore –KL-Bangkok, langsung saya klik sana klik sini.. terbelilah sebuah e-book ttg jalan2 hemat ke spore-KL-BKK seharga 129.000,- 

Pertengahan February saya berangkat, berbekal pengetahuan yang saya peroleh dari e-book tersebut, juga dari klik sana sini di internet. Pesan hotel juga dari website di travelhemat, AGODA, dengan sedkiti nekat, karena pesan kan harus bayar.. nggak jelas bentuk hotelnya bagaimana, Cuma menerima sehelai voucher.. agak deg2an juga kalau2 nanti rewel pas masuk hotel.. namun setelah saya tanya Pak Agung.. sip, saya percaya, dan udah nggak usah dipikirin..

Eh, pas tanggal 15 February.. saya dapat sms dari pak Agung, disuruh klik travel hemat.. padahal saya di jalan, yah saya klik BB saya, tapi yah maklum BB kan mungil, jadi agak susah lihatnya, dan saya masih nggak ngeh kalau saya dapat hadiah…setelah saya buka computer dan komunikasi dengan pak Agung, baru saya sadar kalau saya dapat hadiah jalan-jalan GRATIS ke KL… Thanks GOD..

Hadiahnya ke KL, bersama suami (ini yang paling saya sukai), berangkat tgl 24 April, balik tanggal 26 April 2009. Segera kami mengirim fotocopy passport dll dll.. untuk keperluan pengurusan perjalanan.

Naik dan turun tangga di KL….  Hari pertama

Hari yang dinanti2 tiba juga, kami( saya dan suami) berangkat tanggal 23 April ke Jakarta. Tanggal 24 April pagi, jam 5 kami sudah di bandara, disamping excited juga nggak pingin telat.. sungkan nanti kalau gara2 kami terlambat membuat susah orang lain..ternyata saya datang lebih awal dibandingkan pak Agung, dan pak Herie (peserta dari Samarinda). Sedangkan Bu Eva dan Pak Suganda, juga nggak lama lagi muncul. Setelah berkenalan, pak Agung yang mengurus cek in, kami berbondong2 menuju loket bebas fiscal.. nah kalau cek in nya lancar, di sini antriannya lumayan.. Jadi bagi yang ingin bepergian ke LN, perlu diperhitungakan waktu untuk antri di loket bebas fiscal, loketnya nggak banyak, yang antri buanyakk.. dan perlu juga diperhatikan jangan lupa : foto copy paspor, fotocopy NPWP, dan foto copy KSK bagi mereka yang NPWP nya nunut kepala keluarga.

Sebetulnya saya sudah pernah 3 kali ke KL, yang pertama maret 1977(pas bulan madu),  yang kedua bersama suami dan adik saya sekitar tahun 2007 an (naik bis dari Singapore), dan tahun lalu bersama suami dan adik saya juga (naik mobil dari Singapore).

Untuk kunjungan pertama saya sudah lupa, karena udah lama banget, nah yang kedua dan ketiga bagi saya KL kok kurang asik ya, taxinya agak nakal, nggak mau pakai argo. Namun untuk yang keempat  ini saya memprediksi pasti akan lebih seru, karena banyak teman dan pak Agung sudah mention bahwa ini akan sedikit ada petualangan… ha ha ternyata benar2 petualangan..

Pertama, saya seumur umur nggak pernah naik pesawat ke KL.. jadi nggak pernah punya bayangan kalau bandara dan kotanya jauhhhh sekali.. untungnya transportasinya bagus, ada bus 30 menit sekali dan murah pula 9 ringgit ( kurang lebih 30 ribu), bandingkan dengan bis Damri di jkt, 15 ribu, tapi tempat kopernya nggak ada).

Selanjutnya biasanya saya kalau naik pesawat, ya kalau ke hotelnya naik taxi… nah kali ini kami naik monorail yang mesti naik turun tangga bawa koper pula… Benar2 petualangan yang mengasyikan.. pakai kesasar pula..sudah gitu udaranya sangat panas dan laparrr.. ha ha ha kalau saya ingat saat itu jadi heran.. kok kuat ya?

Kami landing di LCCT, hal pertama yang saya cari adalah peta, ternyata peta dan brosur2 tentang KL, tidak terlalu banyak, dan tidak selengkap Singapore..

Setelah perjuangan naik turun tangga ( oya cuma kami – saya dan suami—yang bawa koper , besar pula…, yang lain semua pakai back pack, atau koper  kecil L. Nah setelah tanya kanan tanya kiri, pakai GPS nya suami, tibalah kami semua di Hotel Prescott Inn, hotelnya lumayan, letaknya strategis, cukup bersih, hanya sayangnya ,meskipun ada banner besar di depan yang tulisannya FREE WI FI.. he he tapi emangnya free, karena wi fi nya nggak bisa dipakai ( saya juga sudah baca di Agoda, review dari customer sebelumnya, bahwa memang wi fi nya gak jalan.. perlu diprotes tuh pak Agung..)

Setelah cek in (pak agung belum bisa cek in, karena banyak tamu yang late check out..), kami pergi mencari sesuap nasi J lapar.. Pak agung mengatakan ada restoran Thai.. wah saya sudah senang, karena saya suka masakan Thai… Tapi pas kami ke sana, eh resto nya tutup.. akhirnya kami makan di resto Jepang, enak sih.. tapi menurut saya mahal.. Eman-eman lho pak Agung, mending makan di tempat lain, food court atau lainnya. Yah memangnya sih dibayarin pak Agung.. tapi kalau mahal ya eman2..

 

di jembatan

Foto Berdua Bersama Suami

Selesai makan, kami istirahat sebantar, setelah itu start lagi, kali ini hanya kami berenam, pak Tomi (JS. Wibisono) dan bu Natalia nggak ikut… Eh ternyata beliau2 ini berencana untuk spa… Wah nggak ajak2 nih J . Bu Eva mau beli kamera, jadi kami ke Sungai Wang ( pusat perbelanjaan) dengan naik monorail (semua biaya transport dibayar pak Agung lho… pokoknya benar2 jalan2 gratis), kalau nggak salah dari Medan Tuanku ke Imbi itu 1.5 Ringgit.

Di sana bu Eva beli kamera , kalau nggak salah merk Sony. Wah kamera  baru nih bu..Setelah itu kami makan malam. Wah makan malamnya enak  dan berlebihan pula… Kalau di Surabaya nih, sisanya sudah pasti saya bawa pulang pak Agung, terutama udangnya.  Menunya unik ada udang telur asin, tahu masak saus tiram, lalu ayam dalam pot, apalagi ya.. wah saya lupa. Dan lagi-lagi, makan malam ini juga gratis.. O ya teh tariknya juga enak banget…. Free refill lagi. Di rumah makan ini kami bertemu dengan pak Tomi dan bu Natalia yang baru selesai spa.

Tadi sebelum ke restoran, saya melihat ada café, namanya OLD TOWN COFFEE, ini merk kopi terkenal di Malaysia. ( Waktu tiba di bandara, di bagian kedatangan pada saat kami baru tiba, ada juga café ini, saya padahal sudah bercita2 ingin minum disini). Nah saya utarakan maksud saya, eh gayung bersambut, ternyata bu Eva juga penggemar kpoi.. dan sudah sampai taraf nyandu.. he he, jadi kami janjian, nanti setelah makan, kami mau ngopi disini… eh.. ternyaat habis makan, yang namanya perut sudah full sampai overload.. Terpaksa janji dibatalkan..

Kami lalu pulang ke hotel untuk istrirahat. Saya langsung tidur, karena kenyang dan capek…Entah teman2 yang lain mungkin masih ada yang keluar.

Ikuti Perjalanan Saya Hari Kedua di KL, KLIK DI SINI!

Catatan Perjalanan 3 Hari di Kuala Lumpur (2)

By JS. Wibisono

Foto Bareng di Batu Caves

Di Batu Caves

Hari ke II

Hari ini rombongan Pak Agung akan ke Genting Highlands, namun karena saya harus menjumpai rekan sejawat saya untuk mengambil obat obat yang telah saya pesan sebelumnya, kami tidak bisa ikut ke sana.

Kami menuju Petronas Twin Tower, sebagai meeting point dengan rekan saya tersebut.

Untuk Petronas, jalur yang dipakai adalah LRT Putra. Station Putra LRT ternyata juga tidak terlalu jauh dari hotel kami, sekitar 10 menit jalan kaki, menuju station Putra LRT DENG WANGI.

Perlu diketahui bahwa publik transportasi di KL, terdiri dari MONORAIL, LRT Star, dan LRT Putra Line, masing masing mempunyai jalur yang berbeda beda, yang sayangnya connecting sitenya tidak cukup banyak, sehingga harus ganti ganti stasion. Ini yang membuat saya selama ini tidak tertarik untuk menggunakan publik transportasi di KL. Ternyata kesempatan ini saya mendapat pelajaran untuk mencoba ke tiga tiga publik Transprotasi yang belum pernah saya pakai, walaupun sudah beberapa kali ke KL.

Dari Deng Wangi menjuju Petronas Cuma 5 menit dan langsung masuk ke dalam gedung menara Petronasnya. Setelah bertemu rekan, dan belanja kanan kiri, kami makan siang di restoran Secret Recipe yang ada di Petronas. Kami pesan THAI FRIED RICE, nasi goreng a la Thailand yang enak sekali, dihidangkan dengan 2 udang besar dan sop tom yam.

Kembali ke Hotel dan istirahat. Jam 17.00 Kami contact dengan bapak Lukman-Fransisca dan mengajak mereka ke St John Church. Kami pergi dengan 2 jenis publik trasnport yaitu LRT Star dan LT Putra, namun sayang, kami tidak berhasil menemukan tempat yang dituju. Akhirnya kami memutuskan untuk ke daerah Pecinan di Petaling Street, tempat meeting point dengan rombongan pak Agung yang kembali dari Genting Highlands.

Di tempat ini ternyata banyak dijual berbagai pernak pernik sovenir dengan harga sangat murah. Tak heran kalau tempat ini banyak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Ini juga salah satu tempat yang belum pernah saya datangi walaupun sudah beberapa kali ke KL. Pak Agung memang tahu tempat tempat yang menarik.

Sehabis belanja, kembali lagi kami ditraktir TravelHemat.com untuk makan di Kedai Kopi yang cukup terkenal di sana, dengan biaya yang cukup murah, dan makanan cukup enak.

Setelah makan, kami kembali ke Hotel untuk istirahat.

Hari ke III

Hari ini kami bersama sama pak Agung, sehingga cerita saya dan pak Agung kurang lebih sama.

Yang berbeda adalah, saat saat kepulangan, saya meminjam charger HP dari pak Lukman untuk Charge hp mengingat HP saya sudah Low Bat. Pas berangkat, ternyata saya kelupaan mengambil HP berikut chargernya. Saya baru teringat setelah berada di Monorail yang membawa kami ke KL Sentral. Akhirnya saya harus terpisah rombongan dan kembali ke hotel sendiri, dan menuju LCCT dengan istri berdua.

Beruntung kami masih dapat menjumpai rombongan pak Agung di LCCT untuk mengembalikan charger baterai.

Mission Accomplished

Mission Accomplished: Cita-Cita Naik SkyBridge Petronas Tower Akhirnya Terwujud Juga

KESAN Perjalanan:

  • Perjalanan dengan publik transport cukup menyenangkan.
  • Informasi harus didapat jauh hari sebelum tiba di tempat wisata.
  • E-book dari travelhemat merupakan salah satu sumber informasi yang sangat bermanfaat.
  • Tersesat, tidak dapat tempat wisata, merupakan bagian dari TRAVELING yang harus di nikmati dan dapat merupakan CERITA (KESAN) yang dapat dibagi untuk banyak orang, yang tidak bisa dijumpai bila kita menggunakan Jasa Tour dan Travel.
  • Naik taksi di Kuala Lumpur sebenarnya cukup murah, asal kita tahu di mana tempat membeli voucher. Sebaiknya membeli voucher taksi di konter2 resmi seperti di KL Sentral, Sunway Lagoon dan Berjaya Times Square.
  • Lain kali kepingin jalan lagi dengan rombongan Travel Hemat ke tempat tempat yang lebih Aneh.
  • Terima kasih kepada TRAVEL HEMAT yang telah memberi pelajaran kapada kami untuk traveling.

Catatan Perjalanan 3 Hari di Kuala Lumpur (1)

By JS. Wibisono

Makan Malam Terakhir di Petaling

JS. Wibisono (berdiri paling kiri) bersama istri + anggota rombongan lainnya

Pada awal tahun 2009, saya berencana untuk jalan jalan sekeluarga beserta teman ke Hongkong, dan pada waktu kami mencari informasi di Internet, kami menjumpai situs TravelHemat.com yang menjual e-book, tentang perjalanan ke Hongkong, Shenzen dan Macau .

Kamipun membeli e-book tersebut, dan didalam e-book, tersebut banyak sekali “MODAL” yang kami dapatkan untuk mengatur perjalanan kami.

Ternyata selain “MODAL” yang kami dapat, kami juga mendapat Hadiah lagi dari travel hemat, dimana kami memenangkan undian untuk Jalan Jalan ke Kuala Lumpur ala Travel Hemat.

Kuala Lumpur merupakan kota yang cukup saya sering datangin, > 2 X pertahun, kebanyakan karena ikut seminar dan transit. Pernah juga 1 kali bersama keluarga jalan jalan mengexplore Kuala Lumpur. Selama ini saya juga jalan sendiri di Kuala Lumpur. Namun selama ini saya jalan jalan, kebanyakan telah diarrange oleh pihak lain, kemana mana naik Travel Bus dan sebagainya.

Kali ini saya merasa tertarik untuk jalan jalan kembali ke KL ala Travel hemat, dimana kami diajarkan menggunakan public transport dan ke tempat tempat yang tidak umum.

Hari Ke I

Tgl 24 April, jam 06.00 weker telah membangunkan saya, yang kemudian saya mandi, berpakaian, dan bawa koper masuk mobil untuk menuju bandara. Sementara istri saya membangunkan anak anak dan menyiapkan sarapan, serta acara pamit pamit pada anak anak (biasa kalau punya anak anak). Saya sendiri berangkat dari rumah jam 06.15 Tiba di Bandara jam 06.25 (Cuma 10 menit), lalu masuk terminal, cek in menunggu 2 – 3 orang yang sudah antre di depan, urus bebas fiskal, dan beli airport tax. Jam 06.40 selesai, lalu saya menuju RS A tempat saya masih merawat 1 pasien, dan RS B tempat saya merawat 2 Pasien. Selesai visit 3 pasien di RS A dan B, saya pulang, jemput istri, dan masih sempat sarapan 10 sendok nasi bungkus yang telah dipersiapkan. Jam 07.25, kami berangkat menuju bandara kembali, langsung masuk ke terminal keberangkatan dan begitu masuk ruang tunggu, ternyata sudah langsung naik Kapal Terbang yang ETD 08.00

(Baru pertama kali ini saya melakukan begitu banyak hal penting dalam waktu 2 jam)

Biasanya AirAsia tidak memberi nomor tempat duduk, namun kali ini seat telah ditentukan dan ternyata nomor seat saya dan istri saya tidak berdekatan. Namun ternyata kali ini penerbangan AirAsia tidak full, sehingga setelah pesawat take off, kami bisa duduk berdekatan kembali. Ada beberapa kenalan di pesawat dan saling cerita, bahwa ternyata sekarang kita bisa melakukan WEB Check In 48 jam sebelum keberangkatan, sehingga kemungkinan duduk berdekatan lebih besar dibanding dengan check in di terminal keberangkatan. Pesawat AirAsia berangkat dari Medan on time jam 08.00, dan tiba di KL 10.00.

Sesampai di LCCT (terminal Air asia di KL), sembari menunggu rombongan lain, kami membeli kartu GSM perdana untuk nomor lokal di sana dengan biaya 8,8 RM, (termasuk 4 RM pulsa di dalamnya).

Kira kira 30 menit kami menunggu di LCCT, kami berjumpa dengan rombongan dari Jakarta yang terdiri dari Pak Agung, Pasangan Lukman-Sisca (Surabaya), Pasangan Suganda – Eva (Samarinda), dan Pak Heri (Samarinda).

Dengan SkyBus, kami berangkat dari LCCT menuju KL Sentral tempat terminal bus antar dan inter kota. Dalam SKY BUS, kami mendapat pelajaran baru lagi sbb : Tiket SKY Bus telah dibayar secara on line, namun kami tidak mengeprint halaman tersebut, karena biasanya cuma kode booking saja yang diperlukan. Oleh karenanya petugas meminta bukti bahwa sudah bayar, atau kena biaya 9 RM. Untung saya bawa laptop di mana dokumen tiket saya ada di dalamnya. Pada waktu saya buka laptop, akhirnya petugasnya malas nunggu dan percaya begitu saja.

Pelajaran untuk teman teman bahwa, bila telah bayar Sky Bus Online, tiket harus diprint agar dapat ditunjukkan buktinya, kalau tidak, bisa-bisa kita diminta untuk bayar 2X.

Jam 12.30 kami tiba di KL Sentral, dan pak Agung membeli tiket Monorail (public transport) menuju Station Medan Tuanku. Dari KL Sentral harus jalan kaki sekitar 500 meter menuju monorail, berhubung adanya perbaikan terminal KL Sentral. Adapun Terminal Monorail di KL tidak dilengkapi oleh excalator, sehingga bagasi harus ditenteng untuk naik ke atas.

Perjalanan dnegan Monorail cukup menyenangkan dan cepat 20 menit, kami sampai di terminal Medan Tuanku, dan turun dari terminal di trotoar, kembali lagi harus mengangkat koper karena tidak adanya escalator.

Sesampai di pintu keluar Terminal kami sempat salah arah menuju arah yang berlawanan sekitar 500 m, namun karena adanya GPS yang dibawa bapak Lukman, dan nanya penduduk lokal, kami pun berbalik arah. Ternyata Hotel Prescott Inn cuma 3 menit jalan kaki dari pintu keluar terminal Medan Tuanku.

Hotel tidak terlalu besar, namun cukup nyaman, dengan fasilitas yang cukup bagus. Point yang paling penting dari hotel ini adalah SANGAT STRATEGIS ke mana mana.

Setelah cek in, kami menuju pusat perbelanjaan yang terletak 100 m dari Hotel, dan di sana kami makan makanan Jepang yang cukup enak dan tidak terlalu mahal. Kami makan dengan lahap, karena sudah lapar dan capai.

Setelah makan, pak Agung membayar dengan kredit cardnya. Dan Setelah makan saya bertanya kepada pak Agung, bagaimana pembagian biaya makannya , karena dalam itinerary yang ada, makanan merupakan cost yang ditanggung oleh peserta travel sendiri. Jawaban pak Agung : “Sudah, semua merupakan servis dari Travel Hemat”. Wahhhh, sudah dapat tiket, penginapan, transportasi, kali ini dapat makan gratisssss lagi. Bukan masalah costnya, namun perhatian pak Agung kepada kami sangat bagus.

Tiket Gratis Tapi Langka

Tiket GRATIS Namun Langka! Patut Diperjuangkan!

Sehabis makan, kami kembali ke hotel untuk istirahat. Dalam hotel ada brosur untuk SPA, dan kami kepingin untuk SPA dan setelah menghubungi via telefon dengan beberapa SPA, kami membuat appointment di THAI SPA daerah Bukit Bintang, dengan pemikiran bahwa tempat tersebut dapat dituju dengan monorail dari stasion Medan Tuanku.

Jam 17.40 kami berdua ke stasion Medan Tuanku, dan tiba di daerah Bukit Bintang sekitar 17.50. Kami berjalan kaki sekitar 5 menit, untuk menuju tempat di mana THAI SPA berada. Kedatangan kami ternyata telah ditunggu, karena kami telah buat appointment sebelumnya.

Thai Massage cukup lumayan dan tidak terlalu mahal, karena tempat ini baru buka, dan ada discound 30 %. Untuk Thai Massage berdua di ruangan VIP, kami cuma dikenakan biaya 105 RM.

Setelah SPA, kami kontak dengan rombongan pak Agung, ternyata mereka juga di daerah Bukit Bintang sedang makan malam. Kami menyusul ke sana dan bergabung dengan rombongan yang ada. Setelah dinner kami ke Mal Berjaya Times Square, dan berwindow shopping sampai jam 21.00. Akhirnya, dengan Monorail yang terletak pas di depan Berjaya Times Square, kami kembali ke Station Medan Tuanku yang letaknya dekat dengan hotel.

Sesampai di hotel, kami mencoba untuk membuka internet, karena dikatakan Free Wifi, ternyata jaringannya sangat jelek, sehingga tidak bisa melakukan koneksi internet.

Baca kelanjutannya di Bagian ke II

E-book TravelHemat membawaku ke KUALA LUMPUR dengan GRATIS!

By Eva Kumara - Samarinda

Trio Borneo in Cable Car to Genting

Eva, Herie dan Suganda di Cable Car Menuju Genting Higlands

Perjalanan yang luar biasa! Inilah komentar saya. Ini perjalanan yang istimewa, karena saya bersama suami bisa melakukannya dengan GRATIS!

Ya, awalnya banyak yang tidak percaya, tapi TRAVEL HEMAT memberikan peluang besar untuk jalan-jalan ke luar negeri secara Gratis. Kenapa travel hemat menjadi pilihan luar biasa? Travel hemat memang patut di beri acungan jempol, memberikan pengalaman berharga, untuk kita.

Bagaimana ceritanya aku bisa wisata Gratis?

Awalnya aku membeli sebuah ebook berjudul TravelHemat. Meski ada kesempatan untuk bisa mencari penghasilan tambahan sebagai affiliatenya, aku membeli ebook travel hemat karena ingin mengetahui banyak hal, tentang negara luar, dan penasaran bagaimana ya bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan biaya hemat.

Ketika membaca ebook TravelHemat, aku jadi mengetahui banyak hal tentang tips & tricks untuk traveling dengan biaya murah yang dituliskan dalam ebook tersebut. Tentang berbagai rahasia tentang traveling ke luar negeri, sampai hal-hal kecil yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita tatkala kita berada di luar negeri. Misalnya tempat wisata apa saja yang harus dikunjungi, bagaimana menemukan barang murah tapi mewah, makanan apa saja yang khas pada kota yang dikunjungi, tempat-tempat yang rawan yang mesti dihindari, juga tips-tips berpenghasilan dari dunia traveling. Ebook TravelHemat memang luar biasa. Kita bisa mewujudkan impian kita ke luar negeri dengan ebook travel hemat.

Perjalanan ke luar negeri ternyata tidak rumit, tidak perlu harus punya uang

banyak atau kaya dulu. Salah kalau ada yang berkata ” Pasti orang kaya, makanya

bisa keluar negeri”.

Maaf, hal ini salah banget deh, Perjalanan ke luar negeri justru lebih murah dibanding kita jalan-jalan di dalam negeri sendiri. Bahkan, berbelanja di luar negeri dan dalam negeri justru lebih mahal dalam negeri. Ini sudah kubuktikan sendiri. Setelah mambaca ebook travelhemat, aku langsung mempraktekkannya.

Memang untuk mempelajari traveling secara hemat bukan cuma butuh waktu, tapi juga

strategi gimana supaya menjadi backpacker sejati.

Pertanyaan yang selalu ditanyakan kepadaku kebanyakan seperti ini.

1. berapa uang yang dihabiskan untuk travelling ke luar negeri. Jawabnya: MURAH – MUDAH – MERIAH!

2. Apa saja yang perlu disiapkan disetiap perjalanan? Yang perlu disiapin tuh pasport, NPWP (biar nggak usah pake bayar fiskal), TIKET PP, copy kartu keluarga (kalo bepergiannya suami istri & keluarga), photo copy pasport.

3. Sulit dan Ribet ga ya kalau udah sampai ke Luar negeri? Kalo pake panduan dari TravelHemat sih, rasanya nggak akan ada kesulitan yang bakal dihadapi.

« Previous Entries